MAKASSAR—Di tengah arus seni modern yang serba cepat dan instan, Zainal Beta justru memilih jalan sunyi: kembali ke tanah. Dari tangan dinginnya, material paling sederhana itu menjelma menjadi karya bernilai tinggi yang merekam jejak budaya dan identitas Nusantara.
Sejak kecil, Zainal sudah akrab dengan dunia gambar. Bahkan sebelum duduk di bangku sekolah dasar, ia kerap mencoret kertas hingga dinding rumah—sebuah kegemaran yang mendapat dukungan penuh dari orang tuanya. Memasuki usia 9 tahun, cita-cita menjadi pelukis mulai tertanam kuat dan terus ia tekuni hingga dewasa.
Langkah seriusnya dimulai saat mengikuti pendidikan seni rupa di kawasan Benteng Rotterdam pada 1977–1979, lalu berproses di Sanggar Ujung Pandang hingga 1985. Dari fase inilah, fondasi kekaryaan Zainal terbentuk—hingga akhirnya pada 1980 ia menemukan identitasnya: melukis dengan tanah liat.
Bagi Zainal, tanah bukan sekadar medium, melainkan simbol kesadaran budaya. Ia ingin membuktikan bahwa alam lokal menyimpan potensi besar yang bisa diangkat menjadi karya seni bernilai tinggi.
“Tanah itu punya makna. Saya ingin tunjukkan bahwa dari tanah pun bisa lahir lukisan yang punya nilai,” ujarnya.
Konsistensi menjadi kunci. Di saat banyak seniman beralih ke cat modern, Zainal tetap bertahan dengan material alami. Baginya, kekayaan alam Sulawesi Selatan adalah sumber inspirasi yang tak akan habis.
Menariknya, setiap daerah memiliki karakter tanah yang berbeda dan berpengaruh pada warna karyanya. Ia menyebut, tanah dari Makassar cenderung abu-abu, Gowa coklat muda, Bone kuning, hingga Luwu yang merah pekat. Sementara Toraja menghadirkan nuansa lembut dari perpaduan coklat, kuning, dan oranye.
“Setiap tanah itu unik. Luwu warnanya kuat, Toraja lebih lembut. Di situlah karakter lukisan terbentuk,” jelasnya.
Kiprah Zainal Beta tak hanya di dalam negeri. Karyanya telah menembus panggung internasional, termasuk dipamerkan di Northern Centre for Contemporary Art pada 11 Agustus 2024. Momen itu menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan seninya.
“Pameran di Australia paling berkesan, karena bisa bersanding dengan pelukis internasional,” katanya.
Tak hanya pameran, Zainal juga dikenal lewat aksi live painting—sebuah proses kreatif yang memadukan kecepatan, emosi, dan harmoni dengan musik. Ia menyebut, tidak semua pelukis mampu melakukannya.
“Live painting itu harus sejalan dengan musik dan butuh kecepatan. Di situ ekspresi diuji,” ungkapnya.

Jejaknya juga terekam dalam berbagai event besar seperti Makassar International Eight Festival & Forum (F8), kolaborasi seni di atas kapal phinisi Silolona dan Datu Bua, hingga forum internasional yang melibatkan puluhan negara di Lantamal Makassar.
Bagi Zainal, seni bukan sekadar ekspresi personal, tetapi juga tanggung jawab untuk menjaga dan mengangkat budaya lokal. Ia pun berpesan kepada generasi muda agar tidak meninggalkan akar budaya sendiri.
“Alam dan budaya kita ini kaya. Kalau bukan kita yang angkat, siapa lagi,” tegasnya.
Di balik perjalanan panjangnya, tersimpan mimpi sederhana: memiliki galeri seni sendiri sebagai rumah abadi bagi karya-karyanya.
Profil Singkat
Zainal Beta lahir di Makassar, 19 April 1960. Ia dikenal sebagai pelukis dengan teknik khas menggunakan tanah liat dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Perjalanan seninya dimulai sejak usia dini, ditempa melalui pendidikan di Benteng Rotterdam dan Sanggar Ujung Pandang. Sejak 1980, ia konsisten mengembangkan lukisan berbasis tanah liat yang kini menjadi ciri khasnya.
Karyanya telah tampil di berbagai panggung nasional dan internasional, termasuk Makassar International Eight Festival & Forum, forum internasional di Lantamal Makassar, hingga pameran di Northern Centre for Contemporary Art.
Dengan gaya yang kuat dan filosofi mendalam, Zainal Beta menjadi salah satu seniman yang teguh menjaga identitas lokal dalam lanskap seni global. (4nny)








