OPINI—Ada letupan kegelisahan rakyat yang selama ini dipendam begitu dalam—terhadap pejabat yang korup, aparat yang represif, dan legislator yang kian jauh dari suara konstituennya.
Semua itu semakin diperparah dengan kenyataan hidup rakyat yang kian berat: harga pangan mahal, pajak menjerat, daya beli merosot, dan roda ekonomi yang kian lesu.
Karena itu, peristiwa-peristiwa dalam beberapa hari terakhir harus menjadi momentum refleksi nasional. Kita perlu mengingat bahwa kesabaran rakyat ada batasnya.
Bahwa jabatan—baik sebagai anggota DPR/DPRD, pejabat publik, maupun aparat keamanan—bukanlah privilese, melainkan amanah.
Amanah untuk menjaga rakyat, meringankan beban mereka, dan memperjuangkan masa depan yang lebih baik, sebagaimana diamanatkan konstitusi. Jabatan itu bukanlah alat untuk menjauh dari rakyat, apalagi menjadi ancaman bagi rakyat yang justru menjadi sumber legitimasi dan pembayar pajak negeri ini.
Mari kita berdoa, semoga amarah rakyat ini segera mereda tanpa harus berujung pada anarki yang lebih banyak menimbulkan korban.
Semoga jeritan rakyat cukup terdengar sebagai peringatan yang sebenarnya. Semoga para pejabat, politisi, dan terutama aparat keamanan, membuka hati, menajamkan empati, dan kembali hadir sebagai bagian dari rakyat yang sesungguhnya.
Kepada para anggota DPR/DPRD, ingatlah. Rakyat menuntut kalian kembali sadar sebagai wakil sejati mereka. Tugas mulia kalian adalah memastikan bangsa ini berjalan di jalur konstitusi, demi terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, dan diridhoi Allah SWT. Jangan sampai hanya diri dan keluarga kalian yang hidup dalam kemakmuran, sementara rakyat terjebak dalam kesengsaraan.
Kepada aparat keamanan, khususnya Kepolisian, suara rakyat kali ini adalah sinyal PERINGATAN KERAS. Hentikan cara-cara represif, manipulatif, dan koruptif yang kerap kalian sembunyikan di balik istilah “oknum”. Rakyat sudah muak. Berbenahlah segera!
Kepada Presiden Prabowo yang kami hormati, segeralah bersikap. Bengkalai yang ada di pemerintahan saat ini, beserta penderitaan rakyatmu yang amarahnya memuncak belakangan ini, sungguh jelas siapa penyebabnya. Maka bersihkanlah kabinet Bapak dari semua anasir-anasir yang tidak Pancasilais itu!
Hanya dengan kesadaran, empati, dan keberanian untuk berubah, kita bisa selamatkan bangsa ini dari jurang kehancuran yang semakin dalam.
Dukacita yang mendalam untuk almarhum Affan Kurniawan dan semua yang telah menjadi korban dari rentetan peristiwa beberapa hari terakhir di seluruh Indonesia. (*)
Penulis: Asri Tadda) Ketua DPW Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.


















