MAKASSAR – Di tengah dominasi merek-merek Jepang seperti Toyota, Honda, dan Mitsubishi, Mazda menempuh jalan yang berbeda di pasar otomotif Indonesia. Pabrikan asal Jepang ini tidak mengejar volume penjualan besar-besaran, melainkan membangun citra sebagai merek premium yang menawarkan desain elegan, kenyamanan berkendara, serta teknologi yang berorientasi pada pengemudi. Perjalanan Mazda di Indonesia pun diwarnai pasang surut, mulai dari masa kejayaan, pergantian pengelola, hingga tantangan menghadapi persaingan ketat saat ini.
Sejak awal hadir di Indonesia, Mazda dikenal melalui sejumlah model yang memiliki karakter kuat. Sedan seperti Mazda2, Mazda3, dan Mazda6 mendapat apresiasi karena desain yang sporty dan handling yang baik. Di segmen SUV, Mazda CX-3, CX-5, CX-8 hingga CX-9 menjadi andalan dengan menawarkan perpaduan kenyamanan, performa, dan kemewahan yang berbeda dari kompetitor.
Seorang pengguna Mazda, Agung, menyebut bahwa pada umumnya, Mazda memiliki sejumlah keunggulan. Salah satunya tampilan desain lebih premium dibanding sebagian pesaing di kelas yang sama. Teknologi yang dikembangkan Mazda juga dikenal mampu menghadirkan efisiensi bahan bakar tanpa mengorbankan performa. Selain itu, kualitas interior Mazda sering dipuji karena menghadirkan nuansa layaknya mobil premium Eropa dengan harga yang lebih terjangkau.
Namun, lanjut Agung, harga jual yang relatif lebih tinggi dibanding kompetitor membuat pasar Mazda lebih terbatas. Jaringan dealer dan layanan purna jual juga tidak sebanyak merek-merek besar lainnya. Di beberapa model, biaya suku cadang dan perawatan dinilai lebih mahal sehingga menjadi pertimbangan bagi konsumen yang mengutamakan efisiensi biaya kepemilikan kendaraan.
Perjalanan Mazda memasuki babak baru pada 2016 ketika operasional PT Mazda Motor Indonesia resmi berakhir. Setelah itu, distribusi dan penjualan Mazda di Indonesia diambil alih oleh PT Eurokars Motor Indonesia (EMI), perusahaan yang juga menangani sejumlah merek premium di kawasan Asia Tenggara. Pergantian ini menjadi titik balik bagi Mazda untuk memperkuat posisinya sebagai merek premium Jepang.
Di bawah naungan Eurokars, Mazda mulai melakukan reposisi pasar. Strategi tersebut terlihat dari peluncuran model-model baru yang lebih premium seperti CX-60 dan CX-80, serta peningkatan kualitas jaringan dealer dan layanan pelanggan. Hasilnya, penjualan Mazda menunjukkan tren positif. Pada 2023, Mazda Indonesia membukukan penjualan lebih dari 5.320 unit, meningkat hingga 100 persen dibandingkan pencapaian pada 2020.
Respons pasar terhadap produk Mazda terbilang cukup baik, terutama di kalangan konsumen yang menginginkan kendaraan dengan desain eksklusif dan pengalaman berkendara yang berbeda. Model Mazda CX-5 menjadi tulang punggung penjualan dan secara konsisten menjadi kendaraan terlaris Mazda di Indonesia. Pada ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2025, CX-5 kembali menjadi model favorit dengan kontribusi penjualan terbesar.
Meski demikian, kondisi pasar otomotif nasional yang melambat memberikan tantangan tersendiri. Sepanjang 2025, Mazda beberapa kali merevisi target penjualan akibat penurunan daya beli masyarakat dan semakin ketatnya persaingan, khususnya dari merek-merek asal China yang menawarkan teknologi modern dengan harga lebih kompetitif. Penjualan Mazda pada periode Januari hingga November 2025 tercatat mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Saat ini, minat pasar terhadap Mazda masih bertahan, terutama di segmen kendaraan premium dan SUV. Konsumen yang memilih Mazda umumnya tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kualitas desain, kenyamanan, fitur keselamatan, dan pengalaman berkendara. Tren tersebut sejalan dengan meningkatnya minat terhadap kendaraan premium dan elektrifikasi yang mulai menjadi fokus pengembangan Mazda secara global.
Di tengah perubahan industri otomotif yang bergerak menuju elektrifikasi dan digitalisasi, Mazda menghadapi tantangan untuk mempertahankan identitasnya sebagai merek yang mengedepankan kenikmatan berkendara. Dengan basis pelanggan yang loyal dan citra premium yang semakin kuat, Mazda masih memiliki peluang untuk terus tumbuh di Indonesia, meskipun tidak bermain di pasar volume besar seperti para rival utamanya. Perjalanan panjang Mazda membuktikan bahwa di tengah persaingan yang semakin sengit, masih ada ruang bagi merek yang memilih jalur berbeda untuk tetap bertahan dan berkembang. (Ag4ys)







