OPINI—Gelombang kasus bunuh diri kian menyeruak di negeri ini, meninggalkan luka yang mendalam sekaligus pertanyaan besar: mengapa generasi muda kita begitu rapuh menghadapi tekanan hidup?
Dari mahasiswa hingga dosen, dari remaja hingga pekerja, berita tragis tentang nyawa yang melayang justru semakin sering terdengar. Fenomena ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cermin nyata bahwa kesehatan mental bangsa sedang berada dalam fase darurat.
Realita Darurat Kesehatan Mental
Kasus bunuh diri kian merebak di beberapa kota besar di Indonesia. Seperti yang baru-baru terjadi, di Kota Makassar, 17 September 2025 mahasiswa berinisial VY (25) yang tewas gantung diri di dalam kamar indekos. Korban ditemukan tewas di kawasan indekos BTP, Kelurahan Buntusu, Kecamatan Tamalanrea oleh saksi bernama Rahmat yang tinggal tak jauh dari indekos tersebut.
Masih di kota yang sama, seorang mahasiswa di Makassar, BK (2) pada Agustus 2025 lalu ditemukan tewas gantung diri di jendela kamar kosnya oleh warga setempat. Dari keterangan yang diperoleh oleh pihak kepolisian, korban terakhir menelpon kekasihnya yang sedang berada di Toraja untuk menyuruhnya ke Makassar. Jika permintaannya tidak dituruti, dia mengancam akan bunuh diri.
Dan pada Juli lalu, dalam kurun waktu yang berdekatan yakni (11/7) dan (12/7) dua pria di Makassar ditemukan tewas bunuh diri di lokasi yang berbeda. Korban pertama berinisial HY, seorang dosen salah satu kampus negeri di Makassar dan korban kedua berinisial NTT. Diduga para korban nekat mengakhiri hidupnya sebab persoalan tekanan sosial juga sedikitnya ruang untuk berkonsultasi perihal masalah yang tengah dialami.
Kesehatan mental dimaknai sebagai kondisi atau keadaan batin seseorang yang berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga menyebabkan seseorang mampu menikmati aktivitas sehari-hari dan mampu berinteraksi dengan orang sekitar. Orang yang bermental sehat mampu mengelola potensi dalam dirinya secara maksimal serta mamu menjalin relasi yang positif dengan orang lain.
Sebaliknya, ketika seseorang mengalami gangguan pada mentalnya tentu akan memengaruhi suasana hati, kemampuan berpikir serta sulit mengendalikan emosional dalam dirinya. Yang pada akhirnya berujung pada perilaku buruk.
Fenomena beberapa kasus di atas dapat disimpulkan bahwa para korban sedang didera problem yang sama, yakni perihal gangguan kesehatan mental. Misal, permasalahan seorang pelajar atau mahasiswa saat ini tak lagi berkutat pada administrasi yang kadang dipersulit, namun juga gaya hidup serta pergaulan bebas yang makin hari makin tak terkendali.
Pun bagi para pekerja, persoalan tuntutan pekerjaan di kantor. Minimnya waktu istirahat karena sering lembur, tak sejalan dengan penghasilan yang seharusnya didapatkan. Apalagi jika sudah menikah, beban tentu bertambah, selain tuntutan di kantor, tuntutan keluarga pun tak dapat terhindarkan.
‘Dibalik’ Sistem Kapitalis-Sekulerism
Dikutip dari IDN Times Sulsel, Konselor Psikologis bernama Muhammad Wija Hadi Perdana mengungkap bahwa tindakan seseorang mengakhiri hidup tak hanya disebabkan karena faktor tunggal.
Beberapa faktor pendukung diantaranya ialah perasaan putus asa yang berkepanjangan, kehilangan makna hidup dan depresi berat. Hidup yang penuh tekanan disusul kurangnya dukungan pun turut menjadi penyebab utama seseorang memilih mengakhiri hidupnya.
Di tengah problem yang makin kompleks, minimnya wadah atau ruang bagi pengidap gangguan kesehatan mental juga turut menyita perhatian. Mirisnya, tak semua fasilitas kesehatan di Indonesia mempunyai layanan kesehatan mental. Hal ini disebabkan karena kurangnya SDM yang ahli di bidangya ditambah biaya konsultasi yang cukup tinggi.
Sungguh permasalahan hidup yang begitu kompleks. Realita yang terjadi saat ini sebenarnya tak begitu mengherankan, karena sistem kehidupan yang berlaku, khususnya di Indonesia sistem kapitalis-sekulerisme. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan.
Sistem yang justru melahirkan manusia-manusia bermental rapuh dan sulit memamahi tujuan hidupnya. Buktinya, semakin hari fenomena kasus bunuh diri yang disebabkan oleh mental yang bermasalah pula bertambah. Salah satu website menyebutkan bahwa setidaknya terdapat 2113 kasus bunuh diri dan 985 diantaranya berasal dari kalangan pemuda.
