MAMASA—Di tengah derasnya arus modernisasi, jejak tenun tradisional Toraja Barat justru masih bertahan di wilayah yang jauh dari pusat perkembangan. Bukan di kota besar, melainkan di pedalaman Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Ironisnya, keterbatasan infrastruktur yang selama ini dianggap hambatan justru menjadi benteng yang menjaga keaslian warisan budaya tersebut.
Salah satu warisan itu adalah pallawa’, teknik tenun kuno yang hingga kini masih terus dipertahankan oleh para penenun tradisional di Mamasa.
Dalam buku Textile from Sulawesi in Indonesia: Genealogy of Sacred Cloth, peneliti Jepang Keiko Kusakabe mencatat Mamasa sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang masih menjaga tradisi tenun kartu, sebuah teknik tenun tua yang kini semakin langka. Di Dusun Bata, Desa Balla, Kecamatan Balla, keterampilan itu tetap hidup dan diwariskan lintas generasi.
Secara lokal, teknik tersebut dikenal dengan nama pallawa’, yang berarti “kartu”. Teknik ini termasuk salah satu metode tenun tertua sekaligus paling rumit. Dalam proses pembuatannya, penenun menggunakan kartu kecil berukuran sekitar 2 x 2 sentimeter yang saat ini umumnya dibuat dari kayu hitam, menggantikan bahan lama berupa tanduk kerbau.
Setiap kartu memiliki lubang di setiap sisinya yang diisi benang dengan jumlah keseluruhan dapat mencapai 216 helai.
Proses menenun dilakukan dengan membolak-balik kartu secara cepat sambil menjaga urutan susunan benang. Dibutuhkan konsentrasi dan ketelitian tinggi karena satu kesalahan kecil dapat mengubah keseluruhan motif.
Jumlah kartu yang digunakan pun berbeda-beda. Sebanyak 18 kartu dapat menghasilkan tenun selebar sekitar 2 sentimeter, sementara penggunaan 30 kartu mampu membentuk tenunan hingga 5 sentimeter.
Keunikan pallawa’ tidak hanya terletak pada tekniknya, tetapi juga pada cara menciptakan motif. Para penenun tidak menggunakan pola gambar atau rancangan visual. Puluhan motif yang dihasilkan lahir dari ingatan yang diwariskan turun-temurun dan dipraktikkan secara berulang dalam lingkungan keluarga.

Tradisi itu masih dijaga hingga sekarang.
Sari, cucu salah satu penenun pallawa’ di Desa Balla, mengatakan ibu dan neneknya masih aktif menenun meski sebagian besar pelaku kerajinan tersebut kini telah berusia lanjut.
“Karena kami tinggal di pedalaman, banyak orang belum tahu kalau tenun ini masih dibuat,” ujar Sari.
Menurutnya, keterbatasan akses dan jaringan komunikasi masih menjadi tantangan utama untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan hasil tenun ke luar daerah. Meski begitu, keluarganya tetap mempertahankan tradisi tersebut sebagai bagian dari warisan budaya yang tidak ingin terputus.
Karena tingkat kesulitannya yang tinggi, teknik pallawa’ hanya dikuasai sebagian kecil penenun dan umumnya dikerjakan berdasarkan pesanan.
Selama ini, pallawa’ lebih sering digunakan sebagai lis atau ornamen pinggir kain tenun yang kemudian dijahit menjadi busana. Selain itu, hasil tenunan ini juga dimanfaatkan sebagai tali sepu’, tas tradisional perempuan Mamasa yang digunakan dalam aktivitas adat maupun keseharian.
Dari sisi ekonomi, nilai tenun pallawa’ terbilang masih terjangkau. Harga jualnya berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per meter, angka yang sesungguhnya belum sepenuhnya mencerminkan tingkat kerumitan dan waktu pengerjaan yang dibutuhkan.
Padahal, di balik bentuknya yang sederhana, pallawa’ menyimpan peluang lebih besar dari sekadar elemen pelengkap kain. Dengan kekuatan teknik, nilai sejarah, dan karakter visual yang khas, wastra ini berpotensi dikembangkan menjadi produk fesyen bernilai tinggi.
Jika dikemas dalam desain yang lebih modern dan eksklusif, pallawa’ tidak hanya dapat memperluas pasar, tetapi juga membuka jalan bagi wastra Toraja tampil di panggung mode nasional hingga internasional.
Lebih dari sekadar tekstil, pallawa’ adalah penanda identitas budaya dan bukti bahwa tradisi dapat tetap hidup di tengah perubahan zaman—selama masih ada tangan-tangan yang setia menjaganya. (4nny)

Tenun kartu Pallawa’ dapat dimodifikasi dan dipadukan dengan kain antik menjadi sepu’ Toraja yang dikenakan perempuan dalam berbagai kesempatan, baik untuk kebutuhan adat maupun fashion.. (Foto : Anny Marimbunna)








