OPINI—Ada alasan yang sebenarnya sangat sederhana mengapa saya mulai ingin menulis tentang Toalala. Semuanya berangkat dari rasa ingin tahu tentang sejarah kampung halaman sendiri.
Semakin banyak membaca tentang Enrekang, semakin saya menyadari bahwa tanah yang selama ini saya kenal melalui keluarga, adat, masjid, dan cerita para orang tua ternyata menyimpan lapisan sejarah yang jauh lebih panjang.
Tetapi ada satu hal lain yang kemudian membuat rasa ingin tahu itu menjadi lebih personal. Saya sempat membaca buku berjudul Jejak Pemerintahan Toalala dan Silsilah Arung Enrekang, dan salah satu penulisnya adalah almarhum kakek saya, saudara dari nenek kandung saya.
Mengetahui hal itu membuat saya melihat buku tersebut bukan lagi sekadar buku sejarah. Ada hubungan keluarga di balik proses pencatatan sejarahnya.
Saya kemudian bertanya-tanya: mengapa sejarah Toalala sampai ditulis? Apa sebenarnya yang terjadi pada masa pemerintahannya?
Dan, yang paling membuat saya penasaran, bagaimana kehidupan Islam di Enrekang ketika Toalala memerintah?
Apakah kerajaan memiliki peran di dalamnya? Apakah rajanya mengeluarkan kebijakan tertentu, menyediakan fasilitas, memberi ruang bagi pendidikan agama, atau justru kehidupan Islam berkembang melalui masyarakat dan tokoh agama di luar istana?
Pertanyaan itu membawa saya pada sebuah kesimpulan awal yang penting: untuk memahami Islam pada era Toalala, kita tidak bisa memulainya dengan pertanyaan kapan Islam masuk ke Enrekang.
Sebab Islam ternyata telah hadir jauh sebelum Toalala naik takhta.
Yang lebih menarik justru adalah apa yang terjadi setelah Islam diterima: bagaimana ia dipelajari, siapa yang mengajarkannya, siapa yang memiliki otoritas keagamaan, di mana masyarakat belajar, dan bagaimana semua itu berhubungan dengan kerajaan.
Islam sudah hadir jauh sebelum Toalala
Buku Sejarah Enrekang dari Tomanurung hingga Terbentuknya Kabupaten yang diterbitkan BPNB Sulawesi Selatan menempatkan masuk dan berkembangnya agama Islam di Kerajaan Enrekang pada masa pemerintahan Bissu Tonang, Arung Enrekang III.
Keterangan ini penting karena menunjukkan bahwa sejarah Islam Enrekang memiliki umur yang jauh lebih tua daripada masa pemerintahan Toalala.
Penelitian tentang Masjid Tua Tondon memberikan gambaran yang lebih rinci. Penelitian tersebut menyebut bahwa sekitar awal abad XVII, Islam di wilayah Enrekang berkembang melalui lebih dari satu jalur.
Di bagian selatan, Kerajaan Maiwa dikaitkan dengan Janggo Ridi, seorang putra Topoang yang disebut pernah belajar di Gowa dan kemudian menyebarkan Islam di Maiwa.
Di wilayah utara, perkembangan Islam dikaitkan dengan hubungan Kerajaan Bone dengan wilayah Duri.
Dengan demikian, Islamisasi Enrekang tidak berlangsung sebagai satu peristiwa tunggal yang dapat dijelaskan hanya melalui satu tokoh.
Pada jalur Maiwa, setelah Arung Maiwa menerima Islam, wilayah tersebut berkembang sebagai salah satu pusat pembelajaran Islam di Massenrempulu.
Tradisi yang dicatat dalam sejumlah penelitian bahkan menyebut adanya pembagian peran dalam pengajaran: tauhid dan salat, salat Jumat, hingga tarawih.
Artinya, setelah Islam diterima oleh penguasa, muncul proses yang jauh lebih penting: proses mengajarkan Islam kepada masyarakat.
Karena itu, ketika kita tiba pada masa Toalala, kita sebenarnya tidak sedang melihat awal Islamisasi. Kita sedang melihat sebuah kerajaan yang telah memiliki sejarah Islam selama beberapa generasi.
