OPINI—Maraknya Fenomena “kesepian di tengah keramaian” kini menjadi topik penting di era digital, terutama di tengah maraknya penggunaan media sosial. Sebuah riset dari mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berjudul “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual” mengungkap fakta menarik: meskipun media sosial—khususnya TikTok—memberikan ruang interaksi luas, banyak penggunanya justru merasa kesepian, terisolasi, dan kehilangan kedekatan sosial di dunia nyata (Detik, 2024).
Dalam riset tersebut, para peneliti menyatakan: “Pengguna sering merasa terhubung melalui interaksi digital, padahal secara nyata mereka mengalami kesepian di tengah keramaian.”
Fenomena ini dijelaskan dengan teori hiperrealitas Jean Baudrillard. Dalam Simulacra and Simulation (1981), Baudrillard menulis: “In the era of simulation, signs of the real replace the real itself, and reality becomes a simulation of reality.” Artinya, representasi digital seperti video, komentar, atau like sering dianggap lebih nyata daripada realitas sosial.
Akibatnya, individu merasa telah “terhubung” secara emosional melalui layar, padahal di dunia nyata ia tetap sendiri. Hal ini sejalan dengan temuan UMY yang menegaskan: “Emosi yang ditampilkan di media sosial bisa membentuk persepsi kesehatan mental seseorang, sehingga apa yang ditampilkan tidak selalu sesuai dengan kenyataan yang dialami.”
Selain itu, data global juga memperkuat temuan ini. Survei Cigna (2019) menunjukkan bahwa Generasi Z adalah kelompok yang paling merasa kesepian dibanding generasi lain. Walaupun mereka aktif secara digital, namun mereka cenderung merasa tidak memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan orang-orang di sekitarnya.
Penyebab terjadinya fenomena kesepian digital ini seringkali dianggap karena Minimnya Literasi digital atau lemahnya manajemen waktu penggunaan gawai. Padahal, masalahnya jauh lebih dalam. Kesepian yang dialami generasi muda adalah hasil dari pola interaksi yang dibentuk oleh sistem sekuler liberal. Sistem inilah yang menekankan kebebasan individu tanpa batas, mengejar kepuasan pribadi, dan mengabaikan keterikatan sosial. Akibatnya, meskipun seseorang punya ratusan hingga ribuan pengikut di media sosial, ia akan tetap merasa kosong karena tidak ada makna spiritual maupun ikatan sosial yang hakiki.
Kapitalisme Digital dan Eksploitasi Emosi
Media sosial bukan ruang netral. Ia adalah produk industri kapitalis global yang bertujuan memperoleh keuntungan. Algoritma dirancang untuk membuat pengguna betah berlama-lama, meski dampaknya merusak kesehatan mental. Konten hiperrealitas yang diproduksi secara masif membuat realitas menjadi kabur, orang merasa bahagia dengan validasi digital, padahal ia semakin kehilangan keterhubungan nyata.
Inilah bentuk nyata dari eksploitasi kapitalisme: emosi manusia dijadikan komoditas, perhatian pengguna diubah menjadi ladang bisnis, sementara dampak sosial—kesepian, kecemasan, depresi—tidak pernah masuk dalam neraca keuntungan perusahaan.
Akibat pola ini, banyak orang khususnya generasi muda sulit membangun interaksi sehat di dunia nyata. Mereka nyaman mengekspresikan diri di media sosial, tetapi kikuk ketika harus berinteraksi secara langsung. Bahkan, dalam lingkup keluarga, interaksi antar anggota menjadi renggang karena masing-masing sibuk dengan gawai.
Fenomena ini menumbuhkan generasi yang individualis, rapuh secara emosional, dan kehilangan kepedulian terhadap problematika umat. Generasi muda yang seharusnya produktif justru terjebak dalam kesepian kolektif, sibuk memelihara self-image ketimbang memberi kontribusi nyata bagi umat.
