Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Penyakit Mental Di Fase Serius, Negara Lengah?

348
×

Penyakit Mental Di Fase Serius, Negara Lengah?

Sebarkan artikel ini
Ina Febri Anti (Aktivis Muslimah)
Ina Febri Anti (Aktivis Muslimah)

OPINI—Kesehatan mental (Mental Health) kini menjadi masalah serius dan tidak bisa di pandang remeh. Menurut Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2024, menyatakan bahwa sebesar 34,9 persen atau sekitar 15,5 juta remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Disway.id, (21-02-2025)

Penggunaan media sosial yang berlebihan menjadi salah satu faktor penyebab munculnya penyakit mental. Banyak remaja yang bergantung pada media sosial cenderung menutup diri dan terisolasi dari lingkungan sosial.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Mereka sering mengidap kecemasan dan kurang percaya diri, karena kepercayaan diri mereka ditentukan oleh standar media sosial. Mirisnya lagi Ketua Tim Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia menyatakan sebanyak 88,99% anak yang berusia lima tahun keatas telah menggunakan internet untuk bermedia sosial. Kompas.com, (21-02-2025)

Banyaknya remaja yang mengalami penyakit mental mengindikasikan gagalnya negara dalam membina generasi. Generasi emas 2045 nyaris mustahil terwujud jika tidak di tangani secara serius dan terus dibiarkan.

Terlebih penyakit mental umumnya hanya dapat diidentifikasi melalui gejala yang muncul dan terdapat tingkat keparahan, mulai dari gangguan ringan hingga sedang, seperti gangguan emosional, hingga kondisi yang lebih serius yang dapat menimbulkan ancaman.

Salah satu yang paling berbahaya adalah mental illness, karena pengidap bisa membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain (menjadi psikopat). Sehingga, kesehatan mental tidak bisa dipandang sebelah mata.

Masalah ini berakar dari sistem Kapitalis sekularisme menjadi asas kehidupan di negeri ini. Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, artinya sekularisme menempatkan agama hanya menjadi urusan pribadi, sedangkan wilayah kehidupan publik yang demikian luas dan kompleks justru meniadakan agama.

Akibatnya apa? Muncullah aturan yang sekuler, yaitu aturan yang dibuat semata berdasarkan otak, tanpa mempertimbangkan aspek ruhiyah (agama).

Kapitalisme mengubah standar kebahagiaan manusia menjadi sekuler, mulai kekayaan, ketenaran, bahkan tolak ukur pendidikan, semuanya semata didasarkan pada asas manfaat (menghalalkan semuanya asalkan ada keuntungan) tanpa memperhitungkan aspek kejiwaan.

Dampaknya, jiwa manusia menjadi rapuh dan nihil nilai spiritual. Manusia menjadi emosional, mudah marah, melakukan kekerasan sebagai pelampiasan emosi, menyakiti diri sendiri, bahkan bunuh diri.

Kapitalisme sekularisme juga menyebabkan hubungan antarmanusia dipenuhi oleh persaingan, seperti dalam hal prestasi sekolah, capaian karier, harta, popularitas, dan lain sebagainya. Penerapan sistem ekonomi kapitalisme mengakibatkan kesulitan ekonomi. Disisi lain, media sosial deras budaya pamer yang menjadikan kenyataan dan tontonan telah menyebabkan tekanan jiwa.

Berbeda dengan Islam, negara di sistem Islam memiliki peran penting sebagai pelindung keamanan warganya dengan menciptakan lingkungan mental yang kondusif. Hal ini meliputi penyediaan pemahaman serta pengetahuan mengenai sikap mental yang sehat, penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas yang dapat mendukung kesehatan mental, serta pembiayaan program-program rehabilitasi mental. Contoh penting dapat ditemukan dalam sejarah peradaban Islam.

Kesehatan mental pada masa peradaban Islam menjadi perhatian serius bagi negara. Banyak ilmuwan Muslim pada era Abbasiyah yang mengkaji isu-isu terkait kesehatan mental. Bahkan, pada tahun 705 M dinasti Abbasiyah mendirikan rumah sakit yang dilengkapi dengan bangsal khusus untuk penderita gangguan jiwa.

Dinasti Abbasiyah mengambil berbagai langkah signifikan untuk menangani masalah kesehatan mental, salah satunya dengan mendirikan rumah sakit dan bangsal khusus bagi penderita penyakit jiwa di Baghdad.

Disisi lain, keluarga juga memiliki peranan sangat penting untuk membentuk anak agar memiliki mental yang kuat. Selain itu, keluarga juga menjadi tempat anak-anak untuk mendapatkan perlindungan, kasih sayang, kenyamanan, keamanan, dan ketenteraman.

Selain itu, Islam mewajibkan negara membangun sistem pendidikan yang berasas aqidah Islam. Agar setiap individu muslim memiliki kepribadian Islam yang menjadikan Islam sebagai solusi di segala persoalan. Dalam pendidikan Islam, aspek yang perlu dibangun dengan kokoh sejak dini adalah akidah.

Fondasi akidah yang kuat akan menghasilkan individu Muslim yang memiliki pola pikir dan sikap yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Dari pola pikir dan sikap yang islami ini, akan muncul sosok Muslim yang tanggung dan bermental kuat, cerdas, dan memiliki akhlak yang mulia.

Sistem pendidikan Islam juga akan mendidik generasi untuk bisa bersikap terhadap kemajuan teknologi informasi digital. Mereka nantinya akan bisa memfilter dirinya sendiri dari segala hal yang maksiat dan mereka juga akan menjadi pengelola informasi digital untuk kemajuan dan kemaslahatan masyarakat.

Jadi, negara akan menetapkan kebijakan untuk mengatur penyebaran informasi di media sosial sehingga informasi yang disampaikan dapat memberikan ilmu pengetahuan dan menjauhkan remaja dari segala pemikiran yang bertentangan dengan Islam, bukan informasi yang menimbulkan kerusakan (seperti konten pamer, pornografi, kejahatan, penipuan dan lain sebagainya). Wallahu ‘alam bisshawab. (*)

 

Penulis: Ina Febri Anti (Aktivis Muslimah)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!