Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Refleksi Ekonomi Sulsel Tahun 2021

631
×

Refleksi Ekonomi Sulsel Tahun 2021

Sebarkan artikel ini
Sudahkah Masyarakat Mematuhi Prokes selama PPKM Darurat?
Riska Eka Agustina

OPINI—Tahun 2022 tinggal menunggu hitungan hari. Pandemi covid-19 yang melanda dunia sejak Maret 2020, masih saja menyisakan tantangan sepanjang tahun 2021 ini. Meski masalah utamanya adalah perihal kesehatan, tetapi berdampak luas pada bidang ekonomi serta moneter. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mengalami kontraksi pada triwulan I 2021, yakni sebesar -0.71 persen.

Akan tetapi mulai menggeliat positif pada triwulan II dan III 2021, yakni secara berturut-turut 7.07 persen dan 3.51 persen. Sejalan dengan kondisi di tingkat nasional, laju pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada triwulan I 2021 pun mengalami kontraksi sebesar -0.21 persen. Kemudian menanjak positif pada triwulan II 2021 yakni sebesar 7.68 persen dan menurun namun tetap tumbuh positif pada triwulan III 2021 menjadi sebesar 3.24 persen.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Kinerja perekonomian yang terus membaik ini tidak lepas dari aktivitas pemulihan ekonomi yang terjadi sejak kuartal II dan III 2021. Bank Indonesia (BI) menyebutkan di dalam laporannya bahwa perbaikan ekonomi domestik ini didukung oleh tingginya kinerja ekspor, konsumsi dan investasi seiring dengan relaksasi pembatasan kegiatan masyarakat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa terjadi perkembangan indikator dini hingga November 2021, seperti Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur, penjualan ritel, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), ekspor dan impor. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi hingga triwulan IV 2021 berada pada kisaran 3.5-4.3 persen.

Indeks Harga Konsumen (IHK) Sulawesi Selatan pada Oktober 2021 meningkat dibanding September 2021 dari 106.49 menjadi 106.53. Peningkatan IHK ini mengakibatkan inflasi pun meningkat sebesar 0.04 persen. Inflasi atau kecenderungan naiknya harga barang dan jasa dapat menjadi salah satu indikator pemulihan ekonomi.

Salah satunya yakni terjadi sinyal kenaikan permintaan dan daya beli masyarakat. Di Sulawesi Selatan terdapat lima kota IHK, yakni Watampone, Parepare, Palopo, Bulukumba, dan Makassar. Inflasi Oktober 2021 tertinggi terjadi di Kota Makassar, yakni sebesar 0.07 persen.

Sementara daya beli petani direpresentasikan melalui nilai tukar petani (NTP). NTP Sulawesi Selatan Bulan Oktober 2021 naik 0.88 persen menjadi 98.78 dibanding September 2021.

Kenaikan terbesar terjadi pada Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (3.77 persen), disusul oleh Perikanan (0.84 persen), dan Hortikultura (0.74 persen). Namun terdapat dua subsektor yang mengalami penurunan, yakni Peternakan (-1.03 persen) dan Tanaman Pangan (-0.29 persen).

Lapangan usaha Pertanian secara umum yang menjadi penopang ekonomi Sulsel (24.52 persen pada triwulan III 2021) ternyata belum sepenuhnya mampu memberikan balas jasa yang menggembirakan bagi petaninya.

Meski pandemi sempat menyebabkan PHK massal dan banyak pemilik UMKM gulung tikar di beberapa wilayah, namun pada Agustus 2021, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Sulawesi Selatan (5.72 persen) berhasil turun, baik jika dibandingkan dengan TPT Februari 2021 (5.79 persen) maupun TPT Agustus 2020 (6.31 persen).

Dibandingkan Februari 2021, sektor industri pengolahan, perdagangan, dan administrasi pemerintah mengalami kenaikan jumlah pekerja. Namun pada sektor pertanian, kontruksi dan jasa pendidikan mengalami penurunan jumlah pekerja.

TPT terendah terdapat pada penduduk dengan tingkat pendidikan SD ke bawah (2.48 persen). Hal ini karena penduduk berpendidikan rendah lebih fleksibel atau tidak memilih-milih dalam melakukan pekerjaan. Apabila tidak bisa masuk ke pekerjaan formal, mereka melakukan pekerjaan serabutan.

