MEDIASULSEL.COM—Pada suatu hari, saya mendapat ajakan dari seorang teman untuk mengunjungi kampung halamannya di Labuku bersama beberapa teman lainnya. Lokasinya berjarak sekitar 220 kilometer dari Kota Makassar atau sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Enrekang.
Kami memulai perjalanan sekitar pukul 11.00 WITA. Jalanan saat itu dipenuhi kendaraan yang membawa para musafir menuju kampung halaman masing-masing, sementara sebagian lainnya baru memulai perjalanan kembali ke kota.
Memasuki wilayah Maros, kami singgah di Roti Maros Salenrang untuk mengisi perut karena saya belum sempat sarapan. Menariknya, toko tersebut menyediakan roti gratis bagi para musafir. Kami pun membeli beberapa roti untuk dinikmati bersama setibanya di kampung teman.
Sesampainya di Kota Parepare, kota kelahiran Presiden ke-3 Republik Indonesia, B.J. Habibie, kami kembali beristirahat sambil menikmati semangkuk bakso di pelataran Masjid Terapung B.J. Habibie.
Sayangnya, kami tidak sempat berlama-lama menikmati suasana maupun mengabadikan momen karena perjalanan masih cukup panjang.
Selama melintasi Parepare, saya beberapa kali merasakan suasana kota yang mengingatkan pada kampung halaman saya di Kota Baubau.
Bedanya, Parepare terasa lebih padat. Tak lama kemudian kami memasuki wilayah Sidenreng Rappang (Sidrap). Di sana kami bergantian mengendarai sepeda motor karena teman saya mulai mengantuk.
Di sebuah persimpangan di Sidrap, jalan terbagi ke dua arah. Belok kiri menuju Enrekang, sedangkan lurus mengarah ke Kota Palopo. Karena tujuan kami adalah Enrekang, kami memilih belok ke kiri. Sekitar 30 menit kemudian, kami tiba di gerbang perbatasan Sidrap-Enrekang.
Tiba di Enrekang
Memasuki kawasan Maiwa, rasa lega mulai terasa setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Kami kembali berhenti sejenak untuk membeli segelas air minum karena perjalanan menuju kampung teman masih memerlukan waktu sekitar satu jam lagi.
Meski jalanan berkelok cukup melelahkan, hamparan perbukitan hijau di sepanjang perjalanan perlahan menghapus rasa letih. Pemandangan alam Enrekang benar-benar memanjakan mata.
Sekitar satu jam kemudian, kami akhirnya tiba di kampung teman di Labuku. Sore itu kami beristirahat sambil menikmati secangkir teh dengan latar panorama pegunungan yang menenangkan.
Tak lama kemudian, teman-teman mulai menikmati durian. Awalnya saya enggan karena memang tidak menyukai aroma buah tersebut. Namun karena penasaran, saya akhirnya mencoba mencicipinya. Ternyata rasanya cukup enak, meski setelah itu saya sedikit merasa mual. Pengalaman pertama yang cukup mengesankan.
Malam harinya kami menikmati makan malam bersama sebelum beristirahat untuk melanjutkan perjalanan keesokan hari.
Lanjut Esoknya
Keesokan paginya, rencana kami berubah. Sebuah pesan dari dosen masuk ke grup kuliah dan beberapa nama, termasuk kami, diwajibkan hadir di kampus. Mau tidak mau, kami harus segera kembali ke Makassar.
Sebelum berangkat, kami sempat singgah di Kota Enrekang untuk menikmati secangkir kopi selama sekitar satu jam. Setelah itu perjalanan kembali dimulai. Kali ini kami melewati jalur berbeda. Dari Enrekang kami menuju Pinrang, bukan kembali melalui jalur Sidrap.
Perjalanan menuju Pinrang menghadirkan perasaan yang berbeda bagi saya. Saya teringat cerita keluarga bahwa ayah saya lahir di Langnga, Kabupaten Pinrang.
Dalam hati muncul keinginan untuk singgah dan menginjakkan kaki di sana. Namun karena waktu yang terbatas dan perjalanan masih panjang, keinginan itu harus saya simpan untuk kesempatan berikutnya.
Menjelang waktu Magrib, kami kembali tiba di Kota Parepare. Di sana kami beristirahat sekaligus makan selama kurang lebih satu jam sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makassar.
Sekitar pukul 20.30 WITA, kami memasuki kawasan Mandalle, Kabupaten Pangkep. Kami sempat berhenti di sebuah minimarket di pinggir jalan untuk membeli air minum sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Tiba Kembali
Sekitar pukul 22.15 WITA, kami akhirnya tiba kembali di Kota Makassar. Saya langsung menuju asrama untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang.
Meski melelahkan, perjalanan singkat menuju Desa Labuku memberikan pengalaman yang sulit dilupakan. Keindahan alam Bumi Massenrempulu, keramahan masyarakat, hingga pengalaman sederhana menikmati durian untuk pertama kalinya menjadi kenangan yang membuat perjalanan sekitar delapan jam itu terasa sangat berharga. (*)
Magrib di Kota Makassar, 18 Juli 2026

Penulis:
Moch. Refa Amirul
(Founder MianaIde.id)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.










