Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Nasionalisme dan Negara Bangsa Menghalangi Perjuangan Membebaskan Palestina

429
×

Nasionalisme dan Negara Bangsa Menghalangi Perjuangan Membebaskan Palestina

Sebarkan artikel ini
Nasionalisme dan Negara Bangsa Menghalangi Perjuangan Membebaskan Palestina
ILUSTRASI

OPINI—Sejak lebih dari 75 tahun silam, bumi Palestina telah menjadi saksi kejahatan penjajahan paling brutal dalam sejarah modern. Masyarakatnya diusir dari tanah mereka sendiri, dibunuh tanpa rasa iba, dijajah terang-terangan di depan mata dunia yang hanya mampu melontarkan kutukan yang tak berarti.

Baru saja, kehadiran gerakan Global March To Gaza (GMtG) menunjukkan rasa marah umat Islam dan masyarakat global terhadap penjajahan oleh Zionis Israel.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Ratusan aktivis lintas negara mencoba menembus blokade Gaza melalui Gerbang Rafah di Mesir, namun dicegat, diusir, dan ditolak masuk oleh otoritas Mesir.

Fakta ini menambah daftar panjang ketidakberdayaan dunia Islam dalam membantu saudaranya sendiri di Palestina.

Mengapa Bisa Terjadi?

Pertanyaannya: Mengapa negeri-negeri Muslim, termasuk Mesir, justru menutup jalan bagi bantuan kemanusiaan untuk saudara mereka sendiri di Gaza? Jawabannya terletak pada dua kata: nasionalisme dan negara bangsa.

Nasionalisme adalah paham yang menempatkan loyalitas utama seseorang pada bangsa dan negaranya, bukan pada agamanya. Ia adalah warisan dari kekuasaan kolonial Eropa yang diterapkan di negara-negara Muslim setelah tumbangnya Khilafah Utsmaniyah.

Ide ini menciptakan garis-garis buatan yang memisahkan kaum Muslim menjadi kelompok-kelompok politik kecil yang lemah dan terpecah.

Konsep negara bangsa yang saat ini membuat negara-negara Muslim enggan memberikan bantuan nyata kepada Palestina. Mereka lebih fokus pada perlindungan “kedaulatan” wilayah dan “kepentingan nasional” masing-masing daripada menyelamatkan aqidah dan nyawa umat Islam yang telah terkorbankan di Gaza. Mereka lebih takut pada tekanan politik Amerika dan sekutu-sekutunya daripada takut kepada Allah.

Pandangan Islam

Dalam Islam, umat ini adalah satu kesatuan, “Umat yang satu”. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya: 92)

Rasulullah SAW juga menegaskan:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang dan kepedulian mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu bagian tubuh sakit, maka seluruh tubuh merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Islam tidak pernah mengakui batas-batas buatan penjajah. Islam menolak paham nasionalisme yang membelah umat. Umat Islam adalah satu tubuh, satu bangsa, dan satu kepemimpinan. Negara bangsa merupakan konstruksi yang diciptakan oleh kekuatan imperialis untuk menghancurkan Khilafah dan mempertahankan penjajahan di negara-negara Muslim.

Solusi Islam: Satukan Umat di Bawah Satu Kepemimpinan

Islam tidak hanya mengecam penjajahan, tetapi juga memberikan solusi nyata untuk membebaskan Palestina. Solusi itu adalah dengan menyatukan umat Islam di bawah satu kepemimpinan politik: Khilafah Islamiyah.

Dengan Khilafah:
Tidak akan ada batas-batas negara yang menghalangi bantuan.
Tentara Islam akan bergerak bukan sekadar sebagai “pasukan perdamaian”, tapi sebagai jundullah (tentara Allah) yang membebaskan kaum tertindas.
Umat Islam akan dipimpin oleh seorang Khalifah yang tulus, bukan boneka Barat.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.”
(HR. Muslim)

Khilafah adalah institusi politik Islam yang menyatukan umat, menerapkan syariat secara kaffah, dan menegakkan keadilan di muka bumi. Tanpanya, perjuangan Palestina akan terus dihambat oleh sekat negara dan nasionalisme buatan penjajah.

Pesan untuk Generasi Muda

Kita bukan generasi pasif. Kita adalah generasi digital, generasi sadar, generasi yang peduli. Tapi kepedulian tidak cukup. Kita butuh arah. Kita butuh narasi besar.

Jangan biarkan semangat nasionalisme dan cinta pada tanah air membuat kita melupakan bahwa kita merupakan bagian dari Umat Islam. Selain itu, kita juga memiliki tujuan yang lebih mulia yaitu membebaskan negara-negara yang terjajah dari penindasan. Maka bersatulah.

Bersatulah melampaui batas negara. Bersatulah melampaui identitas buatan. Bersatulah untuk Palestina. Bersatulah untuk Islam.

Hari ini, sudah saatnya umat Islam menyadari bahwa paham nasionalisme dan sistem negara bangsa adalah penghalang utama dalam membebaskan Palestina. Umat Islam harus meninggalkan sekat-sekat buatan itu, dan bersatu kembali di bawah satu bendera: Bendera Islam.

Hanya dengan persatuan yang hakiki dan kepemimpinan Islam yang kaffah, umat ini akan mampu membebaskan Palestina dan seluruh negeri Islam yang tertindas. Bukan dengan bergantung pada PBB, Liga Arab, atau lembaga kemanusiaan dunia yang terbukti hanya menjadi penonton tragedi kemanusiaan terbesar di abad ini. (*)


Penulis:
Nur Anisa Saleha
(Mahasiswi dan Aktivis Muslimah)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!