OPINI—Sebanyak 223 siswa taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas dari sembilan sekolah di Kota Bogor, Jawa Barat, keracunan seusai mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis atau MBG. Pemerintah daerah setempat langsung menetapkan hal ini sebagai Kejadian Luar Biasa atau KLB.
Bukan kali ini saja laporan keracunan menimpa siswa sekolah seusai mengonsumsi paket MBG. Sebelumnya, pada akhir April 2025, sebanyak 165 siswa di Cianjur, Jabar, juga keracunan seusai mengonsumsi paket MBG. Awal Mei ini, sebanyak 342 siswa SMP Negeri 35 Kota Bandung, masih di wilayah Jabar, juga diduga keracunan setelah mengonsumsi paket makanan MBG.
Laporan keracunan paket makanan MBG juga berasal dari daerah lain di luar Jabar, seperti Sukoharjo, Jawa Tengah; dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Rentetan kasus keracunan paket MBG ini menjadi ironi di tengah upaya pemerintah menyediakan makan bergizi secara cuma-cuma bagi para siswa. Bukannya sehat, sebagian siswa malah sakit karena keracunan. (kompas.id)
Merespon banyaknya kasus keracunan MBG yang menimpa generasi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut program bergizi gratis (MBG) bakal mendapat proteksi asuransi. Ogi Prastomiyono menjelaskan bahwa asosiasi telah mengidentifikasi beberapa risiko yang berpotensi terjadi pada penyelenggaraan program MBG, mulai dari tahap penyediaan bahan baku, pengolahan sampai pendistribusian kepada konsumen.
Ia juga mengatakan telah diidentifikasi beberapa risiko yang mungkin bisa didukung asuransi, yaitu risiko keracunan bagi para penerima MBG, anak sekolah, balita, ibu hamil dan menyusui. (bisnis.com)
Keracunan MBG merupakan salah satu contoh nyata dampak negative praktik industri kapitalis yang lebih mengutamkan keuntungan finansial dibandingkan keselamatan dan kesehatan masyarakat. Dalam sistem ini efisiensi biaya dan peningkatan laba seringkali menjadi prioritas utama, sementara aspek keselamatan kerja, kontrol kualitas dan dampak lingkungan kerap diabaikan akibatnya masyarakat yang seharusnya dilindungi justru menjadi korban dari kelalaian dan keserakahan perusahaan.
Kasus keracunan ini mencerminkan bagaimana sistem ekonomi yang tidak berorentasi pada kepentingan publik dapat menimbulkan krisis kesehatan yang serius dan merugikan banyak pihak. Negara sendiri justru terkesan berlepas tangan dalam menghadapi kasus keracunan MBG ini. Alih-alih memberi perlindungan nyata pada masyarakat ironisnya yang diusulkan justru adalah skema asuransi MBG yang semakin memperjelas kecenderungan negara untuk mengkomersialisasi risiko kesehatan masyarakat.
Pendekatan ini tentu bukanlah solusi preventif yang bertujuan mencegah kejadian serupa di masa depan, melainkan sekedar memindahkan beban risiko kepada individu seolah-olah masyarakat harus menanggung akibat dari kelalaian industri.
Hal ini menunjukkan bagaimana logika pasar telah masuk ke dalam kebijakan publik, mengaburkan tanggungjawab negara sebagai pelindung rakyat. Negara yang menganuut sistem kapitalisme terbukti gagal menjamin kualitas gizi generasi bangsa. Dalam kerangka pasar bebas produk-produk pangan termasuk yang berbahaya untuk kesehatan dibiarkan beredar luas tanpa pengawasan dan regulasi yang ketat.
Keamanan pangan menjadi barang dagangan, bukan hak dasar warga negara. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kapitalis keuntungan lebih diutamakan disbanding keselamatan dan kesejahteraan rakyat.
Kegagalan kapitalisme juga terlihat dari ketidakmampuannya menciptakan lapangan kerja yang layak dan memadai. Banyak warga yang terpaksa bekerja dalam kondisi tidak aman, upah rendah, atau bahkan menganggur karena tidak tersedianya peluang kerja yang memadai. Jangankan untuk mensejahterakan sistem ini justru memperparah kesenjangan sosial dan menjauhkan rakyat dari kehidupan yang layak.
Tak heran kebutuhan gizi generasi tidak terpenuhi akibat banyaknya kepala keluarga yang tidak mendapatkan akses pekerjaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa problem gizi tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan sistem ekonomi dan tata kelola negara secara keseluruhan.
Dalam konteks inilah negara islam hadir sebagai solusi sistemik yang mampu menyelesaikan problem gizi secara menyeluruh. Negara islam bukan hanya sistem pemerintahan melainkan struktur kepemimpinan yang mengatur seluruh aspek kehidupan rakyat berdasarkan syariat islam. Islam memandang bahwa pemenuhan pangan bergizi bagi setiap individu adalah kewajiban negara bukan tanggungjawab pasar atau korporasi.
Negara islam bertanggungjawab penuh atas keamanan pangan dan gizi masyarakat dengan memastikan hanya dengan makanan halal, thayyib, dan bergizi yang beredar melalui pengawasan yang ketat dan penegakan hukum yang tegas. Allah SWT berfirman “dan kewajina ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf” (QS. Al-Baqarah: 233).
Ayat ini menegaskan bahwa dalam islam ayah atau kepala keluarga memiliki kewajiban utama menjamin nafkah anggota keluarganya. Ini mencakup makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya. Seorang ayah yang mampu secara finansial wajib memastikan istri dan anak-anaknya mendapatkan asupan gizi yang layak dan kebutuhan hidup yang terpenuhi.
Adapun khalifah sebagai kepala negara islam menjamin terbukanya lapangan kerja yang luas melalui pengelolaan SDA secara langsung oleh negra dan pembangunan sektor-sektor produktif seperti pertanian, industri, dan perdagangan. Dengan demikian rakyat tidak hanya diberi bantuan tetapi juga diberi akses pada penghidupan yang layak.
Sistem ini membebaskan masyarakat dari ketergantungan pada bantuan sesaat dan mendorong kemandirian ekonomi yang berkeadilan. Peran negara dalam penyediaan lapangan kerja ini adalah implementasi dari sabda Rasulullah SAW “Pemimpin (khalifah) adalah pengembala (raain), dan ia bertanggungjawab atas rakyat yang digembalakannya (rakyatnya).” (HR. Bhukari dan Muslim)
Semua ini dilakukan bukan demi keuntungan tetapi demi kemaslahatan dan penjagaan amanah atas kehidupan umat. Dengan sistem islam problem gizi generasi dapat diselesaikan secara fundamental dan menyeluruh, bukan sekedar ditangani secara reaktif seperti yang terus terjadi dalam sistem kapitalisme. Wallahu a’alam bisyawab. (*)
Penulis: Yayuk Kusuma (Guru)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.












