Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Menggalang Kekuatan Global untuk Membebaskan Palestina

591
×

Menggalang Kekuatan Global untuk Membebaskan Palestina

Sebarkan artikel ini
Dian Nursyafitri, S.H.
Dian Nursyafitri, S.H. (Penulis)

OPINI—Penderitaan rakyat Gaza tak kunjung berakhir. Penjajah Zionis semakin brutal, melampaui batas kemanusiaan. Baru-baru ini, serangan udara Israel kembali menargetkan kamp pengungsian di Gaza, menewaskan sedikitnya 29 warga sipil, termasuk seorang anak (3 Mei 2025). Sumber medis melaporkan bahwa beberapa korban ditemukan dari bawah reruntuhan rumah keluarga Al-Bayram di Khan Younis.

Tidak berhenti di situ, pada 5 Mei 2025, serangan lanjutan Israel menewaskan sedikitnya 20 warga Palestina. Sementara itu, serangan udara Israel juga menghantam Bandara Internasional Sanaa di Yaman, menewaskan tiga orang dan merusak infrastruktur penting hingga membuat bandara tidak dapat beroperasi.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Palang Merah Palestina dan pertahanan sipil setempat menyerukan penyelidikan internasional independen atas pembunuhan 15 tenaga medis di Gaza Selatan (23 Maret 2025), menyebutnya sebagai kejahatan perang.

Serangan Israel bahkan menargetkan jurnalis. Fatima, seorang jurnalis foto, tewas bersama tujuh anggota keluarganya di kediaman mereka di Kota Gaza. Ia dikenal karena tulisan-tulisannya yang menyentuh sebagai bentuk dukungan bagi Gaza.

Pemboman juga menghantam sebuah sekolah yang menjadi tempat pengungsian. Kebakaran hebat yang terjadi menghanguskan jasad 17 warga sipil. “Sejak dini hari, kami menemukan korban dalam kondisi mengenaskan,” kata juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmoud Bassal (23 April 2025).

Blokade Israel sejak 2 Maret telah memperparah krisis pangan di Gaza. PBB melalui World Food Programme (WFP) memperingatkan bahwa Gaza berada di ambang bencana kemanusiaan. Persediaan pangan menipis drastis, penderitaan warga kian tak tertanggungkan.

Sistem Kapitalisme: Akar Masalah Palestina

Kini, warga Palestina benar-benar di ambang kehancuran akibat serangan udara dan darat Israel. Jumlah korban tewas melebihi 46.000 jiwa, dari total penduduk Gaza yang berjumlah sekitar 2,3 juta sebelum perang.

Akar penderitaan ini terletak pada sistem kapitalisme global, yang memberikan ruang bagi penjajahan dan mendukung dominasi negara-negara kuat atas yang lemah. Sistem sekuler-kapitalisme telah memelihara konflik demi ambisi dan keuntungan. Dalam sistem ini, tidak ada jaminan perlindungan hak asasi bagi rakyat Palestina.

Kapitalisme juga melahirkan nasionalisme, paham yang memecah belah umat Islam. Nasionalisme menjadi tembok penghalang bagi bersatunya kaum Muslim sedunia. Melalui batas-batas nasional yang diwariskan oleh penjajah, umat Islam terpecah dan tidak mampu bangkit menghadapi kedigdayaan kekuatan global, terutama Barat yang menjadi motor kapitalisme dunia.

Pembebasan Palestina tidak akan mungkin terwujud melalui sistem kapitalisme. Umat Islam tidak akan bersatu selama masih terbelenggu nasionalisme. Dalam Online Khilafah Conference (9 Februari 2025), disebutkan bahwa nasionalisme adalah biang keladi kematian dan kehancuran di Gaza karena ia membuat Palestina terpisah dari umat Islam lainnya.

Oleh karena itu, umat Islam harus mencampakkan nasionalisme dan menyadari bahwa solusi sejati hanya ada dalam persatuan umat di bawah kepemimpinan Islam global: Daulah Khilafah, yang menjadi pelindung bagi seluruh kaum Muslim.

Jihad Sebagai Solusi Islam

Allah memerintahkan umat Islam untuk saling tolong-menolong. Rasulullah SAW pun mengibaratkan umat Islam seperti satu tubuh; jika satu bagian tubuh sakit, maka seluruh tubuh merasakan sakitnya.

Namun, ketika umat terpecah oleh nasionalisme, bagian tubuh itu tak lagi mampu menolong yang lain. Inilah yang terjadi sekarang: umat Islam seolah lumpuh dan tak mampu memberikan perlindungan terhadap Gaza.

Solusi Islam terhadap agresi seperti ini bukanlah diplomasi kosong atau retorika belaka. Solusinya adalah jihad fi sabilillah—penggunaan kekuatan militer untuk melindungi wilayah dan rakyat yang terzalimi. Allah berfirman:

وَإِنِ ٱسْتَنصَرُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ فَعَلَيْكُمُ ٱلنَّصْرُ

Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan.” (TQS. al-Anfal [8]: 72)

Sayangnya, para pemimpin negeri-negeri Muslim justru memilih diam. Mereka menutup pintu perbatasan, membiarkan Gaza terisolasi, dan enggan mengerahkan kekuatan militer mereka. Ribuan tank, jet tempur, dan pasukan hanya disimpan di barak. Sungguh, sikap ini menunjukkan ketidakpedulian bahkan pembiaran atas genosida yang terjadi.

Rasulullah SAW bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. an-Nasa’i dan Tirmidzi)

Penderitaan di Gaza menjadi bukti nyata bahwa umat Islam lemah tanpa kekuatan politik yang menaungi dan melindungi. Maka, solusi yang hakiki adalah terwujudnya kembali Daulah Islam, satu kepemimpinan yang akan melindungi Palestina dan mengusir entitas Zionis dari tanah suci tersebut.

Dengan tegaknya kepemimpinan Islam global, maka masalah umat—termasuk Palestina—akan terselesaikan, dan kehidupan Islam dapat berlangsung kembali. (*)

Wallahu a’lam bisshawab.

 

Penulis: Dian Nursyafitri, S.H.

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!