Memuat Ramadhan…
Memuat cuaca…
Ekonomi

Kenaikan Harga Shampoo dan Pasta Gigi Penyebab Kenaikan Inflasi di Sulsel

1064
×

Kenaikan Harga Shampoo dan Pasta Gigi Penyebab Kenaikan Inflasi di Sulsel

Sebarkan artikel ini
Buka kembali Pelayanan di Kantor BI Sulsel, Ini Syarat dan Waktunya
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan membuka kembali layanan uang Rupiah kepada masyarakat yang berada di wilayah Sulawesi Selatan.

MAKASSAR—Bank Indonesia perwakilan provinsi sulsel mencatat pada bulan oktober tahun 2021 provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mengalami inflasi sebesar 0,04% (mtm) atau lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar -0,14% (mtm).

Pelaksana tugas (Plt) Kepala perwakilan Bank Indonesia provinsi Sulsel Fadjar Majardi mengatakan, kelompok penyumbang inflasi utamanya berasal dari kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga yang mengalami inflasi sebesar 0,10% (mtm).

“Inflasi Sulsel secara keseluruhan baik tahunan maupun tahun kalender tercatat sebesar 1,75% (yoy) dan 1,09% (ytd), berada dibawah sasaran inflasi nasional pada tahun 2021 yang sebesar 3,0±1 persen,” ungkapnya.

Ia menyebutkan inflasi terjadi hampir di seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan harga pada kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga kontrak/sewa rumah, seng, dan tukang bukan mandor.

“Kenaikan pada kelompok Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga, terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga sabun detergen, pembersih lantai, dan pengharum cucian,” sebutnya.

Lebih jauh Fadjar Majardi menjelaskan, kenaikan harga pada kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga shampoo dan pasta gigi.

“Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh deflasi pada kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau, terutama dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas telur ayam ras, ikan bandeng/bolu, tomat, dan beras,” tuturnya.

Penurunan harga pada komoditas ini didukung oleh distribusi yang lancar sehingga ketersediaan pasokan relatif terjaga meski di tengah situasi PPKM.

“Inflasi sepanjang tahun 2021 diprakirakan tetap terkendali. Namun demikian, untuk mengantisipasi potensi kenaikan tekanan inflasi pada sisa tahun 2021, Bank Indonesia bersama dengan Pemerintah Daerah dan instansi terkait lainnya, yang seluruhnya tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), terus melakukan koordinasi dan merumuskan strategi pengendalian inflasi.

“Beberapa strategi utama meliputi koordinasi kelancaran produksi dan distribusi komoditas pangan strategis, serta optimalisasi pemantauan harga secara langsung di lapangan maupun melalui PIHPS,” tutupnya. (*)

error: Content is protected !!