MAKASSAR—Di antara deretan motor lawas yang masih setia melintas di jalanan Indonesia, Honda Win adalah salah satu nama yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Motor yang pernah berjaya pada era 1980–2000-an ini kini menjelma menjadi ikon—bukan hanya sebagai kendaraan operasional pegawai negeri di masanya, tetapi juga sebagai motor koleksi yang diburu para penggemar.
Honda Win pertama kali diperkenalkan pada 1984 sebagai motor “serbaguna” yang tangguh di segala medan. Bentuknya yang ramping, ringan, dan mudah dikendarai membuat Win cepat diterima di wilayah pedesaan, perbukitan, hingga kota-kota kecil. Tak heran, motor ini kemudian menjadi andalan berbagai instansi pemerintah, terutama dinas kehutanan dan kesehatan, yang membutuhkan kendaraan lincah untuk menembus medan berat.
Selama lebih dari 20 tahun produksi, Win mengalami beberapa penyempurnaan, namun tetap mempertahankan karakter aslinya: sederhana, kuat, dan fungsional.
Salah satu alasan Honda Win bertahan hingga kini adalah daya tahan mesinnya. Mengusung mesin 97,2 cc empat langkah, Win dikenal hemat bahan bakar namun punya tenaga cukup untuk menaklukkan jalan menanjak.
Para pemilik motor lawas ini sering menyebutnya “mesin bandel apa adanya”—minim perawatan pun masih mampu menyala tanpa banyak keluhan. Suku cadangnya mudah ditemui, dan sebagian besar masih kompatibel dengan motor Honda lain yang sejenis.
Ciri khas Honda Win ada pada bodi kurus, lampu kotak, serta jok panjang yang nyaman untuk perjalanan jauh. Posisi stang yang tinggi membuat pengendara tidak cepat lelah, menjadi alasan mengapa Win kerap dijadikan pilihan pekerja lapangan.
Saat tren motor klasik dan retro kembali naik, desain Honda Win justru semakin dicari. Banyak pecinta otomotif melakukan restorasi, mempertahankan tampilan klasiknya sambil meningkatkan performa.
Meski sudah tidak diproduksi sejak 2005, Honda Win tetap meramaikan pasar motor bekas. Keunggulannya pada konsumsi bahan bakar, bobot ringan, dan konstruksi sederhana menjadikannya pilihan bagi mereka yang membutuhkan motor fungsional tanpa banyak biaya.
Beberapa komunitas Win bahkan berkembang di berbagai daerah, merawat sekaligus menghidupkan kembali romantika perjalanan masa lalu bersama motor legendaris ini.
Lebih dari sekadar alat transportasi, Honda Win adalah bagian dari sejarah mobilitas masyarakat Indonesia. Ia hadir dalam banyak cerita—dari petugas Puskesmas yang menembus jalan berlumpur hingga anak sekolah yang dibonceng di pedesaan.
Keunggulan itulah yang membuat Honda Win tetap hidup di hati para penggemarnya. Di tengah dominasi motor modern, Honda Win membuktikan bahwa legenda tak pernah benar-benar pergi—ia hanya menunggu waktu untuk kembali dihargai.
Honda Win mampu bertahan puluhan tahun dikarenakan mesinnya. Motor yang terkenal tangguh dan mudah dirawat ini memiliki tipe mesin 4-tak, single cylinder, SOHC dengan kapasitas mesin: 97,2 cc dibekali karbulator Keihin PZ 19, transmisi 4 percepatan, manual mampu menghasilkan tenaga maksimal sekitar 8,2 hp dengan sistem pendingin udara dan konsumsi BBM bisa mencapai 45–55 km/l.
Mesin kecil itu mampu memberikan torsi yang cukup besar, membuat Win kuat menanjak bahkan dengan beban berat. Performa ini menjadi alasan mengapa motor ini dijuluki “raja tanjakan” di daerah dataran tinggi seperti Toraja, Malino, dan Enrekang.
Selain itu, meski tampilan luar Honda Win memang tak semewah motor sport modern, namun desain kurus dan simpel itu justru menjadi keunggulannya. Rangka tubular yang kokoh, berat hanya sekitar 85 kg, membuatnya mudah dikendalikan, lampu kotak dan bodi ramping khas motor era 80-an, Jok panjang yang nyaman untuk perjalanan jauh serta Stang tinggi yang membuat posisi berkendara tidak cepat melelahkan.
Konstruksi Win yang sederhana juga memungkinkan pemiliknya melakukan modifikasi dengan biaya murah. Banyak pemilik mengubahnya menjadi motor trail ringan, motor touring klasik, motor operasional harian yang efisien dan bahkan motor restorasi bernilai koleksi. (Ag4ys)


















