MAMASA—Aktivis lingkungan dan akademisi Anis Kurniawan mengajak para pemandu wisata lokal Taman Nasional Gandang Dewata (TNGD) untuk menjadi “pemandu semesta”, yakni pemandu yang bekerja dengan hati dan memuliakan alam sebagai bagian setara dari kehidupan manusia.
Ajakan tersebut disampaikan Anis saat menjadi narasumber dan pengajar dalam Pelatihan Pemandu Wisata Lokal yang digelar Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan di Mamasa, akhir Mei 2025 lalu. Kegiatan ini diikuti oleh 30 pemandu wisata lokal, sebagian besar telah bersertifikasi dan berpengalaman dalam memandu wisatawan.
Pelatihan difokuskan pada peningkatan kemampuan interpretasi potensi keanekaragaman hayati, khususnya flora khas yang terdapat di kawasan TNGD. Tujuannya, agar pemandu mampu menyampaikan informasi secara menarik, edukatif, dan membangun kesadaran ekologis bagi para wisatawan.
“Flora khas Taman Nasional Gandang Dewata sangat beragam. Banyak di antaranya akrab dengan masyarakat lokal dan dimanfaatkan sebagai obat-obatan atau bahan makanan,” jelas Anis, kandidat Doktor Ilmu Lingkungan dari Universitas Hasanuddin.
Ia menekankan pentingnya menghubungkan informasi berbasis literatur ilmiah dengan pengetahuan lokal yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat. Menurutnya, pengetahuan tersebut bukan sekadar cerita, tetapi bagian dari identitas budaya yang juga menjadi daya tarik wisata.
“Wisatawan sangat tertarik dengan narasi yang kuat. Misalnya, nama lokal sebuah tumbuhan disertai dengan cerita historisnya—itu menjadi oleh-oleh otentik yang dibawa pulang, bukan sekadar foto,” tegas Anis.
Ia menambahkan bahwa peran pemandu sangat strategis dalam membentuk pengalaman wisata yang berkesan dan mendidik. Di sinilah esensi dari ekowisata, yakni wisata yang menyatu dengan kesadaran untuk mencintai dan melestarikan alam.
Selain materi tentang pengetahuan lokal, peserta pelatihan juga dibekali keterampilan komunikasi efektif dan empatik. Anis menekankan pentingnya membuka hati dalam menjalani profesi pemandu wisata.
“Profesi ini bukan sekadar pekerjaan. Pemandu semesta adalah mereka yang memandu wisatawan untuk melihat semesta sebagai sahabat, sebagai makhluk hidup yang harus dihormati dan dikasihi,” tuturnya.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Ichsan Mamasa ini juga dirangkaikan dengan praktik lapangan. Peserta diajak mengidentifikasi berbagai jenis flora, mendalami cerita di baliknya, lalu menyusunnya menjadi materi interpretasi yang komunikatif dan menarik.
Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pemandu wisata lokal serta memperkuat peran mereka dalam pelestarian lingkungan sekaligus pengembangan pariwisata berkelanjutan di kawasan Taman Nasional Gandang Dewata. (70n/Ag4ys/4dv)








