Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Arogansi di Balik Konvoi Jenazah

478
×

Arogansi di Balik Konvoi Jenazah

Sebarkan artikel ini
Arogansi di Balik Konvoi Jenazah
Pengantar Jenazah. (Foto Ilustrasi)

OPINI—Kematian selalu membawa duka mendalam. Mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhir adalah bentuk penghormatan sekaligus solidaritas bagi keluarga yang ditinggalkan.

Di Makassar dan sekitarnya, tradisi prosesi pemakaman menghadirkan pemandangan khas: konvoi besar dengan puluhan hingga ratusan kendaraan, terutama sepeda motor, yang mengiringi mobil jenazah. Tujuannya mulia—memberikan dukungan moral dan mengawal perjalanan terakhir almarhum.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Namun tradisi ini kian menampakkan paradoks. Niat baik menghormati justru sering berubah menjadi gangguan di ruang publik. Konvoi pengantar jenazah menimbulkan dilema antara empati dan kewajiban menjaga ketertiban.

Pertanyaannya sederhana: benarkah penghormatan kepada yang wafat harus dilakukan dengan cara yang mengganggu sesama pengguna jalan?

Fakta di lapangan menunjukkan situasi yang meresahkan. Konvoi sering mengambil alih jalur secara paksa, memaksa kendaraan lain mengalah. Aksi berkendara berbahaya, suara knalpot memekakkan telinga, hingga pelanggaran aturan lalu lintas seakan menjadi wajar hanya karena dibungkus alasan duka.

Klaim “kedaruratan” yang disematkan pengiring seolah memberi mereka kuasa penuh atas jalan raya. Ironisnya, perilaku tersebut justru mengurangi sisi sakral dari prosesi pemakaman itu sendiri.

Dalam banyak kejadian, kelompok pengiring melaju tanpa kendali, seakan menguasai waktu dan ruang. Aktivitas ini berlangsung kapan saja—bahkan tengah malam—dengan menguasai seluruh lajur jalan seperti sedang merayakan pesta, bukan mengantar kepergian seseorang.

Yang tampak bukan kekhidmatan, melainkan dominasi. Mungkin bukan kehendak kolektif para pengiring, melainkan efek dari euforia kelompok yang keliru arah, rasa berkuasa di jalan, atau minimnya pengaturan. Tetapi dampaknya jelas: kemacetan meningkat, risiko kecelakaan bertambah, dan simpati masyarakat berubah menjadi kejengkelan.

Pada titik ini, kita perlu bertanya: sudahkah cara kita berduka mencerminkan nilai yang seharusnya?

Prosesi pemakaman idealnya berlangsung tenang dan tertib. Kecepatan dan penguasaan jalan bukan hal yang perlu diutamakan. Yang penting adalah doa yang tulus dan perjalanan yang aman.

Ketika tradisi ini justru menciptakan bahaya (baik bagi pengiring yang mengabaikan keselamatan maupun pengguna jalan lainnya) saatnya kita berhenti sejenak untuk refleksi. Ini bukan ajakan meninggalkan tradisi. Gotong royong dan solidaritas adalah kekuatan masyarakat kita. Tetapi solidaritas yang benar tidak boleh mengorbankan hak orang lain.

Sudah saatnya pola konvoi ini dievaluasi. Apakah jumlah massa sebesar itu benar-benar diperlukan? Jika iya, bagaimana memastikan keteraturannya? Pengawalan resmi atau keterlibatan aparat dapat menjadi solusi dibanding pengawalan spontan yang cenderung kacau.

Pada akhirnya, penghormatan tertinggi bagi almarhum bukanlah deru knalpot atau rombongan yang memenuhi jalan, melainkan doa yang ikhlas dan ketenangan bagi keluarga yang berduka.

Kini saatnya mengembalikan makna sejati dari berkabung—bukan membiarkannya tersisih oleh ego kelompok di jalan raya. Sebab kesedihan yang tulus semestinya menenteramkan, bukan menambah kegelisahan.

Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili institusi mana pun. (*)

Muhammad Farhan


Penulis:
Muhammad Farhan
(Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muslim Indonesia, Pengguna Jalan Raya Maros–Makassar)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!