MAKASSAR — Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (SPs Unhas) membuka peluang kolaborasi riset internasional dengan menghadirkan ilmuwan diaspora Made Airanthi K. Widjaja Adhi dari Case Western Reserve University, Amerika Serikat.
Kehadiran Made Airanthi dalam kuliah tamu rangkaian Diaspora Berdampak 2026, Rabu (14/10/2026), menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus penjajakan kerja sama akademik antara Unhas dan institusi pendidikan tinggi di Amerika Serikat.
Wakil Dekan III SPs Unhas Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi, dan Alumni, Prof. Dr. dr. Marhaen Hardjo, M.Biomed., mengatakan pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun kolaborasi penelitian yang berkelanjutan.
Marhaen hadir mewakili Dekan SPs Unhas, Prof. Sukri Palutturi, SKM, M.Kes., MSc.PH, Ph.D. Ia mengapresiasi kesediaan Made Airanthi berbagi pengetahuan dan pengalaman penelitian dengan sivitas akademika Unhas.
“Kegiatan ini menjadi kesempatan yang sangat baik untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman penelitian. Kami berharap pertemuan ini dapat membuka peluang kolaborasi antara Universitas Hasanuddin dan institusi tempat narasumber berkarya di Amerika Serikat,” ujarnya.
Kuliah tamu tersebut mengangkat tema Pharmacological and Biofunctional Chemical Material Synergy for Retinoid-Carotenoid-Based Food Security and Competitiveness. Kegiatan berlangsung secara hibrida di Aula Prof. Dr. Ir. Fachruddin, Sekolah Pascasarjana Unhas, serta melalui pertemuan daring.

Peserta dan pemateri kuliah tamu bertajuk “Pharmacological and Biofunctional Chemical Material Synergy for Retinoid-Carotenoid-Based Food Security and Competitiveness”, yang digelar SPs Unhas, Rabu (14/10).
Dalam pemaparannya, Made Airanthi membahas keterkaitan farmakologi, biologi molekuler, dan senyawa bioaktif, khususnya retinoid dan karotenoid, dalam pengembangan inovasi pangan. Ia juga berbagi pengalaman mengenai pentingnya kolaborasi lintas disiplin untuk menghubungkan penelitian dasar dengan kebutuhan masyarakat.
Potensi kekayaan hayati Indonesia, termasuk rumput laut, turut menjadi perhatian. Sumber daya tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi pangan dan produk bernilai tambah melalui penelitian yang tepat, mulai dari pengujian karakteristik senyawa hingga pengolahan dan keberlanjutan pasokan.
Pengembangan inovasi berbasis bahan alam, lanjut pembahasan dalam kuliah tamu tersebut, juga membutuhkan pembuktian ilmiah yang memadai. Hasil pengujian laboratorium perlu ditafsirkan sesuai bukti yang tersedia sebelum dijadikan dasar untuk menyimpulkan manfaat suatu produk.
Diskusi yang dipandu Dr. Nur Rahma, S.Si., diikuti akademisi, peneliti, dan mahasiswa. Sejumlah pertanyaan mengemuka, termasuk mengenai pengembangan produk berbasis spirulina dan pemanfaatan hasil pengujian aktivitas antioksidan untuk mendukung penelitian lanjutan.
SPs Unhas berharap kehadiran ilmuwan diaspora seperti Made Airanthi tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga membuka jalan bagi kerja sama riset lintas negara. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat inovasi di bidang pangan dan kesehatan serta mendorong pemanfaatan potensi sumber daya alam Indonesia secara berkelanjutan.(Ag4ys)













