PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Kementan Siapkan 2 Juta Hektare untuk Bioetanol, Target 8 Juta Lapangan KerjaDisperkim Makassar Dorong Warga Wujudkan Rumah Sehat hingga Tingkat RTKPK Kembali OTT Kepala Daerah, Bupati Bolmut DiamankanBansos Masuk Era Digital, Gus Ipul Kerahkan Tetangga Jadi Mata Data PemerintahKecamatan Manggala Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di BatuaAppi Minta Dunia Pendidikan Makassar Tak Gagap Hadapi Era AI, Karakter Tetap Jadi PeganganPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Kementan Siapkan 2 Juta Hektare untuk Bioetanol, Target 8 Juta Lapangan KerjaDisperkim Makassar Dorong Warga Wujudkan Rumah Sehat hingga Tingkat RTKPK Kembali OTT Kepala Daerah, Bupati Bolmut DiamankanBansos Masuk Era Digital, Gus Ipul Kerahkan Tetangga Jadi Mata Data PemerintahKecamatan Manggala Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di BatuaAppi Minta Dunia Pendidikan Makassar Tak Gagap Hadapi Era AI, Karakter Tetap Jadi Pegangan
Opini

Ironi Negeri Agraris: Mengapa Beras Masih Harus Diimpor?

130
×

Ironi Negeri Agraris: Mengapa Beras Masih Harus Diimpor?

Sebarkan artikel ini
Yolanda Anjani, S.Kom (Aktivis Dakwah)
Yolanda Anjani, S.Kom (Aktivis Dakwah)

OPINI—Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan sumber daya alam melimpah dan jutaan petani yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Namun, kebijakan impor beras masih kerap muncul dalam kebijakan pangan nasional.

Hal ini kembali menjadi sorotan setelah pemerintah mengumumkan rencana impor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat. Kebijakan tersebut menimbulkan diskusi publik mengenai arah ketahanan pangan nasional dan kemandirian produksi dalam negeri.

Mengutip laporan CNN Indonesia berjudul “Amran soal Impor 1.000 Ton Beras dari AS: Itu Beras Khusus” (3 Maret 2026), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa beras yang diimpor merupakan beras khusus dan jumlahnya relatif kecil dibandingkan stok nasional.

Pemerintah menilai impor ini tidak akan memengaruhi pasokan beras untuk konsumsi masyarakat karena jenis beras tersebut diperuntukkan bagi segmen tertentu seperti restoran atau kebutuhan khusus lainnya.

Meski demikian, kebijakan impor tetap menimbulkan pertanyaan publik. Banyak pihak menilai bahwa impor beras, sekecil apa pun jumlahnya, mencerminkan belum optimalnya pengelolaan potensi pertanian dalam negeri.

Indonesia memiliki lahan pertanian luas, iklim tropis yang mendukung, serta sumber daya manusia yang berpengalaman di bidang pertanian. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa sektor ini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari alih fungsi lahan, keterbatasan teknologi, hingga kesejahteraan petani yang belum memadai.

Selain itu, ketergantungan pada impor juga dapat memengaruhi stabilitas harga dan daya saing produk lokal. Ketika beras impor masuk ke pasar, ada kekhawatiran harga gabah petani akan tertekan. Hal ini berpotensi mengurangi motivasi petani untuk terus menanam padi, yang pada akhirnya dapat berdampak pada produksi nasional dalam jangka panjang.

Dari sudut pandang ketahanan pangan, sebuah negara idealnya mampu memenuhi kebutuhan pangan pokoknya secara mandiri. Ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang ketersediaan stok, tetapi juga tentang kedaulatan dalam menentukan kebijakan pangan tanpa ketergantungan pada negara lain. Oleh karena itu, penguatan produksi dalam negeri menjadi agenda penting yang perlu terus diupayakan.

Upaya tersebut dapat dilakukan melalui berbagai langkah, seperti peningkatan teknologi pertanian, perbaikan sistem distribusi, perlindungan harga bagi petani, serta pengendalian alih fungsi lahan. Dukungan terhadap riset dan inovasi di sektor pertanian juga menjadi faktor penting agar produktivitas lahan dapat terus meningkat.

Di sisi lain, peran pemerintah dalam menyusun kebijakan pangan yang berpihak pada petani dan keberlanjutan produksi menjadi sangat krusial. Kebijakan yang konsisten dan terintegrasi dapat membantu menciptakan ekosistem pertanian yang lebih kuat dan berdaya saing.

Ironi negeri agraris yang masih melakukan impor beras menjadi pengingat bahwa potensi besar yang dimiliki Indonesia perlu dikelola dengan lebih optimal. Dengan kebijakan yang tepat dan dukungan semua pihak, kemandirian pangan bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. (*)


Penulis:
Yolanda Anjani, S.Kom
(Aktivis Dakwah)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com