šŸŒ™ Hari ke-5 Ramadhan 1447 H
Imsak04:42
Subuh04:52
Dzuhur12:19
Ashar15:30
Maghrib18:26
Isya19:36
Opini

Deklarasi Nirempati di Tengah Duka Cianjur

2712
×

Deklarasi Nirempati di Tengah Duka Cianjur

Sebarkan artikel ini
Deklarasi Nirempati di Tengah Duka Cianjur
Hijrawati Ayu Wardani, S.Farm, M.Farm (Dosen dan Pemerhati Sosial)

OPINI—Kehidupan dunia memang merupakan ujian bagi manusia, bahkan andai manusia tidak ditimpa oleh musibah apa pun, kehidupan dunia tetap merupakan ujian bagi mereka. Karena itu kesabaran adalah keniscayaan bagi setiap muslim dalam menjalani kehidupan dunia. Maka sabar dalam semua kondisi sangatlah penting, apalagi saat seseorang ditimpa musibah.

Tidak patut bagi seorang Muslim yang ditimpa musibah terus-menerus larut dalam kesedihan. Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah rahimahullaah berkata, ā€œMusibah apa pun yang terjadi tidak akan hilang oleh kesedihan.

Akan tetapi, musibah akan hilang oleh sikap rida, rasa syukur, sabar, keimanan pada takdir, dan ucapan. Qadarullah (Allah memang telah menakdirkan demikian), apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.ā€ (Ibnu al-Qayyim, Zaad al-Ma’aad, 2/342).

Tepat pukul 13.21 WIB, Senin (21/11/2022) terjadi gempa di wilayah Cianjur. Dirilis dari BMKG (21/11/2022), pusat gempa berada di darat 10 km barat daya Kabupaten Cianjur bermagnitudo (M) 5,6.

Kepala BNPB Suharyanto melaporkan, saat konferensi pers via Zoom bersama BMKG, 46 korban meninggal dunia sedangkan sekitar 700 orang terluka. Suharyanto mengatakan banyaknya korban meninggal dunia lantaran kondisi rumah-rumah di Cianjur yang tidak tahan gempa.

Di lain pihak, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cianjur mencatat ada 56 orang yang meninggal terdiri dari anak-anak 40 orang dan yang lainnya adalah orang dewasa. Bupati Cianjur Herman Suherman dalam wawancaranya dengan TVOne menyebutkan, ada kemungkinan korban bertambah karena masih ada tempat-tempat yang sulit dijangkau.

Banyaknya korban akibat bangunan tidak tahan gempa ini, dinilai ahli kegempaan Prof. Ir. H. Sarwidi MSCE. Ph.D. IP-U. perlu antisipasi bangunan yang tahan gempa. Sebagaimana yang pernah terjadi di NTB, ia mengatakan agar konstruksi bangunan, termasuk bangunan baru harus memenuhi standar tahan gempa.

Rendahnya Kesadaran Mitigasi Bencana

WHO pernah menyatakan Indonesia termasuk daerah rawan bencana dan tinggi terdampak bencana. Sebagai negara rentan bencana, tentunya perlu memiliki sistem penanggulangan bencana yang baik. Analisis Bank Dunia (2018) menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dari 35 negara yang menghadapi risiko terbesar akibat bencana alam.

Hampir seluruh wilayah di Indonesia terpapar risiko atas lebih dari 10 jenis bencana alam, antara lain gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, letusan gunung api, kebakaran, cuaca dan gelombang ekstrem, kekeringan, serta likuefaksi. Saat ini, Indonesia bahkan menghadapi bencana nonalam akibat pandemi Covid-19. Dampak dari berbagai bencana tersebut sangat signifikan dan multidimensi.

Ini menunjukkan seolah negara tidak peka mengantisipasi atau salah fokus dalam tataran pencegahan sehingga selalu saja baru bergerak ketika bencana sudah terjadi. Penanggulangan dan pencegahan bencana tidaklah cukup dengan membangun infrastruktur fisik pengendali. Perlu langkah lain berupa pengelolaan lingkungan hidup yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Selama ekologinya tidak diperbaiki, bencana akan terus terjadi.

Namun, bencana sering kali terjadi akibat kelalaian ekologis kita sendiri. Kelalaian dalam mengelola lingkungan hidup menjadi sebab awal terjadinya banyak bencana. Selain itu, dalam mencegah dan menanggulangi bencana, perlu adanya solusi permanen yang tidak terbatas pada pembangunan infrastruktur fisik pencegah bencana.

Konten dilindungi Ā© Mediasulsel.com