Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Menjadi Ibu Generasi Ideologis: Pilar Peradaban di Tengah Krisis Sistem Sekuler

381
×

Menjadi Ibu Generasi Ideologis: Pilar Peradaban di Tengah Krisis Sistem Sekuler

Sebarkan artikel ini
Ade Surya Ramayani
Ade Surya Ramayani (Pemerhati Sosial)

OPINI—Di tengah krisis multidimensi yang melanda umat—krisis moral, identitas, pendidikan, hingga kepemimpinan—peran ibu kembali menjadi sorotan utama. Sejarah peradaban membuktikan bahwa kebangkitan atau keruntuhan suatu umat sangat ditentukan oleh kualitas generasi yang dilahirkan dan dididik di dalam rumah. Dan di sanalah, sosok ibu memainkan peran sentral yang tidak tergantikan.

Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa peran ibu tidak dijalankan dalam ruang hampa. Ia berada di tengah sistem sekuler-kapitalistik yang tidak hanya abai terhadap nilai-nilai ilahiah, tetapi juga secara sistematis menggerus peran strategis ibu sebagai pendidik generasi.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Karena itu, menjadi Ibu Generasi Ideologis bukan sekadar pilihan personal, melainkan sebuah sikap peradaban.

Peran Ideal Ibu dalam Islam: Mencetak Generasi Pemimpin Visioner

Islam memandang ibu bukan sekadar pengasuh biologis, melainkan pendidik utama (al-ummu madrasatul ūlā) yang menentukan arah ideologis dan moral anak-anaknya. Peran ideal ibu dalam Islam mencakup beberapa dimensi strategis.

Pertama, mencetak generasi pemimpin dan penakluk peradaban—generasi yang tidak tunduk pada ketakutan duniawi, tidak silau oleh kekuasaan, dan tidak gentar oleh tekanan siapa pun, kecuali kepada Allah Swt. Generasi semacam ini adalah generasi yang memiliki visi hidup melampaui batas dunia, dengan orientasi akhirat sebagai tujuan tertinggi. Visi mereka “menembus langit”, bukan terjebak pada ambisi materialistik yang sempit.

Kedua, menjadi ibu generasi ideologis, yakni ibu yang menyatukan peran domestik dengan kewajiban dakwah. Kesadaran bahwa kehidupan diatur oleh ideologi tertentu membuat seorang ibu tidak netral dalam mendidik anak. Ia sadar bahwa anak-anaknya akan hidup dalam pertarungan ide dan sistem. Karena itu, ia menanamkan akidah Islam sebagai fondasi berpikir dan bersikap sejak dini.

Ketiga, kesadaran politik dalam makna ideologis, bukan praktis kekuasaan. Dengan kesadaran ini, seorang ibu mampu “memberi nyawa” pada perannya—bahwa mendidik anak bukan sekadar agar sukses secara individual, tetapi agar kelak mampu berkontribusi memimpin dan membela umat. Inilah yang menjadikan peran ibu sarat dengan cita-cita besar peradaban.

Sejarah Islam mencatat banyak contoh keberhasilan ibu dalam mendidik generasi unggul: ibu Imam Syafi’i yang mendidik dengan disiplin ilmu dan ketakwaan, ibu Shalahuddin al-Ayyubi yang menanamkan kecintaan pada jihad dan keadilan, serta para ibu sahabat yang melahirkan generasi pemimpin, ulama, dan mujahid. Mereka tidak hidup dalam sistem yang netral nilai, tetapi dalam atmosfer Islam yang menyeluruh.

Tantangan Peran Ibu dalam Sistem Sekuler

Peran ideal tersebut hari ini menghadapi tantangan serius akibat dominasi sistem sekuler dalam berbagai aspek kehidupan.

1. Serangan Pemikiran dan Budaya

Wacana kesetaraan gender versi liberal, HAM yang dilepaskan dari nilai wahyu, serta moderasi beragama yang meminggirkan ajaran Islam dari ruang publik, telah menciptakan lingkungan yang merusak. Perempuan didorong untuk memaknai kebebasan sebagai pelepasan dari peran keibuan, dan pengabdian kepada keluarga dianggap penghambat aktualisasi diri.

Akibatnya, peran ibu direduksi menjadi pilihan individual, bukan amanah peradaban.