Toalala: raja dalam fase yang berbeda
ANTARA, ketika mengulas buku Jejak Pemerintahan Toalala dan Silsilah Arung Enrekang, menggambarkan Toalala atau Toala sebagai Arung Enrekang VIII.
Ia muncul setelah persoalan pada masa Muhammad Yusuf, Arung Enrekang VII, yang berujung pada berakhirnya garis suksesi langsung dari dinasti Takkebuku.
Para tetua adat kemudian memilih Toalala sebagai sosok yang dianggap mampu mengembalikan stabilitas pemerintahan dan kepercayaan masyarakat.
Pilihan itu sendiri menarik karena memperlihatkan bahwa pergantian kekuasaan Enrekang tidak selalu berlangsung sesederhana pewarisan takhta dari ayah kepada anak.
Genealogi, hubungan antarkerajaan, pertimbangan adat, dan penerimaan elite kerajaan ikut menentukan legitimasi seorang penguasa.
ANTARA mencatat rentang pemerintahan Toalala sebagai 1739–1825. Dalam pemberitaan yang sama terdapat penyebutan “abad XVII”, tetapi secara kronologis rentang 1739–1825 berada pada abad XVIII sampai awal abad XIX.
Karena itu, dalam tulisan ini periode tersebut saya sebut sebagai akhir abad XVIII hingga awal abad XIX, mengikuti rentang tahun yang diberitakan dan menghindari kesalahan penyebutan abad.
Konteks waktu tersebut penting. Toalala bukan raja yang menerima Islam untuk pertama kali.
Ia memerintah ketika Islam telah memiliki sejarah, tokoh, tempat ibadah, dan jaringan sosial di Enrekang.
Karena itu pertanyaannya menjadi lebih menarik: bagaimana hubungan kerajaan dengan Islam yang sudah hidup itu?
Apakah Toalala memiliki kebijakan khusus tentang Islam?
Di titik inilah saya mencoba mencari sesuatu yang mungkin paling mudah dibayangkan ketika berbicara tentang seorang raja Muslim: kebijakan keagamaan.
Apakah Toalala membangun masjid? Apakah ia menyediakan fasilitas pendidikan agama? Apakah ia mengangkat guru-guru agama? Apakah ia mengeluarkan aturan khusus untuk memperkuat kehidupan Islam di kerajaan?
Sampai pada sumber yang dapat ditelusuri, saya belum menemukan bukti dokumenter yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa Toalala secara pribadi mengeluarkan kebijakan khusus dalam bentuk-bentuk tersebut.
Ini perlu disampaikan secara terbuka agar cerita sejarah tidak berubah menjadi dugaan yang seolah-olah sudah menjadi fakta.
Yang justru cukup jelas dalam sumber tentang pemerintahannya adalah penguatan struktur kerajaan.
ANTARA mencatat pembentukan jabatan Petta Punggawa sebagai panglima tentara kerajaan dan Petta Salewatang Enrekang sebagai pengganti raja ketika raja berhalangan.
Pada masa yang sama, Toalala disebut melakukan penataan strata sosial masyarakat ke dalam kelompok Ulawanga, Salaka, Bessi, dan Kaunan, dengan catatan bahwa status Kaunan atau budak telah dimerdekakan di wilayah Massenrempulu.
Temuan ini membuat saya berpikir bahwa hubungan Toalala dengan Islam mungkin tidak harus dicari dalam bentuk dekret agama yang eksplisit.
Bisa jadi peran kerajaan justru berada pada tingkat yang lebih struktural: menyediakan tatanan pemerintahan dan ruang sosial tempat lembaga-lembaga keagamaan dapat hidup, sementara urusan pendidikan dan dakwah dijalankan oleh otoritas agama dan masyarakat sendiri.
Namun, kalimat terakhir itu adalah interpretasi yang harus dijaga batasnya. Sumber yang tersedia belum cukup untuk mengubahnya menjadi fakta tentang kebijakan Toalala.
