Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Menjaga Hutan, Melindungi Masa Depan, Pelajaran dari Tesso Nilo dan Banjir Sumatra

658
×

Menjaga Hutan, Melindungi Masa Depan, Pelajaran dari Tesso Nilo dan Banjir Sumatra

Sebarkan artikel ini
Sri Nawang Andriyanti
Sri Nawang Andriyanti (Mahasiswi)

OPINI—Di tengah perhatian publik pada bencana banjir dan longsor di berbagai wilayah Sumatra akhir-akhir ini, peristiwa itu tak bisa dilepaskan dari realitas pengelolaan lingkungan dan hutan kita terutama kawasan yang dulu sempat mendapat sorotan internasional, yaitu Taman Nasional Tesso Nilo.

TNTN bukan sekadar “hutan” biasa, melainkan salah satu blok hutan dataran rendah terakhir di Sumatra. Namun sejak dekade lalu, kawasan ini sudah sering mengalami invasi, alih fungsi hutan, hingga deforestasi besar.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Beberapa tahun silam, aktor Hollywood dan aktivis lingkungan Harrison Ford mengejutkan publik ketika mengunjungi Tesso Nilo dalam rangka film dokumenter Years of Living Dangerously.

Ketika itu, cuplikan kondisi hutan yang rusak, jalur ilegal, kebun sawit masuk ke kawasan konservasi, dan lahan yang terbuka menjadi gambaran nyata betapa lemahnya penegakan hukum di wilayah yang seharusnya dilindungi. Ford bahkan secara langsung mempertanyakan kepada pejabat kehutanan: bagaimana mungkin hutan lindung bisa rusak dan dibiarkan begitu saja?

Namun nyatanya, bukannya membaik, deforestasi di Tesso Nilo terus berlangsung dari data satelit terbaru justru menunjukkan bahwa sekitar 78% hutan primer di TNTN hilang antara 2009–2023. Lahan yang semula menjadi habitat bagi harimau, gajah, dan ribuan spesies flora dan fauna kini terancam digantikan oleh kebun sawit ilegal, pemukiman, dan alih fungsi tak terkendali.

Data resmi terbaru menunjukkan bahwa pada 2024, Indonesia kehilangan sekitar 175.400 hektare hutan secara neto hasil deforestasi bruto seluas 216.200 hektare dikurangi reforestasi 40.800 hektare. Dari total kerusakan hutan ini, pulau seperti Kalimantan menyumbang angka deforestasi paling besar.

Di sisi lain, wilayah Sumatra yang kini menjadi episentrum bencana banjir dan longsor juga mencatat deforestasi tajam. Dalam periode 2023–2024 saja, deforestasi di beberapa provinsi Sumatra diklaim mencapai ratusan ribu hektare, membuat daerah-daerah tersebut makin rawan terhadap run-off air hujan, longsor, dan luapan sungai.

Kini, ketika banjir hebat melanda beberapa titik di Sumatra, banyak pihak menyorot ulang seberapa besar kontribusi kerusakan hutan terutama akibat aktivitas pertambangan dan perkebunan terhadap meningkatnya risiko alam. Pada titik ini, semua ingatan atas kasus Tesso Nilo dan dokumenter Ford kembali relevan. Karena bencana ekologis tak muncul tiba-tiba seringkali ia berakar dari keputusan manusia, terutama keputusan yang mengaburkan antara ekonomi jangka pendek dan keberlanjutan jangka panjang.

Tapi, ini bukan berarti kita harus menolak seluruh aktivitas pertambangan atau perkebunan. Realitas Indonesia: sumber daya alam terkadang adalah kenyataan hidup. Namun, keberadaannya harus dibarengi dengan tata kelola yang adil, transparan, dan menghormati ekologi serta masyarakat.

Pemerintah perlu memperkuat regulasi, penegakan hukum, dan pengawasan konsisten; perusahaan harus menegakkan prinsip-prinsip pertambangan ramah lingkungan dan reklamasi pasca tambang; dan masyarakat sipil termasuk generasi muda perlu terus mengawal, menyuarakan, serta menjaga akuntabilitas terhadap eksploitasi alam.

Tesso Nilo dan banjir Sumatra kini menjadi pengingat keras bahwa lingkungan bukan komoditas yang bisa dieksploitasi sesuka hati. Ia adalah warisan bersama, masa depan bersama sebuah tanggung jawab kolektif.

Kita bisa menambang, membuka lahan, maupun memproduksi komoditas, asalkan semua dilakukan dengan kesadaran bahwa setiap pohon yang tumbang, setiap habitat yang lenyap, berarti resiko yang bisa muncul kembali dalam bentuk banjir, longsor, dan punahnya keseimbangan alam.

Kalau kita serius menjaga alam bukan karena film dokumenter internasional, bukan karena sorotan media, tetapi karena kita peduli terhadap tanah air maka warisan lingkungan hari ini akan menjadi pelindung masa depan bagi generasi berikutnya. Karena, bumi ini bukan milik satu generasi, tetapi milik semua generasi. (*)


Penulis:
Sri Nawang Andriyanti
(Mahasiswi)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!