Advertisement - Scroll ke atas
Peristiwa

Korban Meninggal Gempa Sulteng Telah Mencapai 1.407 Jiwa

696
×

Korban Meninggal Gempa Sulteng Telah Mencapai 1.407 Jiwa

Sebarkan artikel ini
Presiden Joko Widodo mengawasi proses evakuasi korban dekat puing-puing Hotel Roa-Roa setelah gempa kuat di Palu, Sulawesi Tengah, 3 Oktober 2018.

PALU – Memasuki hari kelima pasca gempa dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah, korban tewas terus bertambah seiring dengan upaya evakuasi dan penyelamatan.

Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami yang di Sulawesi Tengah merangkak naik menjadi 1.407 orang, mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Rabu (3/10).

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Lebih dari 2.500 orang mengalami luka parah karena gempa berskala 7,5 SR dan tsunami yang mematikan pada Jumat (28/9) pekan lalu, menurut data BNPB.

Para petugas penyelamat juga berpacu dengan waktu menjangkau daerah-daerah yang belum mendapat bantuan. Namun, kerusakan sarana dan fasilitas, serta infrastruktur masih menghambat penyaluran bantuan dan upaya pencarian.

Menurut kantor badan bantuan kemanusiaan PBB, seperti dikutip Mediasulsel.com melalui AFP, ada sekitar 200 ribu orang membutuhkan bantuan segera, termasuk ribuan anak-anak.

Sementara itu, pasokan makanan dan air bersih masih minim hingga para korban selamat harus berjuang mengatasi rasa lapar dan haus. Rumah sakit-rumah sakit juga kewalahan merawat korban luka yang jumlahnya ribuan.

“Kesan dari tim-tim yang bertugas di sana…ada rasa frustrasi besar,” kata Jens Laerke, kepala kantor badan bantuan kemanusiaan PBB kepada para wartawan di Jenewa, Selasa (2/10) petang.

“Masih ada wilayah-wilayah besar yang mungkin sangat terdampak, tapi belum dijangkau. Namun tim-tim terus bekerja dan mereka melakukan yang bisa mereka lakukan.”

Dalam pantauan  di Kota Palu yang luluh lantak diterjang gelombang tsunami, petugas kepolisian terpaksa menembakkan tembakan peringatan untuk mencegah warga menjarah toko-toko.

Pusat Koordinator Bantuan Kemanusiaan ASEAN mengatakan yang sangat dibutuhkan sekarang adalah tambahan kantong jenazah, karena kekhawatiran jenazah-jenazah yang membusuk bisa menjadi sumber penyakit mematikan.

Upaya penyelamatan masih terhalang kurangnya peralatan berat, jalan-jalan utama yang rusak berat, tingkat kerusakan, serta keengganan pemerintah pada awalnya untuk menerima bantuan asing.

Bantuan internasional juga terus mengalir sejak Jakarta meminta bantuan. Pada Selasa Petang, Dana Pusat Respon Gawat Darurat PBB mengalirkan bantuan senilai $15 juta.

Rabu (3/10), Australia juga mengumumkan akan mengirimkan tim medis ke wilayah bencana dan menyediakan bantuan tambahan senilai $5 juta.

Meski sudah banyak komitmen bantuan internasional, tapi keputusasaan sangat terasa di Kota Palu. Para penyintas tampak menyisir puing-puing untuk mencari apa pun yang masih bisa diselamatkan.

Antrian panjang tampak di beberapa lokasi untuk mendapatkan air, uang tunai, atau BBM yang didatangkan dengan pengawalan konvoi polisi.

“Pemerintah, presiden sudah berkunjung. Tapi yang sangat kami butuhkan adalah makanan dan air,” kata Burhanuddin Aid Masse, 48 tahun ini.

Sanitasi juga mulai menjadi masalah

“Semua orang ingin ke toilet, tapi tidak ada toilet satu pun. Jadi kami terpaksa melakukannya di sepanjang pinggiran jalan pada malam hari,” kata Armawati Yamin, 50 tahun.

Pelabuhan Palu, yang menjadi titik transit penting, juga rusak oleh gempa.

Tempat berlabuh kapal selamat dari kerusakan, tapi banyak mesin derek dan peralatan yang diperlukan untuk bisa bongkar muat bantuan dengan cepat, roboh oleh guncangan gempa, kata PBB. [VOA/shar]

error: Content is protected !!