Yang dapat kita katakan dengan lebih aman adalah: pada masa pemerintahannya, kerajaan memiliki struktur pemerintahan yang semakin tertata, sementara di lingkungan masyarakat Enrekang telah terdapat tradisi dan institusi Islam yang berkembang dari periode sebelumnya.
Ketika nama seorang qadi muncul di sekitar takhta
Salah satu petunjuk yang paling menarik justru datang dari silsilah dan catatan genealogis.
Dalam karya Hans Hägerdal tentang kerajaan-kerajaan Indonesia, nama Sanggaiya dicatat sebagai “qadi of Enrekang” dan ditempatkan dalam lingkungan genealogis yang berdekatan dengan periode Toalala.
Sumber semacam ini penting sebagai pembanding genealogis, tetapi tetap perlu dibaca bersama sumber lokal dan penelitian lain.
Nama Sanggaiya juga muncul dalam karya akademik yang membahas tradisi keagamaan dan genealogis Enrekang.
Dalam disertasi Andi Ibrahim, Sanggaiya disebut sebagai Kadhi Enrekang bersama beberapa tokoh lain yang juga dikaitkan dengan jabatan keagamaan, seperti Muh. Said Pua Datte sebagai Kadhi Enrekang, Latanro III Puang Janggo sebagai Arung Buttu/Kadhi Enrekang, dan Punga Tiwajo Puang Cipong sebagai Imam Kabere Enrekang.
Di sini kita memperoleh sebuah pengetahuan yang menurut saya jauh lebih menarik daripada sekadar pernyataan bahwa “Enrekang sudah Islam”.
Kita melihat adanya jabatan keagamaan. Ada qadi atau kadhi. Ada imam. Ada tokoh yang memiliki fungsi keagamaan di dalam lingkungan masyarakat kerajaan.
Tentu saja, kita belum mempunyai dokumen yang cukup untuk menceritakan setiap perkara yang pernah ditangani Sanggaiya, keputusan hukumnya, atau khutbah yang mungkin disampaikannya.
Karena itu, keberadaan Sanggaiya sebaiknya kita gunakan sebagai petunjuk tentang adanya otoritas keagamaan, bukan sebagai alasan untuk mengarang detail kehidupan religius yang belum tercatat.
Tetapi petunjuk itu sudah cukup untuk mengajukan pertanyaan yang penting: ketika kerajaan memiliki seorang qadi, di mana sebenarnya Islam ditempatkan dalam tata kehidupan Enrekang?
Kerajaan tidak selalu harus membangun masjid untuk berperan dalam kehidupan Islam
Jawaban atas pertanyaan itu mungkin tidak harus berbentuk sebuah kebijakan raja.
Sejarah Masjid Tua Tondon justru memperlihatkan bahwa perkembangan Islam juga dapat lahir dari inisiatif tokoh agama dan masyarakat.
Penelitian mengenai Masjid Tua Tondon menyebut bahwa masjid tersebut menjadi pusat ibadah, tetapi juga berfungsi dalam bidang ilmu pengetahuan, sosial, dan kebudayaan.
Penelitian itu mencatat keberadaan coretan pada batu di sekitar masjid yang ditafsirkan sebagai jejak aktivitas belajar dan diskusi masyarakat.
Masjid juga digunakan sebagai tempat pertemuan untuk membicarakan persoalan masyarakat dan kegiatan bersama.
Keterangan tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa kehidupan Islam tidak selalu menunggu kebijakan istana.
Masyarakat dan tokoh agama juga memiliki kemampuan membangun institusi keagamaannya sendiri.
Dalam konteks ini, hubungan kerajaan dan Islam lebih tepat dibaca sebagai hubungan antara struktur kekuasaan dengan sebuah ekosistem sosial-keagamaan yang sudah tumbuh di masyarakat.
Itulah sebabnya saya mulai melihat bahwa pertanyaan “apakah Toalala membangun masjid?” mungkin bukan pertanyaan satu-satunya yang penting.
Pertanyaan yang lebih besar adalah: apakah pada masa Toalala sudah tersedia lingkungan sosial yang membuat ajaran Islam dapat terus diajarkan dan dijalankan?
