Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Kemuliaan Umat Hanya Terwujud dengan Tegaknya Khilafah

899
×

Kemuliaan Umat Hanya Terwujud dengan Tegaknya Khilafah

Sebarkan artikel ini
Kemuliaan Umat Hanya Terwujud dengan Tegaknya Khilafah
Nurul Hakim Lamaranginang (Aktivis Muslimah)

OPINI—Bom nuklir untuk Jalur Gaza diserukan oleh anggota Kongres Amerika Serikat (AS) Randy Fine dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis (23/5/2025). Dia membandingkan Gaza dengan kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang yang pernah dijatuhi bom atom oleh AS pada akhir perang dunia II.

Serangan bom nuklir tersebut menewaskan sekitar 215.000 orang dalam beberapa bulan pertama (berisatu.com). Ia mengatakan, “Satu-satunya akhir dari konflik ini adalah penyerahan diri sepenuhnya oleh mereka yang mendukung teror muslim.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Dalam Perang Dunia II, kami tidak menegosiasikan penyerahan diri dengan Nazi, kami tidak menegosiasikan penyerahan diri dengan Jepang. Kita mengebom Jepang dua kali untuk mendapatkan penyerahan tanpa syarat. Itu juga yang harus terjadi disini (Gaza).”

Hamas mengecam keras dan menilai bahwa pernyataan dari politikus Partai Republik itu merupakan bentuk hasutan genosida terhadap rakyat Palestina. Selain itu, Hamas juga menyatakan bahwa seruan “biadab” itu tidak akan melemahkan perjuangan Palestina, tetapi justru mengungkapkan wajah asli Israel dan para pendukungnya. (mataram.antaranews.com).

Pernyataan Randy Fine bukan sekedar kontroversial, melainkan cermin nyata dari kebijakan yang tidak beretika, mencederai prinsip-prinsip dasar kemanusiaan, dan melanggar norma hukum Internasional.

Tindakan dan retorika seperti ini menunjukkan hakikat dari sebuah kebijakan luar negeri yang penuh keberpihakan dan minim empati terhadap penderitaan rakyat yang terjajah. Kekejaman yang selama ini dialami oleh warga sipil di Palestina (termasuk perempuan dan anak-anak) tidak bisa dibungkam hanya dengan framing politik atau narasi sepihak.

Penghinaan besar telah melanda umat Muslim melalui pernyataan keji dan bengis yang dilontarkan oleh pejabat publik tersebut. Lebih ironis lagi, sebagian besar pemimpin negara-negara Muslim justru memilih diam di tengah penderitaan luar biasa yang dialami oleh rakyat Gaza. Ketika nyawa umat Islam di Palestina melayang akibat serangan brutal, suara solidaritas yang semestinya menggema dari dunia Islam justru nyaris tak terdengar.

Diamnya para pemimpin ini bukan tanpa alasan, banyak diantara mereka lebih memilih menjaga stabilitas kekuasaan dan hubungan diplomatik dengan sekutu-sekutu Israel ketimbang menunjukkan sikap tegas melawan penjajahan di muka bumi. Bahkan, dalam beberapa kasus, kerjasama ekonomi dan militer terus berlanjut meski agresi Israel terhadap Palestina semakin brutal  dan terang-terangan.

Hal ini adalah bentuk nyata dari pengkhianatan terhadap amanah keimanan dan kemanusiaan. Para pemimpin yang seharusnya menjadi pelindung umat justru tunduk pada kepentingan politik sempit dan tekanan internasional, maka yang lahir bukan hanya rasa sakit di Gaza, tetapi juga luka mendalam di hati umat Islam di seluruh dunia.

Tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza bukan sekadar konflik bersenjata atau benturan antarwilayah. Lebih dari itu, ia adalah cermin nyata gagalnya sistem global yang saat ini mengatur kehidupan manusia: sistem Kapitalisme Sekularisme. Sebuah sistem yang memisahkan peran agama dari kehidupan publik, dan menempatkan kepentingan materi dan kekuasaan di atas nilai keimanan dan kemanusiaan.

