OPINI—Di era media sosial, parenting bukan lagi hanya urusan rumah tangga, tetapi telah berubah menjadi wacana publik. Setiap hari, orang tua disuguhi berbagai istilah baru: gentle parenting, mindful parenting, voc parenting, hingga positive parenting. Semuanya terdengar ilmiah, modern, dan seolah menjanjikan solusi terbaik bagi tumbuh kembang anak.
Namun, di balik maraknya istilah tersebut, muncul satu kegelisahan: apakah semua ini benar-benar lahir dari kajian ilmiah, atau sekadar tren yang dibungkus bahasa baru?
Banjir informasi parenting justru sering menimbulkan paradoks. Orang tua hari ini tidak kekurangan referensi, tetapi malah kebingungan memilih. Mereka ingin menjadi orang tua terbaik, namun terjebak dalam dilema, haruskah tegas, lembut, atau membebaskan anak sepenuhnya?
Akibatnya, sebagian orang tua bukan menjadi lebih percaya diri, melainkan semakin ragu terhadap keputusan mereka sendiri.
Jika ditarik ke dalam kajian ilmiah, sebagian besar penelitian tentang pengasuhan di Indonesia sejatinya masih merujuk pada tiga pola klasik: otoriter, permisif, dan otoritatif. Pola-pola ini juga dipengaruhi kuat oleh nilai agama, budaya, dan norma sosial yang telah lama hidup dalam keluarga Indonesia.
Menariknya, ketika istilah-istilah modern dibedah, isinya tidak jauh berbeda. Voc parenting, yang menekankan kontrol tinggi dan batasan ketat, pada dasarnya sejalan dengan pola asuh otoriter.
Gentle parenting dan mindful parenting justru memiliki kesamaan dengan pola asuh otoritatif atau demokratis, yang menyeimbangkan empati, komunikasi, dan aturan. Sementara gaya permisif tetap hadir dalam bentuk indulgent parenting yang terlalu membebaskan anak.
Artinya, yang berubah sesungguhnya bukan substansinya, melainkan kemasannya. Istilah boleh baru, tetapi prinsipnya tetap berpijak pada fondasi lama.
Masalahnya, banyak orang tua terjebak pada label. Mereka berlomba-lomba mengidentifikasi diri sebagai orang tua yang “gentle” atau “mindful”, tanpa benar-benar memahami esensi di baliknya. Padahal, parenting bukan soal mengikuti tren, melainkan soal kepekaan membaca kebutuhan anak dan konsistensi dalam mendampingi tumbuh kembang mereka.
Dalam praktik sehari-hari, pengasuhan tidak terjadi di seminar atau podcast, tetapi di meja makan, di kamar tidur, dan dalam percakapan sederhana saat anak sedang kecewa, marah, atau takut. Di situlah nilai sesungguhnya dari sebuah pola asuh diuji.
Seperti dikatakan Hong Soon-Boem:
“Pengasuhan anak adalah salah satu jenis kesenian dan orang tua adalah senimannya.”
Setiap anak adalah medium yang berbeda, dan setiap keluarga memiliki konteksnya sendiri. Tidak ada satu pola yang bisa dipaksakan secara seragam.
Karena itu, tantangan orang tua hari ini bukan memilih istilah paling populer, melainkan memahami prinsip dasarnya: bagaimana menggabungkan pengetahuan, empati, dan ketegasan dalam satu kesatuan yang utuh. Di tengah derasnya arus tren parenting, yang paling penting bukan terlihat modern, tetapi tetap relevan bagi kebutuhan anak dan nilai keluarga itu sendiri. (*)
Penulis:
Nur Almar Atussaliha
(Mahasiswi Universitas Islam Indonesia)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.