Sistem kapitalis membuat standar kehidupan terkikis, memaknai materi lebih tinggi dibandingkan ketenangan hidup. Mengagung-agungkan popularitas, kerupawanan, uang yang berlimpah yang dapat membawa ketenangan dalam kehidupan.
Belum lagi, legalnya perzinahan bermotif pacaran di kalangan pemuda membuat mereka krisis identitas, sulit menemukan tujuan hidup dan kurangnya ilmu agama. Di bidang pendidikan sendiri, baik pelajar atau mahasiswa hingga tenaga pendidiknya masing-masing memiliki problem.
Tidak dipungkiri media sosial turut andil dalam terganggunya kesehatan mental seseorang. Adanya hasrat membanding-bandingkan kehidupan, sering insecure karena melihat jejeran prestisi, dan budaya flexing kekayaan . Yang membuat seseorang sangat mudah terjebak dalam bayang-bayang dunia maya. Kalanhan pemuda khususnya Gen Z menjadi kelompok paling rawan, walau tidak dipungkiri juga terjadi di generasi lain.
Sistem Islam: Solusi Mutlak nan Tuntas
Jika ditelusuri lebih dalam, akar masalah kehidupan zaman ini terletak pada sistem yang tengah dijalankan saat ini. Sistem yang memisahkan peran agama dalam mengatur kehidupan atau yang sering disebut sistem kapitalis-sekuler. Islam dianggap ‘asing’ atau bahkan sebatas agama yang hanya mengatur urusan spiritual umanya.
Padahal, justru kehadiran Islam ialah sebuah sistem yang mengatur roda kehidupan dan mampu memberikan jaminan atas setiap persoalan yang ada. Termasuk persoalan kesehatan mental ini.
Oleh karena itu, solusi mutlak yang dapat menuntaskan persoalan gangguan kesehatan mental saat ini ialah dengan mengembalikan sistem Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupan. Sistem Islam mampu mengembalikan fitrah manusia, terutama bagi generasi muda sebagai tonggak peradaban umat. Karena sekali lagi Islam tak hanya sekadar agama, namun merupakan sebuah sistem yang pengaturannya terstruktur.
Misal, di sektor perekonomian negara wajib memfasilitasi warganya lapangan pekerjaan yang layak. Sumber daya alam dan sumber daya manusia dikelola dengan baik demi terwujudnya kemaslahatan. Dengan itu, terciptanya lingkup keluarga yang harmonis karena kebutuhan-kebutuhan dasarnya tercukupi.
Di sektor pendidikan, negara wajib bertanggung jawab penuh memberikan pendidikan yang berbasis akidah Islam di segala tingkatan, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini bertujuan untuk menciptakan generasi-generasi pelanjut yang berkepribadian dan berpikir Islam.
Di sektor sosial, Islam membatasi interaksi antara lelaki dan perempuan agar tidak mudah bercapur baur (ikhtilat) tanpa ada kepentingan syar’i. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah perzinahan dan maksiat agar tidak merajalela.
Di sektor media massa negara wajib membatasi dan menghilangkan konten-konten yang mendatangkan mudharat besar. Konten yang dikonsumsi juga menjadi faktor utama bagi kesehatan mental seseorang.
Di sektor kesehatan, negara wajib menjamin fasilitas kesehatan yang layak berupa metode pengobatan dan rumah sakit, tanpa membebankan biaya pada umat. Yang perlu dipahamkan kembali bahwa sistem Islam ialah sistem mengajarkan pandangan yang menyeluruh tentang kehidupan.
Setiap muslim yang bertakwa menyadari bahwa puncak ketenangan seorang muslim ialah keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Adapun kebahagiaan yang hakiki tidak ditemui di dunia, melainkan kelak di alam akhirat.
Untuk itu, membentuk kesadaran dan ketakwaan umat dalam sistem Islam adalah tujuan utama. Setiap individu muslim akan diberi ruang untuk beribadah dan mendekatkan diri dengan sang Khalik, Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sungguh, negara memiliki peran urgensi dalam menerapkan sistem dan memegang kendali urusan-urusan umatnya.
Hanya sistem islam yang menerapkan hukum-hukum yang mampu mengkondisikan individu secara mental agar nilai setiap perbuatannya terarah dalam rangka ketakwaan pada Allah. Sudah saatnya kita kembali pada sistem Islam yang paripurna. Dan ini akan terwujud jika seluruh umat muslim menyadari bahwa ketaatan dan ketakwaan pada Allah lebih penting dibandingkan perkara duniawi yang melenakan. (*)
Penulis: Hasri Ainun Nurfachri
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.