Sistem ini telah lama bercokol dan membentuk cara pandang dunia yang mengorbankan prinsip-prinsip keadilan dan kemuliaan manusia. Dalam kerangka Kapitalisme Sekuler, negara-negara besar berlomba-lomba menjaga dominasi politik dan ekonomi mereka, meski harus mengorbankan nyawa yang tidak berdosa.

Gaza hanyalah salah satu dari banyak titik luka di dunia yang menjadi korban logika kekuasaan yang dingin dan tidak berperasaan ini. Ketika bayi-bayi dibunuh, rumah sakit dibom, dan tempat ibadah dihancurkan, dunia hanya bisa mengeluarkan kecaman tanpa tindakan.

Sebab, sistem yang ada tidak dirancang untuk melindungi manusia, melainkan untuk melayani kepentingan segelintir elit global. Sistem ini akan terus menjaga pelaku pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang memiliki kekuasaan ekonomi dan politik.

Kapitalisme Sekuler telah mencabut nilai-nilai spiritual dari tatanan kehidupan. Ia menganggap agama sebagai urusan pribadi semata, sementara urusan publik termasuk politik luar negeri, ekonomi, dan hubungan internasional diserahkan sepenuhnya pada rasionalitas kering dan kalkulasi keuntungan. Maka tak heran, penderitaan rakyat Palestina dianggap hanya sebagai “dampak sampingan” dari strategi geopolitik.

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kemuliaan manusia. Dalam ajaran Islam, nyawa manusia dihargai dengan sangat tinggi, bahkan dalam kondisi perang sekalipun. Rasulullah saw. mengajarkan prinsip-prinsip perang yang sarat dengan nilai-nilai kemansuian, yakni tidak boleh membunuh anak-anak, perempuan, orang tua, atau merusak tempat ibadah dan fasilitas umum. Aturan perang dalam Islam bukan hanya menunjukkan keadilan, tetapi juga menunjukkan kasih sayang yang luar biasa, bahkan terhadap musuh sekalipun.

Ini adalah bukti nyata bahwa penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan bukanlah ancaman, tetapi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Islam hadir untuk menjaga jiwa, akal, kehormatan, harta, dan agama manusia. Dan hanya dengan penerapan Islam secara menyeluruh  (kaffah), kemuliaan manusia benar-benar dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Namun, kesadaran individu saja tidak cukup untuk menerapkan Islam secara kaffah. Umat Islam memerlukan sebuah gerakan kolektif, yakni sebuah perjuangan yang terorganisir dan dipimpin oleh kepemimpinan ideologis yang tulus serta istiqamah dalam menyuarakan dan memperjuangkan kebenaran. Kepemimpinan ini tidak hanya menyampaikan dakwah, tetapi juga menuntun umat menuju perubahan hakiki berdasarkan metode dakwah Rasulullah saw.

Karena itu, umat Islam harus menyambut dan mendukung seruan jamaah dakwah yang berpegang teguh pada manhaj kenabian. Sebuah jamaah yang menyerukan penerapan Islam secara menyeluruh dan konsisten dalam seluruh bidang kehidupan: politik, ekonomi, hukum, sosial, dan hubungan internasional. Inilah jalan untuk mewujudkan kemuliaan Islam dan mengembalikan peran umat sebagai umat terbaik yang menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Kemuliaan sejati hanya akan terwujud melalui Islam, dan Islam tidak akan tegak secara sempurna kecuali di bawah naungan sistem pemerintahan yang menerapkan syariah secara kaffah, yaitu Khilafah Rasyidah ala minhaj an-nubuwwah. Sebuah institusi kepemimpinan global yang bukan hanya mempersatukan umat Islam, tetapi juga menjadi pelindung bagi seluruh manusia dari kezaliman sistem dunia yang rusak ini.

Sudah saatnya bangkit, bukan hanya untuk membela Gaza atau Palestina, tetapi untuk membela Islam secara keseluruhan. Membela nilai-nilai yang membawa kemuliaan, keadilan, perdamaian sejati bagi seluruh umat manusia. (*)

 

Penulis: Nurul Hakim Lamaranginang (Aktivis Muslimah)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!