Hal ini jelas tak bisa dibiarkan, sebab akan berdampak sangat serius bagi generasi kedepannya. Munculnya generasi yang terputus dari realitas sosial dan politik umat. Menurunnya empati dan solidaritas sosial karena orang hanya peduli pada “like” dan “followers”. Dengan kata lain, “kesepian di tengah keramaian” bukan hanya problem individu, tetapi juga ancaman bagi ketahanan sosial dan peradaban umat.
Islam Solusi Kesepian Kolektif
Islam Adalah agama yang kompherensif mengatur segala aspek kehidupan manusia. Oleh karenanya kita harus kembali menjadikan Islam sebagai identitas dan pijakan hidup. Dalam Islam, manusia dipandang sebagai makhluk sosial yang memiliki kebutuhan berinteraksi dengan sesama, sekaligus makhluk spiritual yang membutuhkan keterhubungan dengan Sang Pencipta. Maka dengan adanya kesadaran ini, interaksi di media sosial tidak lagi menjadi pelarian dari kesepian, melainkan sekadar sarana dakwah dan silaturahmi yang mendukung kehidupan nyata.
Islam juga menekankan pentingnya ukhuwah dan silaturahmi. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang mukmin hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim). Nilai ini menegaskan bahwa koneksi hakiki tidak bisa digantikan oleh “like” atau “views”, tetapi dibangun melalui kepedulian nyata dalam kehidupan sosial.
Dengan memperkuat ukhuwah, umat tidak akan mudah terjebak dalam kesepian kolektif yang diciptakan oleh sistem kapitalis. Sebaliknya, mereka akan saling peduli, berbagi, dan berinteraksi secara nyata satu sama lain.
Selain itu dalam sistem Islam (Daulah Khilafah Islamiyyah), Negara memiliki peran sentral dalam mengatur media. Negara berperan mengawasi dan tidak akan membiarkan industri digital menguasai ruang publik demi keuntungan kapitalis semata.
Dalam sistem Islam, Negara wajib memastikan bahwa konten digital membawa manfaat, mendukung produktivitas, menjaga Aqidah, dan memperkuat ukhuwah. Negara juga perlu menyediakan ruang-ruang interaksi nyata, seperti majelis ilmu, kegiatan sosial, hingga forum kreatif yang memungkinkan generasi muda menyalurkan energi dan potensinya secara positif agar mereka dapat mengembangkan potensi dan kontribusi bagi peradaban Islam.
Dengan penjagaan Islam dalam bingkai Negara akan mengembalikan Misi Kehidupan, yakni mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia bukan mencari kesenangan dunia, melainkan beribadah kepada Allah SWT. Kesadaran inilah yang akan meredam perasaan kosong akibat hiperrealitas media.
Bagi seorang Muslim yang paham misinya tentu akan mengisi waktunya dengan amal produktif: menuntut ilmu, berdakwah, membantu sesama, dan berkontribusi bagi umat. Dengan demikian, ia tidak akan terjebak dalam “kesepian digital” karena hidupnya penuh makna.
Alhasil, Fenomena “Lonely in The Crowd” adalah alarm keras bagi kehidupan Masyarakat di era digital ini. Jelas hal ini membuktikan betapa sistem sekuler liberal telah gagal memberi kebahagiaan sejati. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana silaturahmi justru berubah menjadi mesin pengasingan kolektif.
Maka sudah saatnya kita Kembali kepada aturan Islam yang akan menjadi solusi komprehensif: memperkuat identitas, merekatkan ukhuwah, mengontrol media secara adil, dan mengembalikan visi dan misi hidup kita sebagai manusia.
Hanya dengan kembali pada Islam, generasi muda bisa keluar dari jerat kesepian digital dan kembali menjadi generasi tangguh, produktif, dan peduli pada problematika umat. Wallahu a’lam Bishawab. (*)
Penulis: Ayu Khawalah
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.










