Memuat Ramadhan...
Memuat waktu Makassar...
BMKG
Memuat data BMKG Sulsel...
LIVE
Opini

Jasad Menguap Tanpa Kubur: Tangis Ibu Gaza dan Dugaan Bom Termobarik Israel yang Menghapus Ribuan Nyawa

62
×

Jasad Menguap Tanpa Kubur: Tangis Ibu Gaza dan Dugaan Bom Termobarik Israel yang Menghapus Ribuan Nyawa

Sebarkan artikel ini
Yayuk Kusuma
Yayuk Kusuma (Pendidik, Foto Ilustrasi)

OPINI—Ribuan warga Palestina dilaporkan hilang tanpa jejak di Jalur Gaza sejak agresi Israel pada Oktober 2023. Investigasi mengungkap dugaan penggunaan bom termal dan termobarik, senjata mematikan yang mampu melumat tubuh manusia hingga tak tersisa, meninggalkan keluarga dalam duka tanpa makam dan dunia dalam pertanyaan besar tentang kemanusiaan.

Derita ibu dan anak Palestina bukan hanya angka statistik. Ia adalah kisah kehilangan tanpa kepastian, tangis tanpa pusara, dan luka tanpa akhir. Israel diyakini menggunakan senjata termal dan termobarik dalam serangan di Jalur Gaza, Palestina.

Senjata ini disebut mampu menghancurkan tubuh manusia hingga seolah menguap, tanpa meninggalkan jasad yang bisa dikenali atau dimakamkan.

Dalam laporan investigasi Al Jazeera berjudul The Rest of the Story, sedikitnya 2.842 warga Palestina dilaporkan hilang sejak agresi dimulai pada Oktober 2023.

Mereka diduga menjadi korban serangan bom termal dan termobarik, senjata yang dapat melenyapkan manusia tanpa jejak, selain percikan darah atau serpihan kecil tubuh. Yasmin Mahani, seorang ibu di Gaza City, menjadi saksi bagaimana manusia bisa lenyap dalam sekejap setelah serangan udara. (cnnindonesia)

Temuan ini menggambarkan tingkat kehancuran yang ekstrem. Senjata tersebut dilaporkan mampu menghasilkan panas hingga 3.500 derajat Celcius saat meledak. Suhu setinggi ini dapat menghancurkan tubuh manusia secara instan atau melelehkannya sepenuhnya, sehingga tidak ada jenazah yang tersisa untuk diidentifikasi maupun dimakamkan.

Para ahli militer dan saksi mata mengaitkan fenomena hilangnya jasad korban dengan dugaan penggunaan sistematis senjata thermobaric, yang dikenal sebagai bom vakum atau aerosol.

Penggunaan senjata seperti ini di kawasan padat penduduk bertentangan dengan prinsip hukum internasional. Data Pertahanan Sipil Gaza memperkuat laporan tersebut, dengan mencatat 2.842 warga Palestina hilang tanpa jejak sejak agresi dimulai. (metrotvnews)

Tragedi tidak berhenti di sana. Pada akhir Januari 2026, pasukan Israel kembali melancarkan serangan intensif di Jalur Gaza. Rumah warga, tenda pengungsi, dan kantor polisi menjadi sasaran. Sedikitnya 31 orang tewas dalam satu rangkaian serangan, menjadikannya salah satu hari paling berdarah sejak gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025.

Serangan berulang di wilayah yang disebut ā€œgaris kuningā€ menyebabkan 544 orang tewas, termasuk 180 anak dan 72 perempuan. Lebih dari 1.360 orang lainnya terluka, dengan 57,5 persen korban merupakan anak-anak dan perempuan. Angka ini memperlihatkan bahwa kelompok paling rentan justru menjadi korban terbesar dalam konflik berkepanjangan ini.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa gencatan senjata tidak selalu menjamin keselamatan warga sipil. Serangan tetap terjadi, meninggalkan kehancuran baru di atas luka lama. Gaza terus hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian, di mana setiap hari bisa menjadi hari terakhir bagi ribuan keluarga.

Di tengah situasi tersebut, muncul berbagai rancangan politik global yang diklaim sebagai solusi konflik Gaza. Salah satunya adalah ā€œComprehensive Plan to End the Gaza Conflictā€ yang dimediasi Amerika Serikat. Rencana ini mencakup konsep menjadikan Gaza sebagai kawasan bebas terorisme dan deradikalisasi, yang berdampak pada masa depan struktur keamanan dan politik Palestina.

Selain itu, negara-negara Barat dan Arab disebut menyiapkan Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF). Pasukan ini dirancang untuk melatih dan mendukung aparat keamanan Palestina di Gaza sebagai sistem keamanan jangka panjang. Kehadiran kekuatan internasional ini memunculkan kekhawatiran tentang masa depan kedaulatan keamanan Palestina.

Gagasan lain yang muncul adalah pembentukan ā€œBoard of Peaceā€ (BoP) atau Dewan Perdamaian, yang dipromosikan sebagai jalur politik untuk mengakhiri konflik. Inisiatif ini dipimpin Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya diplomatik global terhadap Gaza.

Dalam perspektif Islam, penjajahan atas wilayah kaum Muslim dipandang sebagai pelanggaran yang tidak dapat diterima. Nabi Muhammad saw bersabda:

ā€œTidaklah seseorang (Muslim) menelantarkan seorang Muslim lainnya di tempat di mana kehormatannya dilanggar dan direndahkan, melainkan Allah akan menelantarkan dia di tempat di mana dia sangat ingin mendapatkan pertolonganā€ (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Al-Qur’an juga menyatakan:

ā€œAllah sekali-kali tidak akan memberikan jalan bagi orang kafir untuk menguasai orang-orang Mukminā€ (QS an-Nisa’ [4]: 141).

Para ulama klasik juga membahas kewajiban mempertahankan wilayah kaum Muslim dari penjajahan. Imam Ibnu Qudamah menyatakan bahwa jika suatu negeri Muslim diduduki, maka penduduknya wajib mempertahankannya.

Jika tidak mampu, kewajiban itu meluas kepada kaum Muslim di sekitarnya. Imam an-Nawawi juga menyatakan bahwa kaum Muslim wajib berjuang untuk membebaskan wilayah yang diduduki.

Hari ini, Gaza menjadi simbol luka kemanusiaan global. Bukan hanya tentang konflik politik atau militer, tetapi tentang ibu yang kehilangan anak tanpa kubur, keluarga yang kehilangan anggota tanpa jenazah, dan generasi yang tumbuh di tengah kehancuran.

Selama konflik terus berlangsung, derita itu akan tetap ada—mengalir dalam tangis ibu Gaza yang menunggu kepastian, di antara reruntuhan dan debu, berharap dunia tidak lagi menutup mata. (*)

Wallahu a’lam bishawab.

Yayuk Kusuma (Pendidik)
Yayuk Kusuma (Pendidik)

Penulis:
Yayuk Kusuma
(Pendidik)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Konten dilindungi Ā© Mediasulsel.com