Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Kurikulum Cinta Kemenag Proyek Deradikalisasi Sejak Dini?

737
×

Kurikulum Cinta Kemenag Proyek Deradikalisasi Sejak Dini?

Sebarkan artikel ini
Nur Anisa Saleha
Nur Anisa Saleha (Penulis)

OPINI—Pendidikan seharusnya melahirkan generasi berkarakter kuat dan berdaya juang, bukan justru jadi alat percobaan yang setiap rezim bisa gonta-ganti sesuka hati. Namun faktanya, kurikulum di negeri ini tak ubahnya “laboratorium ideologi” yang terus dipermainkan.

Dari Kurikulum 1994, 2004, KTSP, K13, hingga Merdeka Belajar semuanya datang dengan jargon indah, tapi hasilnya? Literasi jeblok, moral generasi runtuh, bahkan kemampuan dasar membaca dan berhitung ikut ambruk. Sistem boleh berganti nama, tapi arahnya tetap satu: menjauhkan Islam dari kehidupan.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Indeks literasi tetap rendah, moral generasi kian terpuruk, bahkan masalah mendasar seperti membaca dan berhitung tak kunjung teratasi. Ibarat tubuh yang sakit parah, pendidikan kita terus diberi obat generik dengan label baru, padahal penyakitnya tetap sama: sekuler, pragmatis, dan jauh dari ruh Islam. Maka tak heran, meski setiap menteri datang membawa “warisan perubahan”, bangsa ini tetap berjalan di jalur yang salah.

Kini hadir lagi wajah baru, ditengah gemuruh kritik terhadap kurikulum yang gagal melahirkan generasi berakhlak dan berdaya, Kementerian Agama Republik Indonesia justru meluncurkan apa yang disebut sebagai Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

Dengan balutan bahasa yang manis—humanis, inklusif, spiritual—Kemenag menyuguhkan wajah baru pendidikan Islam yang konon penuh kelembutan. Namun, di balik senyum narasinya, sesungguhnya tersimpan agenda sistemik: deradikalisasi umat Islam sejak dini.

Kurikulum ini bukan hanya mengajak mencintai sesama, tapi lebih jauh lagi mengajarkan generasi Muslim untuk mencurigai ajaran Islam yang kaffah. Menghindari istilah syariat, alergi terhadap perjuangan politik Islam, dan menjauh dari mimpi besar umat: tegaknya kembali Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Mengapa Islam yang kaffah ditakuti? Mengapa cinta harus diletakkan berseberangan dengan komitmen pada hukum Allah?

Realitanya, Kurikulum Cinta adalah proyek lanjutan dari moderasi beragama yang terus digaungkan oleh negara-negara Barat melalui tangan kekuasaan Muslim sendiri. Ini bukan sekadar kurikulum, tapi sarana pembentukan mental tunduk kepada sistem sekuler global.

Anak-anak dididik untuk menyukai agama hanya sebatas ritual dan akhlak universal, tapi fobia ketika Islam mulai berbicara soal sistem, kekuasaan, atau ekonomi.

Di sisi lain, kita melihat kenyataan pahit yang menimpa negeri ini dan dunia Islam secara umum: moral generasi rusak, seks bebas merajalela, narkoba menghantui, krisis ekonomi berkepanjangan, ketimpangan sosial, korupsi berjamaah, dan umat tak berdaya menghadapi penjajahan modern.

Ironisnya, solusi-solusi sekuler terus dipaksakan meski telah nyata gagal. Maka, kurikulum semacam ini bukan menjawab masalah, tetapi justru memperdalam keterasingan umat dari akar solusi sejatinya: Islam.

Imam al-Ghazali pernah berkata, “Kehancuran umat bukan karena sedikitnya ilmu, tetapi karena hilangnya pemimpin yang membawa ilmu pada tempatnya.” Hari ini kita bukan sekadar kehilangan pemimpin, tapi juga arah pendidikan yang benar, karena telah dicabut dari akarnya: aqidah Islam.

Ibnu Taimiyah pun menegaskan bahwa “Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah fondasinya, kekuasaan adalah penjaganya. Maka apa yang tak punya fondasi akan runtuh, dan apa yang tak punya penjaga akan hilang.” Maka, membangun pendidikan tanpa menjadikannya bagian dari proyek peradaban Islam adalah omong kosong.

Sungguh, satu-satunya jalan untuk menyelesaikan problem pendidikan dan peradaban umat adalah dengan kembali menjadikan Islam sebagai asas kehidupan. Bukan sekadar pelajaran di kelas, tapi dasar dalam membuat kurikulum, menetapkan standar moral, hingga mengatur ekonomi, sosial, dan politik.

Islam tidak memisahkan cinta dari syariat. Dalam Islam, cinta kepada Allah justru diwujudkan dalam ketaatan total terhadap hukum-Nya. Pendidikan Islam harus mencetak generasi yang mengenal Rabb-nya, memahami misinya sebagai hamba dan khalifah, serta siap menjadi pejuang perubahan peradaban. Pendidikan yang mengokohkan akidah, mengasah akal dengan tsaqafah Islam, dan membentuk kepribadian Islam secara utuh.

Sudah saatnya umat mencampakkan solusi-solusi tambal sulam dari sistem sekuler. Sudah terlalu lama umat dibuai narasi-narasi damai tanpa keadilan, toleransi tanpa identitas. Bila kita ingin perubahan sejati, maka Islam—sebagai sistem hidup yang sempurna, harus diambil secara kaffah/keseluruhan.

Bukan sekadar sebagai agama pribadi, tapi sebagai aturan kehidupan yang mengatur negara, masyarakat, dan dunia. Bukan hanya di masjid dan pesantren, tapi di istana, parlemen, sekolah, hingga kebijakan publik.

Inilah makna firman Allah:
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan jangan ikuti langkah-langkah syaitan.” (QS. Al-Baqarah: 208)

Kurikulum cinta boleh saja dikemas dengan retorika manis. Tapi Islam tak butuh kemasan, karena ia adalah sistem yang sejatinya membawa cinta sejati—yang membebaskan manusia dari sistem rusak menuju petunjuk Allah yang hakiki. Mari kita rebut kembali arah pendidikan, arah peradaban, dan arah umat, dengan Islam sebagai satu-satunya solusi dari setiap akar permasalahan.

“Mereka hiasi pendidikan dengan kata cinta, tapi diam-diam membenci Islam yang menuntut perubahan dan membangunkan umat dari tidur panjang.” -al. (*)

 

Penulis: Nur Anisa Saleha

 

***

 

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!