2. Serangan Dunia Digital

Ruang digital hari ini menjadi tantangan besar bagi ibu. Arus konten yang tidak terkontrol—pornografi, kekerasan, gaya hidup liberal, hingga distorsi nilai agama—masuk ke ruang keluarga tanpa sekat. Di sisi lain, ibu sering kali tidak dipersiapkan secara sistematis untuk menghadapi tantangan ini, baik melalui pendidikan maupun kebijakan negara.

3. Beban Kapitalisme terhadap Perempuan

Sistem ekonomi kapitalisme memaksa perempuan untuk berperan ganda bahkan berlapis. Tuntutan ekonomi menjadikan banyak ibu harus bekerja di luar rumah bukan karena pilihan ideal, tetapi karena tekanan struktural. Akibatnya, waktu, energi, dan fokus untuk mendidik generasi tergerus. Peran ibu semakin berat, namun tidak dibarengi dengan sistem yang mendukung.

Kritik terhadap Kurikulum Pendidikan Berbasis Sekuler

Krisis peran ibu semakin diperparah oleh sistem pendidikan sekuler. Kurikulum hari ini dibangun di atas asas kebebasan dan netralitas nilai, yang pada praktiknya justru merusak generasi.

Pendidikan dipisahkan dari akidah. Ilmu diajarkan tanpa orientasi ketundukan kepada Allah. Agama direduksi menjadi mata pelajaran, bukan panduan hidup. Anak-anak dididik untuk menjadi “manusia bebas”, bukan hamba Allah yang bertanggung jawab.

Asas kebebasan ini melahirkan generasi yang:

  • cerdas secara akademik tetapi rapuh secara moral,
  • kritis secara intelektual tetapi kosong secara spiritual,
  • aktif secara sosial tetapi bingung secara ideologis.

Dalam kondisi seperti ini, peran ibu sebagai pendidik utama sering kali berbenturan dengan nilai yang diajarkan sekolah dan lingkungan. Tanpa perubahan sistemik, ibu bekerja sendirian melawan arus besar sekularisme.

Peran Riil Ibu Hari Ini: Membangun Generasi dengan Visi Islam

Di tengah tantangan tersebut, ibu Muslim tetap memiliki peran strategis yang dapat dan harus dijalankan.

Pertama, menetapkan visi pendidikan anak sebagai ‘abdullah (hamba Allah), khalifah fil ardh (pengelola bumi sesuai syariat), dan bagian dari khairu ummah (umat terbaik). Visi ini menjadi kompas dalam setiap keputusan pendidikan, dari pemilihan sekolah hingga pola asuh harian.

Kedua, menjadi teladan hidup. Anak belajar lebih banyak dari apa yang dilihat daripada apa yang dinasihatkan. Keteladanan dalam ibadah, adab, kesederhanaan, dan keberanian bersikap akan membentuk karakter anak secara mendalam.

Ketiga, mengiringi peran domestik dengan kesadaran perubahan sistem. Ibu yang ideologis tidak berhenti pada pembinaan keluarga, tetapi juga menyadari bahwa banyak problem generasi bersumber dari sistem kapitalisme-sekuler yang rusak dan merusak.

Karena itu, diperlukan upaya intelektual dan dakwah untuk mendorong perubahan menuju sistem yang benar dan menyejahterakan, yakni sistem Islam yang menyeluruh.

Penutup

Menjadi Ibu Generasi Ideologis adalah panggilan besar di tengah krisis peradaban. Ia menuntut kesadaran, keteguhan, dan visi jangka panjang. Di tengah sistem sekuler yang mereduksi peran ibu, pendidikan yang tercerabut dari nilai, dan tekanan ekonomi kapitalistik, ibu Muslim dituntut untuk tetap berdiri sebagai penjaga generasi.

Namun, perjuangan ini tidak cukup jika hanya dilakukan secara individual. Ia membutuhkan perubahan paradigma pendidikan, sosial, dan sistem kehidupan secara keseluruhan. Penerapan nilai-nilai Islam secara kaffah—dalam pendidikan, keluarga, dan kebijakan publik—adalah fondasi utama untuk melahirkan generasi ideologis yang siap memimpin umat dan membangun peradaban yang diridhai Allah Swt. (*)


Penulis:
Ade Surya Ramayani
(Pemerhati Sosial)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!