PINRANG—Setelah vakum selama 16 tahun, tradisi Pameran Seni Karya dan Makanan di UPT SMPN 2 Lembang Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan kembali digelar di Lapangan Basket sekolah, Sabtu (24/4/2026). Kebangkitan agenda ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi ruang unjuk kreativitas siswa melalui karya seni berbahan daur ulang hingga bazaar kuliner hasil kolaborasi pelajar.
Pameran tersebut menghadirkan beragam karya yang memanfaatkan barang bekas menjadi produk bernilai seni. Kardus, bahan sisa, hingga limbah sederhana disulap menjadi miniatur satwa laut, lukisan, sketsa wajah, serta dekorasi artistik yang menarik perhatian pengunjung.
Kembalinya pameran ini menjadi momentum penting bagi sekolah dalam membuka ruang apresiasi terhadap potensi siswa. Tidak hanya menampilkan karya visual, kegiatan juga dipadukan dengan bazaar makanan dan minuman hasil kreasi siswa-siswi yang menambah daya tarik acara.
Pembukaan kegiatan diawali dengan tarian Paddupa sebagai bentuk penghormatan kepada tamu undangan. Suasana semakin meriah dengan kehadiran Koordinator Wilayah (Korwil) Lembang, Syahrul Abdullah, Ketua PGRI Lembang, para kepala sekolah SD dan SMP, tokoh masyarakat, orang tua siswa, hingga pengurus OSIS se-Kecamatan Lembang.
Korwil Lembang, Syahrul Abdullah, mengapresiasi penyelenggaraan pameran tersebut. Ia menilai kegiatan ini dapat menjadi contoh bagi sekolah lain dalam mendorong kreativitas siswa melalui wadah yang edukatif dan produktif.
Menariknya, sejumlah murid sekolah dasar di sekitar UPT SMPN 2 Lembang turut hadir menyaksikan pameran. Kehadiran mereka menjadi sarana edukasi visual sekaligus pengenalan lingkungan sekolah bagi calon siswa di masa mendatang.
Kepala UPT SMPN 2 Lembang, Syamsul, menyebut pameran ini sebagai panggung ekspresi bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitas mereka. Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai acara sesaat, tetapi berkembang menjadi agenda rutin tahunan yang melibatkan masyarakat lebih luas.
“Ini adalah panggung bagi karya-karya luar biasa siswa kami. Saya berharap ini bukan yang terakhir, melainkan awal dari agenda rutin tahunan,” ujarnya.
Di balik kebangkitan pameran ini, sekolah juga memberikan apresiasi kepada Ahmad Ariadi, guru seni yang menjadi penggagas utama kembalinya tradisi tersebut. Inisiatif itu berhasil menghidupkan kembali ruang kreativitas yang sempat terhenti, sekaligus membuktikan bahwa karya siswa dapat menjadi daya tarik sekaligus inspirasi bagi lingkungan sekitar. (Cr/Ag4ys)

Citizen Reporter: Nurhidayah Mantong
Artikel ini ditulis oleh Citizen Reporter. Isi dan gaya penulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi hanya melakukan penyuntingan seperlunya tanpa mengubah substansi.







