JAKARTA—Dari tangan para perempuan penenun di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, kain tenun Dayak Iban kini melangkah ke panggung mode bergengsi Jakarta Fashion Week (JFW) 2026. Karya ini tampil memukau dalam pergelaran “LIMINAL” oleh Cita Tenun Indonesia (CTI), hasil kolaborasi dengan empat desainer ternama, salah satunya Wilsen Willim, Kamis 30 Oktober 2025.
Wilsen menampilkan 12 rancangan busana yang memadukan sentuhan modern dengan tenun Dayak Iban hasil pemberdayaan Yayasan Kawan Lama melalui program Aram Bekelala Tenun Iban. Program ini berfokus pada pelestarian warisan budaya sekaligus penguatan peran perempuan dalam komunitas lokal.
Program tersebut dijalankan di empat dusun di Kapuas Hulu, dengan fokus pada pelatihan teknik menenun, regenerasi penenun muda, serta pengembangan motif dan pewarna alami berbasis sumber daya lokal. Melalui upaya ini, keindahan tradisi menenun Dayak Iban dihidupkan kembali dengan semangat keberlanjutan.
Dalam koleksi “LIMINAL”, tenun Dayak Iban berpadu dengan material kontemporer untuk menghadirkan keseimbangan antara keanggunan tradisi dan kekuatan desain modern. Perpaduan ini menjadi simbol bagaimana budaya dan inovasi dapat berjalan berdampingan, membuat warisan leluhur tetap relevan di masa kini.
Ketua Pengurus Yayasan Kawan Lama, Tasya Widyakrisnadi, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bisa tumbuh seiring dengan inovasi.
“Melalui perpaduan kain tenun Dayak Iban dengan material kontemporer, kami ingin menegaskan bahwa tradisi dan modernitas dapat saling memperkaya,” ujarnya.
Ia menambahkan, di balik setiap helai tenun tersimpan kisah ketekunan para perempuan penenun yang menjaga nilai-nilai luhur sambil beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Kami ingin mewujudkan semangat pelestarian yang hidup, dinamis, dan bermakna bagi generasi kini dan mendatang,” lanjutnya.
Bagi Yayasan Kawan Lama, kehadiran karya ini di JFW bukanlah akhir, melainkan langkah lanjutan menuju kemandirian komunitas. Melalui pendekatan jangka panjang, yayasan ini terus memperkuat kapasitas penenun, mendorong regenerasi, serta memastikan pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Kolaborasi di JFW menjadi wujud nyata sinergi antara pemberdayaan masyarakat dan ekosistem kreatif nasional. Upaya ini membuka peluang ekonomi baru bagi komunitas penenun tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi sumber inspirasinya.
Sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan, hasil tenun dari program Aram Bekelala Tenun Iban juga akan tersedia di Pendopo, rumah bagi lebih dari 300 UMKM binaan Kawan Lama Group. Kehadiran Pendopo menjadi penghubung penting yang memastikan hasil karya penenun mendapat nilai ekonomi melalui akses pasar modern.
“Proses ini bukan sekadar menghasilkan kain yang indah, tetapi juga menenun kembali kepercayaan diri perempuan di baliknya,” tutup Tasya.
“Setiap helai tenun menyimpan cerita tentang ketekunan, kolaborasi, dan harapan akan masa depan yang lebih baik bagi komunitas dan dunia kreatif Indonesia,” pungkasnya. (*)











