Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Di Balik Produktivitas: Potret Kehampaan Manusia Modern

323
×

Di Balik Produktivitas: Potret Kehampaan Manusia Modern

Sebarkan artikel ini
Di Balik Produktivitas: Potret Kehampaan Manusia Modern
Rafael Lumintang (Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur)

OPINI—Manusia modern hidup dalam pusaran kecepatan tanpa jeda. Hari-hari dipenuhi agenda, target, rapat, dan tenggat waktu. Kesibukan tidak lagi sekadar alat untuk bertahan hidup, tetapi telah berubah menjadi ukuran nilai diri. Makin sibuk seseorang, makin tinggi ia dipandang. Sebaliknya, berhenti sejenak justru dianggap kemunduran. Diam dicurigai sebagai kemalasan.

Dalam situasi seperti ini, waktu kehilangan maknanya. Ia tidak lagi dipahami sebagai ruang untuk hidup, merenung, dan bersyukur, melainkan sekadar deretan tugas yang harus ditaklukkan demi uang, status, dan pengakuan. Manusia pun bergerak cepat, tetapi tidak benar-benar hidup.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Di balik produktivitas yang dipuja itu, tersembunyi kehampaan yang luas. Banyak orang bekerja keras, bahkan tanpa henti, namun merasa hidupnya kosong dan dangkal. Aktivitas terus mengalir, tetapi makna tak pernah hadir. Masalahnya bukan kurangnya kerja, melainkan krisis kedalaman eksistensi. Manusia tidak lagi hidup dari dalam, melainkan sekadar berfungsi dalam sistem.

Karl Jaspers menyebut manusia sejati bukan sekadar makhluk yang bekerja, melainkan makhluk yang sadar akan makna, keterbatasan, dan transendensinya. Namun manusia modern justru larut dalam rutinitas yang tak memberi ruang untuk bertanya: untuk apa semua ini dijalani?

Dalam budaya produktivitas, manusia direduksi menjadi proyek. Nilai hidup diukur dari efisiensi, angka, dan capaian. Kita menjadi homo activus (makhluk yang terus bergerak, menghasilkan, dan menopang mesin sosial) tetapi kehilangan waktu untuk berdiam dan memahami diri. Dalam istilah Jaspers, kita terperangkap dalam “dunia objektif”: dunia yang hanya mengakui yang terukur, tetapi menyingkirkan yang bermakna.

Ketika seluruh hidup ditelan logika target dan kinerja, manusia kehilangan ruang batin. Ia sibuk, tetapi tidak sadar. Bergerak cepat, tetapi tidak tahu ke mana. Produktivitas yang seharusnya menjadi alat berubah menjadi tujuan. Akibatnya, manusia aktif di luar, tetapi semakin asing terhadap dirinya sendiri.

Kehampaan ini semakin dalam karena manusia modern menyingkirkan apa yang disebut Jaspers sebagai situasi batas: penderitaan, kegagalan, keputusasaan, dan kematian. Dalam budaya produktivitas, semua itu dianggap gangguan.

Kegagalan harus segera ditutup dengan pencapaian baru. Kesedihan harus cepat disingkirkan. Kematian dijauhkan dari kesadaran publik. Padahal, justru dalam situasi-situasi inilah manusia dipaksa berhadapan dengan dirinya yang paling jujur.

Kesibukan lalu menjadi bentuk pelarian. Dengan terus bekerja dan mengisi waktu, manusia menghindari perjumpaan dengan keterbatasannya sendiri. Hidup yang padat dianggap hidup yang bermakna, padahal sering kali justru sebaliknya: hidup yang terlalu sibuk adalah hidup yang tak sempat dipahami. Dari sinilah kehampaan lahir, bukan sebagai gangguan sementara, tetapi sebagai gejala zaman.

Jaspers menawarkan jalan keluar yang sederhana namun radikal: refleksi eksistensial. Bukan menolak dunia modern, tetapi berhenti sejenak untuk kembali bertanya siapa diri kita dan untuk apa kita hidup. Manusia perlu ruang jeda, keheningan, dan kesadaran diri. Tanpa itu, kita hanya akan terus berlari tanpa arah.

Bahkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan kelelahan mental akibat kerja meningkat tajam. Ini menegaskan bahwa problem manusia modern bukan kurang kerja, tetapi kehilangan makna. Kita kelelahan bukan karena terlalu hidup, tetapi karena hidup tanpa orientasi.

Ruang reflektif bukan kemewahan, melainkan kebutuhan eksistensial. Di sanalah manusia belajar menerima keterbatasan, menghadapi kegagalan, dan menemukan makna di balik penderitaan. Dalam ruang itulah produktivitas kembali ditempatkan sebagai alat, bukan tuan.

Di zaman yang memuja kecepatan, berhenti adalah keberanian. Dalam dunia yang memuja hasil, merenung adalah perlawanan. Dan dalam masyarakat yang menilai manusia dari seberapa sibuk ia terlihat, ruang reflektif adalah cara paling jujur untuk kembali menjadi manusia. (*)


Penulis:
Rafael Lumintang
(Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!