Jejak qadi, imam, masjid, dan tradisi pembelajaran memberi alasan untuk mengatakan bahwa lingkungan itu memang sudah ada.
Masjid sebagai ruang ibadah sekaligus ruang pengetahuan
Masjid Tua Tondon juga menunjukkan bahwa ruang ibadah dapat sekaligus menjadi ruang komunikasi pengetahuan.
Penelitian yang tersedia menggambarkan masjid sebagai tempat salat dan khutbah, tetapi juga ruang belajar, diskusi, musyawarah, dan kegiatan sosial-kebudayaan.
Di sini saya melihat sesuatu yang sangat dekat dengan pertanyaan tentang dakwah.
Sebuah masjid pada masa itu tidak membutuhkan media digital untuk menjadi pusat komunikasi.
Khutbah adalah komunikasi publik. Pengajaran Al-Qur’an adalah transmisi pengetahuan. Musyawarah adalah komunikasi sosial.
Imam dan guru agama menjadi komunikator yang hidup di tengah masyarakat.
Namun sekali lagi, kita harus menjaga kronologi.
Penelitian mengenai Masjid Tua Tondon menempatkan pertumbuhan Islam dan fungsi awal masjid pada abad XVII, sedangkan Toalala berada lebih kemudian.
Karena itu, Tondon lebih tepat digunakan sebagai bukti tentang tradisi dan infrastruktur Islam yang berkembang di Enrekang sebelum dan terus berlanjut setelahnya, bukan sebagai bukti bahwa Toalala adalah pendiri atau penggagas masjid tersebut.
Hal yang serupa berlaku bagi Masjid Tua Langgara’.
Penelitian Irno menempatkan penyebaran Islam di Enrekang dan penerimaannya sebagai agama resmi pada sekitar 1610, serta menempatkan Langgara’ dalam fase awal perkembangan Islam dan fase perkembangan berikutnya.
Ini menunjukkan adanya kesinambungan institusi keislaman yang telah lama ada ketika Toalala memimpin.
Islam, kerajaan, dan adat
Ada persoalan lain yang tidak kalah menarik: bagaimana Islam bertemu dengan adat?
Salah satu penelitian tentang Islamisasi Maiwa mencatat tradisi bahwa Arung Maiwa melihat Islam sebagai agama yang mengajarkan perdamaian dan tidak serta-merta menghapus seluruh kehidupan adat.
Keterangan tersebut tentu merupakan bagian dari tradisi sejarah yang perlu dibaca kritis, tetapi ia memberi gambaran tentang cara masyarakat menjelaskan hubungan Islam dan adat di masa lalu.
Dalam konteks Enrekang, saya kira penting untuk tidak membaca sejarah sebagai pergantian sederhana dari “adat” menjadi “Islam”.
Yang tampak justru adalah perjumpaan.
Islam masuk ke masyarakat yang telah memiliki struktur sosial, jaringan kekerabatan, sistem kerajaan, dan tradisi sendiri.
Kemudian nilai-nilai baru itu berinteraksi dengan kehidupan yang sudah ada.
Penelitian kontemporer mengenai masyarakat Duri di Enrekang juga memperlihatkan bahwa identitas adat dan Islam dapat terus hidup berdampingan, dengan ritual tradisional yang dijelaskan melalui kerangka Islam dan tokoh adat serta tokoh agama yang dapat terlibat dalam kehidupan sosial.
Penelitian tersebut memang bukan penelitian khusus tentang era Toalala, tetapi memberi gambaran tentang panjangnya sejarah perjumpaan Islam dan adat di Enrekang.
Karena itu, mungkin terlalu sederhana jika Islam pada masa Toalala hanya dibaca melalui pertanyaan apakah kerajaan menerapkan hukum agama secara penuh atau tidak.
Yang lebih menarik adalah melihat bagaimana agama dan adat hidup dalam ruang sosial yang sama.
Dari rasa ingin tahu kepada sebuah pembacaan sejarah
Semakin jauh membaca, semakin saya merasa bahwa pertanyaan awal saya tentang kampung halaman ternyata tidak sesederhana dugaan semula.
Saya semula hanya ingin mengetahui sejarah Islam di daerah sendiri.
