SIDRAP — Mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan memperkuat pengawasan kawasan konservasi melalui patroli bersama di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Patroli yang dilaksanakan pada 21 Oktober 2026 ini melibatkan Bidang KSDA Wilayah II, Resor Sidrap, serta Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Kegiatan tersebut menjadi langkah preventif untuk menjaga keamanan kawasan hutan sekaligus mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.
Kegiatan ini diikuti Kepala Bidang KSDA Wilayah II, Mustari Tepu, Kepala Resor TWA Sidrap, Andi Mahmud Alamsyah, serta anggota MMP. Selain memantau kondisi kawasan, tim juga melakukan penandaan batas blok untuk memperjelas fungsi dan batas wilayah pengelolaan di lapangan.
Penandaan batas blok tersebut diharapkan memberikan kepastian dalam pengelolaan kawasan, meningkatkan efektivitas pengawasan, serta mencegah potensi konflik dan pelanggaran pemanfaatan kawasan hutan.
Kepala BBKSDA Sulawesi Selatan, Hasnawir, melalui Kepala Bidang KSDA Wilayah II, Mustari Tepu, dalam keterangan tertulisnya yang diterima mediasulsel.com, Jumat (23/10/2026) mengatakan patroli bersama merupakan bentuk komitmen dalam menjaga keamanan kawasan hutan konservasi sekaligus mengantisipasi kebakaran selama musim kemarau.
Menurut Mustari, keterlibatan MMP menjadi bagian penting dalam memperkuat pengawasan dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla.
“Patroli bersama ini menjadi upaya preventif untuk memastikan kondisi kawasan hutan tetap aman sekaligus mendeteksi potensi karhutla sejak dini. Sinergi dengan seluruh pihak perlu terus ditingkatkan agar setiap potensi gangguan dapat segera diketahui dan ditindaklanjuti,” ujar Mustari.
Sementara itu, Kepala Resor TWA Sidrap, Andi Mahmud Alamsyah, menekankan pentingnya kolaborasi antara BBKSDA Sulsel, pemerintah desa, TNI/Polri, MMP, dan masyarakat dalam menjaga keamanan kawasan.
Ia menyebutkan, hingga pelaksanaan kegiatan tersebut, belum ada kejadian karhutla di kawasan yang menjadi tanggung jawabnya. Salah satu upaya pencegahan yang dilakukan adalah membangun pendekatan kepada masyarakat melalui masjid-masjid di sekitar kawasan serta berkoordinasi dengan Kepala Desa Maddenra untuk menyosialisasikan bahaya kebakaran hutan.
“Lokasi kami belum ada kejadian karhutla. Rahasia kami adalah melakukan pendekatan ke masjid-masjid di sekitar kawasan dan koordinasi dengan Kepala Desa Maddenra untuk sosialisasi bahaya kebakaran hutan,” ungkap Mahmud.
Taman Wisata Alam (TWA) Sidrap memiliki luas 246,25 hektare dengan potensi flora dan fauna yang perlu dijaga kelestariannya. Karena itu, pengawasan kawasan dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.
Mustari berharap kerja sama antara pemerintah desa, TNI/Polri, MMP, dan masyarakat semakin solid. Dengan koordinasi yang berkelanjutan, keamanan kawasan hutan dapat terjaga, potensi kebakaran bisa diantisipasi lebih awal, dan kelestarian sumber daya alam tetap terlindungi. (70n)









