Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Alhamdulillah, Kaum Pelangi Batal Unjuk Gigi

870
×

Alhamdulillah, Kaum Pelangi Batal Unjuk Gigi

Sebarkan artikel ini
Alhamdulillah, Kaum Pelangi Batal Unjuk Gigi
Fitri Suryani, S.Pd (Freelance Writer)

OPINI—Komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) se-ASEAN bakal menggelar kumpul bareng di Jakarta pada 17-21 Juli 2023 di Jakarta. Acara tersebut diorganisasi oleh ASEAN SOGIE Caucus, organisasi di bawah Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2021, bersama Arus Pelangi dan Forum Asia (Republika.co.id, 10/07/2023).

Berita tersebut sontak menggegerkan dunia maya. Bagaimana tidak, negeri ini dikenal masih begitu kental dengan nilai-nilai ketimuran. Jika pun ada kaum pelangi di negeri ini, keberadaan mereka masih belum begitu berani menampakkan eksistensinya. Hal itu karena mayoritas masyarakat paham bahwa hal itu merupakan tindakan yang jauh dari norma yang berlaku di masyarakat, terlebih norma agama.

Namun, alhamdulillah karena begitu masifnya penolakan atas rencana tersebut, penyelenggara Queer Advocacy Week ASEAN membatalkan kegiatan pertemuan aktivis lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) se-ASEAN di Jakarta. Pertemuan aktivis LGBT se-ASEAN itu dipindah ke luar Indonesia (Detik.com, 12/07/2023).

Tapi tak dipungkiri, keberadaan kaum pelangi kini lambat laun kian berani menampakkan eksistensinya, tak terkecuali di negeri ini, walau belum seperti di negara-negara barat yang liberal. Ini karena mereka didukung oleh lembaga/organisasi besar dunia, sebut saja seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sederet brand kelas dunia juga menyatakan dukungan pada pasangan sesama jenis, bahkan keseluruhan komunitas LGBTQ. Brand tersebut, yaitu Adidas, Nike, Apple, Converse, Disney, Kate Spade, Mac Cosmetic, Morphe, Puma dan Doc Martens (Detik.com, 22/10/2020).

Pun keberadaan mereka telah banyak diakui oleh berbagai negara di dunia, khususnya negara barat yang begitu menjunjung tinggi nilai kebebasan.

Dari itu, wajar jika kini mereka makin berani unjuk gigi, walau banyak yang membenci keberadaan mereka, khususnya negeri yang masih menjunjung tinggi norma agama.

Selain itu, banyaknya kaum pelangi dan makin beraninya mereka tampil di publik tanpa malu-malu, menandakan negara di berbagai belahan dunia, tak terkecuali negeri ini begitu mengedepankan nilai hak asasi manusia (HAM), walau hal itu menabrak norma yang ada di tengah masyarakat.

Ditambah lagi negara yang mengemban demokrasi, di mana demokrasi dan kebebasan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Apalagi demokrasi merupakan paham di mana rakyat berada dalam kekuasaan tertinggi.

Hal itu pun makin menguatkan bahwa sekularisme (pemisahan agama dalam kehidupan) kian bercokol di benak kaum muslim saat ini. Di satu sisi mengakui keberadaan Tuhan, namun di sisi lain manusialah yang dianggap layak untuk menetapkan aturan. Miris!

Sungguh kaum pelangi, jika terus dibiarkan dan makin bertambah jumlahnya akan sangat mengancam, terlebih jika keberadaannya makin diakui oleh masyarakat.

Misal dari segi sosial, awalnya masyarakat menganggap mereka kaum yang menyimpang, namun karena keberadaannya diakui, maka lambat laun eksistensinya dianggap biasa dan bukan menjadi persoalan besar.

Selain itu, jika hal ini terus terjadi, maka dapat dipastikan generasi yang akan datang makin berkurang, karena bagaimana mungkin akan lahir generasi dari pasangan yang sejenis.

Lantas mesti melihat kerusakan yang bagaimana lagikah untuk menyadari betapa buruk dan menyimpangnya perbuatan kaum pelangi?

Sebab dalam ajaran manapun tak ada yang membenarkan perbuatan tersebut. Terlebih dalam Al-Qur’an dan sunah telah menyampaikan betapa terlaknatnya perbuat kaum pelangi. Perbuatan tersebut pun jelas lebih rendah dari binatang.

Dengan demikian, tidak mudah membabat tuntas perbuatan kaum pelangi saat ini, jika sistem yang ada memberi ruang kepada mereka untuk menunjukkan eksistensinya.

Karenanya, sudah saatnya umat ini sadar bahwa mereka butuh aturan yang dapat menyelesaikan masalah tersebut, yakni dengan adanya penerapan aturan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga umat dapat menjalani kehidupan sebagaimana fitrahnya. Wallahu a’lam. (*)

 

Penulis

Fitri Suryani, S.Pd
(Freelance Writer)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!