Advertisement - Scroll ke atas
Opini

All Eyes On Sudan

890
×

All Eyes On Sudan

Sebarkan artikel ini
Ira Rahmatia (Aktivis Muslimah)
Ira Rahmatia (Aktivis Muslimah)

OPINI—Derita kaum muslim seolah tak kunjung sembuh. Palestina masih berdarah, namun berita tentang pembunuhan massal, pemerkosaan dan penculikan terjadi lagi di negeri muslim lainnya yakni Sudan.

Dilansir dari detiknews.com, sebanyak 2.000 warga sipil telah tewas hanya dalam waktu tiga hari. Pasukan RSF bahkan tega membunuh hampir semua orang di rumah sakit Al Saudi, baik pasien, tenaga medis maupun penjaga pasien.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Sebanyak 25 juta orang dihadapkan kelaparan, dan 14 juta orang jadi pengungsi. Organisasi internasional memperkirakan sebanyak 140.000 orang telah terenggut nyawanya. Hal ini menjadikan Sudan dengan krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Mereka tak memperoleh makanan dan air karena RSF menghalangi bantuan yang masuk. Sehingga disebutkan bahwa mereka hanya menunggu kematian akibat kelaparan, kehausan atau pembantaian dari RSF (31/10/2025).

Konflik berdarah sebenarnya pecah sejak April 2023, namun baru menjadi perhatian serius dunia setelah gencatan senjata di Gaza. Tentara RSF berhasil merebut wilayah El-Fasher, ibu kota negara bagian Darfur Utara dari tentara nasional Sudan. Lalu, siapakah tentara SRF tersebut dan apakah ada kepentingan lain dibalik konflik ini?

Sejarah SRF

Pada masa pemerintahan Omar al-Basir, untuk mengamankan posisinya sebagai penguasa di Sudan ia membentuk militer independen yang khusus berbakti untuknya yang bernama milisi Janjaweed yang kemudian hari berevolusi menjadi paramiliter RSF (Rappid Support Forces/Pasukan Dukungan Cepat).

Sebelumnya, sudah berdiri satu militer resmi yakni SAF (Sudan Army Forces) sehingga setelah RSF dibentuk terdapat dua militer dalam satu negara.

Namun rupanya di pada tahun 2019 militer tersebut bersepakat untuk menggulingkan Omar al-Basir bersama rakyat Sudan.

Setelah jatuhnya Omar al-Basir, terjadi kesepakatan antara pemimpin SAF dan RSF untuk terjun dalam perpolitikan. Jenderal Abdel Fattah al-Burhan (pemimpin SAF) sebagai Dewan Kedaulatan (badan kolektif) Sudan dan Jenderal Mohamed Hamden Dagalo (pemimpin RSF) sebagai Wakil Kedaulatan. Kemudian mereka bertikai karena ketidakcocokan bentuk pemerintahan transisi.

Hingga terjadilah perebutan kekuasaan yang menjadikan rakyat sebagai korban sebagaimana yang terjadi pada saat ini.

Kekayaan Sudan dan Perebutan Kekayaan Alam

Sudan bak permata di jantung Afrika. Negeri yang kaya akan sumber daya alam seperti emas, gas alam, minyak, mineral strategis (kromium, mangan, tembaga, besi, zink), air dan tanah yang sangat subur.

Sudan di kenal sebagai penghasil emas. Emas menyumbang 70% ekspor nasional cadangan Darfur. Sudan mencapai rekor produksi emas pada 2024 dengan total 64,4 ton, dan menghasilkan pendapatan pemerintah sekitar USD 1,6 miliar. (m.kumparan.com, 4/11/2025)

Pada sektor pertanian, World Economic Forum mengatakan Sudan sudah lama dipandang sebagai lumbung pangan masa depan bagi Timur Tengah, Afrika dan sekitarnya. Negara semisal UEA yang 90% kebutuhan pangannya impor, UEA berinvestasi pada lahan-lahan luar negeri demi menjamin ketahanan pangan jangka panjang.

Menurut laporan Europan Council on Foreign Relations, Uni Emirat Arab (UEA) diduga memiliki keterlibatan dalam konflik Sudan.

RSF menguasai sebagian besar perdagangan emas ilegal Sudan serta jalur darat menuju Laut Merah, wilayah yang menjadi incaran perusahaan logistik UEA seperti DP World dan AD Ports.

Dilansir dari Middle East Eye, Mohamed Hamden Dagalo memiliki hubungan dekat dengan pejabat Abu Dhabi dan menempatkan jaringan bisnisnya di Dubai. Dari sana, emas hasil tambang di Darfur kemudian di selundupkan ke pasar internasional (Tempo.com, 4/11/2025).

Adanya hasil penjualan emas inilah yang diduga RSF mendapat dukungan senjata dari UEA melalui Chad.

Adapun Rusia juga dikabarkan mendukung RSF melalui kelompok milisi seperti wagner group sebagai bagian dari pengaruh di Afrika.

Tak hanya RSF, SAF juga mendapat dukungan dari luar negeri yaitu Mesir dengan alasan stabilitas regional, kontrol aliran Nil dan kepentingan keamanan. Saudi pun juga dikaitkan mendukung SAF secara politik/ logistik sebagai bagian dari persaingan regional.

Dari fakta di atas, nyatanya kekayaan alam Sudan yang seharusnya menjadi kemakmuran bagi rakyatnya justru menjadi bahan bakar utama kezaliman yang terjadi hari ini.

Pembebasan Pemikiran Sebelum Pembebasan Wilayah

Sejak runtuhnya Daulah Utsmaniyah pada tahun 1924 M, negeri kaum muslim telah dibagi oleh barat menjadi 50 negara. Yang kemudian menjadi negeri-negeri kecil dan memahamkannya dengan paham nation state.

Adanya sekat nasionalisme ini yang akhirnya menjadi pemisah bagi kaum muslim. Masing-masing sibuk mengurus negerinya sendiri tanpa memikirkan urusan negeri lainnya.

Muslim Rohingnya, Palestina dan Sudan adalah saudara seiman yang membutuhkn pertolongan kita. Lemahnya kita saat ini karena kita terpecah belah.

Untuk itu, awal langkah untuk membebaskan negeri-negeri muslim dari keterpurukannya adalah mengarahkan diri pada persatuan umat dibawah satu pemerintahan Islam. Bukan bersatu pada ikatan yang rapuh seperti nasionalisme.

Untuk itu persatuan yang seharusnya kita perjuangan ialah persatuan yang berdiri di atas akidah, bukan kepentingan dunia. Negara yang menerapkan hukum Islam, menjadi perisai umat, dan berani melawan kedzaliman.

Tanah kaum muslim yang kaya akan sumber daya alam akan terus menjadi arena perebutan kekuasaan jika tak dikelola dengan bijak. Sebagaimana Sudan yang menyimpan kekayaan alam di bawah tanahnya, potensi ini hanya akan berkah jika di kelola di bawah naungan Daulah Islam. (*)

Wallahu a’lam bisshowab


Penulis:
Ira Rahmatia
(Aktivis Muslimah)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!