OPINI—Jumlah penduduk usia muda yang relatif besar merupakan unsur prestise suatu bangsa. Modal besar untuk kemajuan dan kebangkitan. Dengan catatan, mereka memiliki kepribadian dan kualitas hidup yang baik. Di Indonesia, dari hasil sensus yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang Februari-September 2020, jumlah penduduk Indonesia didominasi usia muda (jumlah penduduk Indonesia 2021).
Dikutip dari Hasil Sensus Penduduk 2020 pada Jumat (22/1/2021), jumlah generasi Z mencapai 75,49 juta jiwa atau setara dengan 27,94 persen dari total seluruh populasi penduduk di Indonesia.
Sementara itu, jumlah penduduk paling dominan kedua berasal dari generasi milenial sebanyak 69,38 juta jiwa penduduk atau sebesar 25,87 persen. (kompas.com, 22/01/2021)
Namun, sungguh disayangkan apa yang terjadi pada remaja sepanjang tahun 2021 ini di dominasi dengan berita negatif, diantaranya kasus kenakalan remaja dengan berbagai bentuk yang tiada hentinya. Dan sudah melampaui batas serta menjurus pada tindakan kejahatan atau kriminalitas. Seperti tawuran yang menimbulkan korban.
Baru-baru ini, kembali lagi terjadi tawuran yang memakan korban. Polisi dan emak-emak terkena panah dari aksi tawuran yang terjadi di Makassar. Alhasil, enam remaja belasan tahun dan seorang pemuda yang terekam kamera CCTV terlibat tawuran, berhasil diamankan.(makassar.tribunnews.com, 11/12/2021)
Demikian pula, tawuran antar pelajar di Mamuju terjadi beberapa hari lalu. Dilansir dari tribun-sulbar.com, bahwa Perkelahian tersebut melibatkan siswa kelas dua dan kelas tiga SMA Negeri 2 Mamuju. Kejadian tersebut berawal dari sosmed. Mereka saling sindir hingga berujung perkelahian. (03/12/2021)
Tawuran di kalangan remaja seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perilaku pelajar. Meski sudah banyak korban, hal ini terus terjadi. Tak hanya itu, geng motor, penganiayaan, pencurian kendaraan bermotor, maraknya pornografi dengan pelaku utama remaja, merebaknya seks bebas dan pelacuran dibawah umur, pemakaian narkoba di kalangan remaja dll, mewarnai hidup kalangan remaja. Ini tak bisa dianggap sebagai kenakalan biasa. Semua itu layak disebut sebagai tindakan kejahatan atau kriminalitas.
Buah Sistem Sekuler Liberal
Berulangnya kasus kejahatan anak di tiap tahunnya menyimpan tanya. Mengapa hal tersebut sangat sulit untuk dibendung? Terlebih ini adalah terkait dengan generasi bangsa. Jika, sejak awal generasi muda ini sudah memiliki kepribadian yang buruk, lalu bagaimana nasib bangsa kedepannya?
Sebagian besar berpendapat bahwa kasus kejahatan yang melibatkan anak-anak atau remaja paling dominan adalah karena pengaruh globalisasi dan komersialisasi. Demi mengikuti perkembangan jaman, keinginan mengakses informasi lewat internet dan memiliki smartphone untuk berkomunikasi atau keinginan memiliki hal apapun demi eksis di hadapan kalangan sebayanya, namun karena persoalan ekonomi yang rendah membuat anak tersebut nekat untuk mendapatkan sesuatu dengan cepat.
Di sisi lain, peran orangtua yang kurang maksimal dalam mendidik anak dan memberikan pemahaman agama serta lingkungan tempat anak bersosialisasi yang kurang kondusif, turut berpengaruh terhadap kejahatan anak. Kesenjangan ekonomi, kemiskinan dan kerusakan moral meliputi mereka, menjadi pemicu kejahatan anak. Namun, ketiga hal ini sesungguhnya hanyalah akibat dari penerapan sistem kapitalis liberal di negeri ini.
Dengan asas sekulerismenya, yang memisahkan agama dari kehidupan telah mencabut nilai-nilai moral. Ditambah dengan paham liberalisme telah menghasilkan kebebasan berperilaku, hingga norma-norma agama semakin terpinggirkan. Padahal, kekuatan ruhiyah yang lahir dari pemahaman terhadap agama adalah satu-satunya yang mampu menerapkan nilai-nilai moral. Ibarat mendorong mobil yang rusak, memberikan pendidikan moral tanpa membangkitkan kekuatan ruhiyah hanyalah lelah tanpa hasil.
Dalam aspek pendidikan yang merupakan tombak peradaban dan keberadaannya menjadi penentu bagi generasi yang tercipta, dengan sistem yang diterapkan saat ini pun telah mengabaikan aspek pembentukan kepribadian dan karakter siswa. Sekolah sebagai institusi pendidikan, alih-alih mencetak remaja yang berkualitas yang memiliki kepribadian yang kuat, namun justru menciptakan remaja yang menciptakan banyak masalah.
Kurikulum 2013 yang mengedepankan penilaian sikap (afektif), ternyata belum mampu mengarahkan para pelajar untuk bersikap baik atau beradab. Apalagi selama pandemi covid-19 kebijakan pembelajaran jarak jauh, pembelajaran semakin tidak maksimal.
Mengatasi Kejahatan Anak
Beda halnya Islam, yang menjadikan akidah Islam sebagai asas dalam berkehidupan, memiliki aturan yang sempurna dan mencakup segala aspek kehidupan. Berbagai persoalan yang menimpa masyarakat, termasuk anak dan remaja, Islam memiliki solusinya.
Dalam Islam, telah ditetapkan bahwa keselamatan anak bukanlah menjadi tanggung jawab keluarganya saja. Masyarakat dan negara pun memilik andil yang besar untuk mewujudkan anak-anak yang berkualitas dan berkepribadian yang baik.
Keluarga sebagai lingkungan pertama bagi anak-anak mendapatkan pendidikan dan penanaman akidah yang kokoh. Sedangkan masyarakat, jika lingkungan yang kondusif terbentuk dalam masyarakat juga akan baik bagi keberlangsungan kehidupan anak. Adanya amar ma’ruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat akan menentukan pula sehat tidaknya sebuah masyarakat.
Adapun peran negara, Islam mewajibkannya untuk menjamin anak memperoleh pendidikan berkualitas dengan mudah. Islam pun mewajibkan negara menjamin setiap warganya agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, yaitu sandang, papan dan pangan. Selain itu, menjaga agama dan moral serta menghilangkan setiap hal yang dapat merusak seperti peredaran minuman keras, narkoba, pornografi dsb, juga merupakan kewajiban negara.
Sebab, dalam Islam negaralah satu-satunya institusi yang dapat melindungi anak dan yang mampu mengatasi persoalan kejahatan anak ini secara sempurna. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW terkait tanggung jawab pemimpin negara:
“Imam (kepala negara) itu adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Wallahu a’lam
Penulis: Hamsina Halik (Pegiat Literasi Revowriter)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

