Setelah menemukan buku Jejak Pemerintahan Toalala dan Silsilah Arung Enrekang dan mengetahui bahwa salah satu penulis awalnya adalah almarhum kakek saya, saudara dari nenek kandung saya, rasa ingin tahu itu berubah menjadi pencarian yang lebih personal.
Saya ingin mengetahui bukan hanya siapa Toalala, tetapi juga bagaimana masyarakat pada zamannya menjalani kehidupan keislaman.
Apakah Islam hanya berada di lingkungan bangsawan? Ternyata ada jejak qadi dan imam.
Apakah agama hanya hidup di istana? Ternyata ada masjid yang menjadi tempat belajar dan bermusyawarah.
Apakah kerajaan sepenuhnya mengendalikan dakwah? Sumber yang ada justru menunjukkan bahwa masyarakat dan tokoh agama memiliki peran penting sendiri.
Sementara untuk Toalala sendiri, bukti yang tersedia lebih jelas mengenai penguatan pemerintahan dan tata sosial daripada sebuah paket kebijakan keagamaan yang terdokumentasi secara khusus.
Justru perbedaan antara apa yang diketahui dan apa yang belum diketahui itu membuat sejarah terasa lebih jujur.
Sebab sejarah bukan hanya tentang menemukan jawaban. Kadang sejarah juga mengajarkan kita untuk tahu di mana bukti berhenti dan pertanyaan harus dilanjutkan.
Di balik takhta Toalala
Pada akhirnya, membaca sejarah Toalala membuat saya menyadari bahwa takhta bukan satu-satunya tempat untuk melihat perjalanan Islam sebuah kerajaan.
Ada ruang lain yang tidak kalah penting: masjid, rumah belajar, ruang musyawarah, jaringan keluarga, dan orang-orang yang setiap hari mengajarkan agama.
Toalala memang penting karena ia adalah Arung Enrekang VIII. Tetapi Islam di Enrekang tidak dimulai bersamanya, dan tampaknya juga tidak bergantung pada satu kebijakan agama yang dikeluarkannya.
Islam telah datang sebelumnya, telah memiliki sejarah, dan pada masa Toalala telah memiliki tokoh serta ruang sosial yang memungkinkan ajaran itu terus hidup.
Di sinilah nama qadi, imam, guru, dan masjid menjadi penting.
Mereka menunjukkan bahwa sejarah Islam tidak hanya dibangun oleh raja yang berkuasa, tetapi juga oleh orang-orang yang membuat pengetahuan agama dapat berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Mungkin inilah alasan mengapa saya terus tertarik pada sejarah kampung halaman sendiri.
Kita sering mengira bahwa sejarah ada jauh di belakang kita, padahal jejaknya bisa sangat dekat: pada nama keluarga, pada masjid yang masih berdiri, pada buku yang disusun oleh orang-orang yang kita kenal, bahkan pada tangan seorang kakek yang menuliskan kembali sejarah leluhur agar tidak hilang.
Dan dari sana saya belajar satu hal sederhana: sejarah Islam bukan hanya sejarah tentang kapan sebuah agama datang.
Ia adalah sejarah tentang bagaimana sebuah ajaran kemudian dipelajari, dikomunikasikan, dijalankan, dan diwariskan.
Maka ketika melihat kembali takhta Toalala, saya tidak lagi hanya bertanya siapa raja yang duduk di atasnya.
Saya juga ingin tahu siapa yang berdiri di sekelilingnya, siapa yang mengajarkan agama, di mana masyarakat belajar, dan bagaimana semua itu membentuk wajah Islam Enrekang.
Di situlah sejarah kerajaan akhirnya bertemu dengan sejarah masyarakat.
Dan di situlah pula rasa ingin tahu tentang kampung halaman berubah menjadi perjalanan untuk memahami warisan yang masih kita bawa hingga hari ini. (*)
Penulis:
Muh. Fauzan Akhyar L.
(Mahasiswa)
Catatan kecil tentang sejarah kampung halaman, sebuah buku keluarga, dan pertanyaan tentang Islam di masa lalu
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.







