Beranda » Puisi » Dariku Anakmu Yang Lahir Di Usia Tua-mu
Dariku Anakmu Yang Lahir Di Usia Tua-mu
Puisi: Dariku Anakmu Yang Lahir Di Usia Tua-mu.
Puisi

Dariku Anakmu Yang Lahir Di Usia Tua-mu

PUISI ini berisikan tentang curahan hati anak anak bangsa yang lahir belakangan, kemudian menyaksikan keadaan bangsa yang tak lagi sama dengan apa yang diceritakan buku dan nenek di rumah. Baik itu karena perubahan lagu dulu dan sekarang, mainan maupun padaa tarian.

Dariku Anakmu Yang Lahir Di Usia Tua-Mu

Karya: Nonna
Mahasiswi UIN Alauddin Makassar,
Jurusan Ilmu Al Qur’an dan Tafsir

Duhai indonesiaku …
Jikalau saja lamanya kau dikandung hanya menghitung durasi
Mungkin tak ada sejarah tentang pedang yang patah
Jikalau saja lamanya kau dikandung hanya menghitung tahun
Mungkin hanya sedikit catatan tentang darah yang tumpah

Sejatinya,

Kau perlu waktu berabad abad lamanya
Berabad abad tuk bisa lahir dari perjuangan yang tiada tara
Tangisan dari air mata yang tak pernah mengering
Bahkan sorak yang tak pernah kedengaran redah
Hingga akhirnya,
Kelahiranmu pun jatuh di tahun 45’ kata sejarah,

Duhai indonesiaku …
“Ahhhh” dalam sandaran kursi lapuk kutersenyum tipis
Betapa kecilnya dirimu waktu itu
Nyanyianmu pun masih sajak nenek moyang yang merindu
Mainan dari kayu dan arang milik ibu
Maupun tarian lekuk milik guru yang masih saja rangkul

Namun kini?
Nyanyianmu tak semerdu dulu lagi
Mainanmu tak seunik dulu lagi
Dan tarianmu? Tak seelok dulu lagi ..

Tak hanya itu
Dedaunan pada pohon pohon lebatmu sengaja digugurkan
Sungai sungai jernihmu sengaja disurutkan
Bahkan langit langit terangmu sengaja dikabutkan

Sungguh,
engkau bukan lagi kisah yang bicarakan nenek dulu,
engkau bukan lagi sejarah yang ada pada buku buku
Tapi engkau adalah sesuatu yang baru
Hingga aku harus bertanya siapakah engkau?
Kau bukan lagi penopang yang lahir ditahun ‘45
Kau bukan tanah yang permai, elok, nan jaya
Tapi kau adalah?

Siapa?
Kau adalah penopang bangsa yang sudah terkenal dalu, ranum nan sepu!!

Duhai indonesiaku …
Jujur saja, Aku rindu …
Rindu pada keelokanmu kata nenek
Rindu pada kepermaianmu kata ayah
Dan rindu pada sejuknya udaramu kata ibu
Namun aku pun harus tahu
Akan ternyata,
Semua itu hanyalah sejarah yang kini lapuk termakan usia
“Ahh… Mungkin karena aku lahir terlambat”

Dariku
Anakmu yang lahir di usia tuamu.