Advertisement - Scroll ke atas
Wisata

Puncak Embun Malino: Di Antara Dingin, Kopi, dan Cerita Lama

252
×

Puncak Embun Malino: Di Antara Dingin, Kopi, dan Cerita Lama

Sebarkan artikel ini
Puncak Embun Malino: Di Antara Dingin, Kopi, dan Cerita Lama
Di Malino, dingin tidak hanya terasa di kulit. Ia meresap perlahan, menyelinap bersama embun yang turun di sela pepohonan pinus, menebarkan aroma tanah basah yang menenangkan.

GOWA—Di Malino, dingin tidak hanya terasa di kulit. Ia meresap perlahan, menyelinap bersama embun yang turun di sela pepohonan pinus, menebarkan aroma tanah basah yang menenangkan. Pagi di Puncak Embun selalu dimulai dengan senyap, seolah seluruh dataran tinggi ini menunggu siapa saja yang datang untuk menghirup udara segar yang tak pernah berubah sejak puluhan tahun lalu.

Di balik kabut tipis yang menggantung, hidup masyarakat yang menggantungkan harapannya pada tanah subur peninggalan letusan purba Gunung Bawakaraeng. Di lereng-lereng yang sejuk, para petani hortikultura mulai sibuk sejak matahari baru sebatas garis jingga. Mereka memanen kol, wortel, stroberi, hingga bawang daun—hasil bumi yang selama bertahun-tahun menjadi denyut kehidupan Malino.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

“Dingin begini malah bagus untuk sayur,” ujar Darma, seorang petani yang sejak kecil ikut ayahnya menggarap tanah di kawasan Pattapang. Setiap pagi, ia berjalan membawa keranjang ke kebun, ditemani asap tipis napasnya yang berkejaran dengan kabut. Di kebun yang basah oleh embun, ia menunduk, memotong, lalu menata hasil panen dengan gerakan yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Tak jauh dari sana, hamparan kebun teh peninggalan era kolonial menyimpan cerita lebih tua. Barisan daun teh yang rapi terpangkas itu seakan mencatat jejak generasi demi generasi pekerja pemetik teh yang hidup berdampingan dengan alam. Suara gunting pemetik yang ritmis menjadi musik pagi yang hanya dimengerti orang Malino.

“Di sini, teh bukan sekadar tanaman. Ia adalah sejarah,” kata Hasna, perempuan paruh baya yang tangannya tak pernah lepas dari keranjang teh di punggungnya.

Keindahan alam itu kemudian menarik mata para pejalan. Wisatawan datang dari Gowa, Makassar, hingga kota-kota lain, mengejar sensasi dingin yang tak ditemui di dataran rendah. Puncak Embun jadi persinggahan favorit untuk melihat matahari menembus kabut, membentuk semburat emas yang jatuh di antara pinus. Di titik itu, kamera-kamera wisatawan mulai berbunyi, sementara warung-warung kecil menyalakan kompor kayu mereka.

Aroma kopi robusta khas dataran tinggi perlahan memenuhi udara pagi. Para pemilik warung, kebanyakan warga sekitar, menyiapkan sajian hangat tanpa tergesa. Satu cangkir kopi, dua potong ubi rebus, dan cerita lama.
“Orang datang ke Malino bukan cuma mau lihat kabut. Mereka cari rasa tenang,” ucap Hj. Nur, pemilik warung yang berdiri sejak awal 2000-an. Warungnya kecil, tapi selalu penuh oleh wisatawan yang ingin menikmati panas kopi di tengah udara yang menusuk hidung.

Kuliner lokal pun menjadi bagian dari perjalanan wisata. Dari jagung bakar, sarabba, hingga beragam olahan hortikultura segar yang langsung dijajakan petani. Sore hari, ketika kabut mulai turun lagi, aroma makanan hangat menyatu dengan udara lembap, menciptakan rasa yang tak bisa ditiru di tempat lain.

Di sela geliat wisata, budaya masyarakat tetap terjaga. Kesederhanaan dan kebiasaan gotong-royong masih menjadi wajah keseharian. Anak-anak sekolah berjalan menembus dingin, warga membawa hasil bumi ke pasar Malino, sementara kelompok-kelompok kecil petani berkumpul di sudut kebun membicarakan cuaca dan panen.

Puncak Embun adalah ruang yang mempertemukan banyak hal: alam yang menyejukkan, cerita lama dari para pemetik teh, kepulan kopi hangat, hingga geliat ekonomi warga yang tumbuh bersama datangnya wisatawan. Di tempat ini, dingin bukan hambatan. Ia adalah identitas—yang dirawat, dinikmati, dan diwariskan.

Di antara kabut, kopi, dan cerita-cerita yang tak lekang waktu, Malino selalu punya cara membuat siapa pun ingin kembali. (Ag4ys)

Puncak Embun Malino: Di Antara Dingin, Kopi, dan Cerita Lama
Di Malino, dingin tidak hanya terasa di kulit. Ia meresap perlahan, menyelinap bersama embun yang turun di sela pepohonan pinus, menebarkan aroma tanah basah yang menenangkan.
error: Content is protected !!