Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Hari Ibu Nasional: Parenting Bukan Sekadar Naluri, tapi Tanggung Jawab Bersama

759
×

Hari Ibu Nasional: Parenting Bukan Sekadar Naluri, tapi Tanggung Jawab Bersama

Sebarkan artikel ini
Dr. Elinda Rizkasari, S.Pd., M.Pd
Dr. Elinda Rizkasari, S.Pd., M.Pd (Dosen prodi PGSD Unisri Surakarta)

OPINI—Di negeri ini, kita terlalu sering memuji ibu sebagai pahlawan keluarga, tetapi terlalu jarang menyiapkan sistem agar ia tidak kelelahan dalam diam. Setiap 22 Desember, bangsa ini kembali merayakan Hari Ibu Nasional.

Ibu dipuji sebagai sosok paling berjasa dalam kehidupan anak dan keluarga. Namun di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, satu pertanyaan penting patut diajukan: apakah ibu benar-benar didukung untuk menjalani peran parenting yang sehat, atau justru dibiarkan berjuang sendiri di bawah beban ekspektasi yang kian berat?

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Parenting hari ini tidak lagi sesederhana memberi makan, menyekolahkan anak, lalu berharap semuanya berjalan baik. Tantangan pengasuhan semakin kompleks mulai dari paparan gawai sejak dini, tekanan akademik, masalah kesehatan mental anak, hingga krisis keteladanan dalam keluarga.

Di tengah kompleksitas itu, ibu sering ditempatkan sebagai aktor utama, bahkan satu-satunya, dalam keberhasilan atau kegagalan pengasuhan.

Ibu di Tengah Tekanan Zaman

Banyak ibu masa kini menjalani peran ganda: sebagai pengasuh utama dan sebagai pekerja. Mereka dituntut hadir penuh secara emosional bagi anak, sekaligus tetap produktif secara ekonomi. Ironisnya, dukungan sistem sering kali tidak sebanding dengan tuntutan tersebut.

Dalam realitas sehari-hari, tidak sedikit ibu yang merasa bersalah ketika bekerja, dan merasa tidak cukup ketika di rumah. Parenting perlahan berubah menjadi sumber kecemasan, bukan lagi ruang tumbuh bersama. Media sosial memperparah keadaan dengan standar pengasuhan sempurna yang sering kali tidak realistis, seolah kesalahan sekecil apa pun adalah kegagalan ibu sebagai orang tua.

Hari Ibu Nasional seharusnya menjadi momentum untuk menyadari bahwa pengasuhan anak bukan hanya soal niat baik ibu, tetapi juga soal kesiapan mental, kesehatan emosional, dan dukungan lingkungan.

Kisah Nyata di Balik Ruang Keluarga

Seorang ibu muda, sebut saja Ibu Maya, ibu dua anak usia 6 dan 9 tahun, pernah bercerita dengan suara lirih bahwa ia merasa gagal sebagai orang tua. Setiap pagi ia harus berangkat bekerja, setiap malam menghadapi anak yang tantrum, sulit fokus belajar, dan hanya tenang saat memegang gawai.

Ia sudah mencoba berbagai cara: disiplin keras karena takut anak keterlaluan, lalu berbalik membiarkan saja karena lelah dan kehabisan energi.

Semua orang bilang, ibu itu nalurinya pasti tahu. Tapi saya justru bingung harus mulai dari mana, katanya.

Yang dialami Ibu Maya adalah potret banyak ibu Indonesia hari ini. Parenting masih dipersepsikan sebagai kemampuan alami perempuan, sehingga kebutuhan akan edukasi dan pendampingan pengasuhan sering dianggap tidak penting. Padahal, tanpa pengetahuan dan dukungan yang memadai, pengasuhan mudah berubah menjadi pola reaktif, penuh emosi, dan minim refleksi.

Parenting adalah Proses Belajar, Bukan Warisan Naluri

Selama ini, kita terlalu lama mempercayai mitos bahwa ibu secara otomatis tahu cara mengasuh anak dengan benar. Padahal, parenting adalah keterampilan yang perlu dipelajari, diperbarui, dan disesuaikan dengan konteks zaman.

Anak-anak yang tumbuh di era digital membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka memerlukan kelekatan emosional, komunikasi dua arah, batasan yang konsisten, serta keteladanan perilaku bukan sekadar kontrol, hukuman, atau larangan.

Jika ibu tidak dibekali pengetahuan parenting yang memadai, risiko yang muncul bukan hanya konflik keluarga, tetapi juga masalah jangka panjang pada perkembangan emosi, perilaku, dan kesehatan mental anak. Dalam jangka panjang, kegagalan pengasuhan bukanlah kegagalan individu, melainkan kegagalan sistem sosial.

Dari Memuliakan Ibu ke Mendukung Ibu
Hari Ibu Nasional tidak cukup hanya dengan memuliakan peran ibu melalui simbol dan ucapan. Yang jauh lebih penting adalah mendukung ibu agar mampu menjalani parenting yang sehat dan manusiawi.

Dukungan itu tidak bisa dibebankan hanya pada ibu. Keluarga, pasangan, sekolah, komunitas, dan negara memiliki peran yang sama pentingnya. Parenting bukan semata tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab sosial.

Ketika ibu dibiarkan sendirian menghadapi tantangan pengasuhan, yang dipertaruhkan bukan hanya kesejahteraan ibu, tetapi juga kualitas generasi masa depan.

Solusi: Membangun Ekosistem Parenting Sehat

Momentum Hari Ibu Nasional 22 Desember 2025 harus diarahkan pada langkah nyata, bukan sekadar seremoni.

Pertama, pendidikan parenting perlu menjadi layanan publik yang sistematis, misalnya melalui kelas parenting berbasis sekolah dan puskesmas, yang mudah diakses dan tidak menghakimi.

Kedua, kesehatan mental ibu harus diprioritaskan, karena ibu yang kelelahan secara emosional sulit menjalani pengasuhan yang positif.

Ketiga, peran ayah dan keluarga besar perlu diperkuat, agar pengasuhan tidak bertumpu pada satu orang.

Keempat, sekolah dan komunitas harus menjadi mitra orang tua, bukan sekadar penilai keberhasilan anak.

Kelima, narasi publik tentang ibu perlu diubah, dari sosok yang harus selalu sempurna menjadi manusia yang juga berhak belajar, salah, dan dibantu.

Penutup

Hari Ibu Nasional adalah momentum refleksi: parenting bukan sekadar naluri, tetapi proses belajar seumur hidup. Ibu bukan mesin pengasuhan yang selalu kuat, melainkan manusia yang membutuhkan dukungan, pengetahuan, dan ruang bernapas.

Jika kita sungguh ingin membangun generasi yang sehat secara fisik dan mental, maka mendukung ibu dalam menjalani parenting yang sehat bukan pilihan tambahan, melainkan keharusan moral. Merayakan ibu berarti memastikan mereka tidak berjuang sendirianbukan hanya hari ini, tetapi setiap hari. (*)


Penulis:
Dr. Elinda Rizkasari, S.Pd., M.Pd
(Dosen prodi PGSD Unisri Surakarta)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!