Sementara itu, TPT tertinggi terdapat pada penduduk dengan tingkat pendidikan SMK (11.34 persen). Hal ini patut dievaluasi. Lulusan SMK yang diharapkan bisa langsung bekerja setelah lulus sekolah karena telah memperoleh keterampilan kerja, malah menjadi penyumbang TPT tertinggi.

Sinyal positif penurunan TPT juga diiringi dengan penurunan jumlah penduduk miskin. Jika dibandingkan Maret 2021, jumlah penduduk miskin Sulawesi Selatan September 2021 menurun sebesar 15.26 ribu jiwa. Selain itu, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk atau gini rasio (0.382) juga menurun sebesar 0.007 jika dibandingkan dengan Maret 2020.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pun menunjukkan hasil yang membanggakan. IPM Sulsel mencapai 67.26 pada tahun 2012 dan meningkat menjadi 72.24 pada tahun 2021. Meski masih berada di bawah rata-rata IPM nasional, IPM Sulawesi Selatan berhasil meningkat ke level “tinggi” sejak tahun 2017.

Di sisi lain, pada Bulan September 2021, masih belum ada kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Sultan Hasanuddin. Kondisi ini sebagai akibat kebijakan pembatasan perjalanan dalam rangka memutus mata rantai penyebaran covid-19. Namun tingkat penghunian kamar (TPK) September 2021 mencapai 41.62 persen atau meningkat 12.77 poin jika dibandingkan dengan Agustus 2021.

Tingkat Penghunian Kamar yang meningkat padahal tidak ada kunjungan wisatawan mancanegara ini disebabkan oleh kunjungan wisatawan domestik. Hal ini sejalan dengan fokus Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang berupaya menarik wisatawan lokal untuk meningkatkan geliat pariwisata di masa pandemi.

Tak mau ketinggalan dengan geliat positif dari sektor lain, nilai ekspor Sulawesi Selatan pada September 2021 meningkat 31.33 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Negara Jepang merupakan negara tujuan ekspor terbesar pada bulan September 2021, yakni sebesar US$ 109.79 Juta. Disusul oleh Negara Tiongkok (US$ 31.27 Juta), Korea Selatan (US$ 4.03 Juta), Filipina (US$ 3.46 Juta), dan Australia (US$ 1.18 Juta).

Komoditas utama yang diekspor adalah kelompok komoditas nikel (69.16 persen); biji-bijian berminyak (9.77 persen); besi dan baja (7.76 persen); garam, belerang, dan kapur (4.16 persen); serta ikan dan udang (2.60 persen). Tercatat lebih dari setengah nilai ekspor dikirim melalui Pelabuhan Malili (69.16 persen). Disusul oleh Pelabuhan Makassar (26.55 persen) dan Biringkassi (4.10 persen).

Perekonomian Sulsel yang terus membaik sepanjang tahun 2021 ini diharapkan akan terus meningkat pada tahun 2022 mendatang. Hal ini sejalan dengan akselerasi program vaksin nasional oleh pemerintah dalam rangka membangun herd immunity dan mendorong mobilitas serta aktivitas ekonomi.

Bank Indonesia bersama dengan Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan senantiasa bersinergi dalam mendorong pemulihan ekonomi Sulsel, salah satunya melalui pemberian kemudahan akses pembiayaan bagi pelaku UKM. Realisasi APBD dan APBN di Sulawesi Selatan pun mempunyai peran yang strategis dalam pemulihan ekonomi akibat pandemi.

Efektivitas penyaluran bantuan penanganan pandemi perlu dioptimalkan agar dapat memberi efek ganda bagi perekonomian. Tim Pengendalian Inflasi Daerah Sulsel juga melakukan upaya untuk menjaga stabilisasi harga melalui strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif).

Tahun baru, semangat baru. Mari kita optimis dalam menatap prospek ekonomi Sulawesi Selatan tahun 2022 mendatang. Dengan berbagai sinyal perkembangan positif sepanjang tahun 2021 ini, kita harus yakin bahwa tahun 2022 nanti, ekonomi Sulawesi Selatan dapat tumbuh lebih baik lagi. (*)

Penulis: Riska Eka Agustina, S.ST., M.Sc. (Statistisi Pertama di Badan Pusat Statistik)

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!