Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Media Sosial, Sistem Sekuler-Liberal, dan Fenomena “Lonely in The Crowd”

758
×

Media Sosial, Sistem Sekuler-Liberal, dan Fenomena “Lonely in The Crowd”

Sebarkan artikel ini
Ilmi Mumtahanah (Freelance Writer)
Ilmi Mumtahanah (Freelance Writer)

OPINI—Fenomena media sosial sebagai ruang interaksi baru telah mengubah wajah peradaban manusia. Tidak bisa dipungkiri, media sosial telah memberi akses luas bagi manusia untuk saling terhubung, menyampaikan ekspresi diri, hingga menciptakan jejaring lintas batas ruang dan waktu.

Namun, di balik segala kemudahan itu, media sosial juga menyimpan sisi gelap yang kini kian terasa: manusia semakin terhubung secara digital, tetapi kian renggang secara sosial. Perasaan sepi justru makin mendera di tengah keramaian dunia maya. Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah lonely in the crowd.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengangkat hal ini dalam riset berjudul “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual”.

Riset ini menemukan bahwa media sosial, khususnya TikTok, menghadirkan hiperrealitas yang kerap dianggap lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Representasi digital tersebut memengaruhi emosi, membentuk persepsi, bahkan mampu menggiring kesehatan mental dan kualitas hubungan sosial penggunanya (Detik, 18-9-2025).

Riset tersebut menyingkap fakta bahwa seseorang bisa begitu aktif di media sosial; mengunggah konten, memberi komentar, atau membangun interaksi digital, namun tetap merasa kesepian dalam kehidupan nyata. Inilah paradoks kehidupan digital; semakin banyak koneksi virtual, semakin tipis kualitas hubungan sosial di dunia nyata.

Generasi muda, khususnya Gen Z, menjadi kelompok yang paling rentan. Mereka sering merasa insecure, kesepian, bahkan terjebak dalam masalah kesehatan mental. Apakah ini hanya soal kurangnya literasi digital? Jawabannya tidak sesederhana itu.

Sistem Sekuler-Liberal dan Budaya Kapitalistik

Kesepian massal yang terjadi di tengah keramaian media sosial bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ia lahir dari sistem sekuler-liberal yang menjadi fondasi masyarakat modern saat ini.

Sistem sekuler memisahkan agama dari kehidupan, sehingga manusia diarahkan untuk memaknai kebahagiaan sebatas pada pencapaian materi, popularitas, atau validasi sosial. Media sosial pun akhirnya menjadi ruang utama bagi manusia untuk mencari “pengakuan” dan “makna”. Padahal, semua itu semu, rapuh, dan fana.

Lebih dari itu, industri kapitalis yang mendominasi dunia digital sengaja menciptakan arus yang mendorong manusia untuk terus aktif, adiktif, bahkan terjebak dalam konsumsi konten tanpa henti. Platform digital mengandalkan algoritma yang menstimulasi dopamine otak, membuat pengguna ketagihan scroll, like, share, dan repeat.

Namun, alih-alih menghadirkan kebahagiaan, yang muncul justru perasaan hampa. Realitas nyata makin tersisih, hubungan manusia makin renggang, dan sikap asosial pun tumbuh subur.

Tidak sedikit keluarga yang kini teralienasi oleh gadget. Anggota keluarga duduk bersama di satu ruangan, tetapi sibuk dengan gawainya masing-masing.

Relasi emosional yang seharusnya terjalin hangat kini dingin oleh sekat digital. Bahkan di tengah masyarakat, pola interaksi tatap muka makin jarang, digantikan oleh komunikasi singkat via aplikasi. Manusia merasa terhubung, tetapi sejatinya terasing.

Dampak Buruk bagi Generasi Muda dan Umat

Fenomena kesepian di tengah keramaian ini tentu membawa dampak serius, terlebih bagi generasi muda yang menjadi tulang punggung umat. Ada tiga hal besar yang perlu dicermati, pertama, generasi yang asosial. Kesibukan di dunia maya membuat anak muda kehilangan keterampilan sosial nyata. Mereka lebih nyaman mengekspresikan diri lewat layar ketimbang berinteraksi langsung.

Kecanggungan sosial meningkat, empati melemah, dan solidaritas antarindividu semakin rapuh. Padahal, masyarakat membutuhkan interaksi yang nyata untuk membangun kebersamaan dan solidaritas.

Kedua, generasi yang rapuh mental. Fenomena “lonely in the crowd” membuat banyak anak muda terjebak dalam krisis identitas. Mereka membandingkan diri dengan konten orang lain, merasa rendah diri, insecure, dan akhirnya terganggu kesehatan mentalnya.

Data global menunjukkan peningkatan signifikan kasus depresi dan kecemasan pada remaja di era media sosial. Ini pertanda generasi sedang melemah di dalam dirinya sendiri.

Ketiga, generasi yang tak produktif. Alih-alih menghasilkan karya, banyak anak muda tenggelam dalam scroll tak berujung. Energi kreatif dan potensi besar yang seharusnya disalurkan untuk membangun umat malah terbuang sia-sia untuk hal-hal remeh.

Generasi yang sibuk dengan kesepian dirinya sendiri akan sulit peduli terhadap problematika umat. Akibatnya, umat Islam kehilangan daya dorong dari generasi muda yang seharusnya menjadi motor perubahan.

Islam sebagai Identitas Utama

Fenomena kesepian massal akibat media sosial tidak bisa diselesaikan hanya dengan anjuran literasi digital atau manajemen gawai. Akar masalahnya terletak pada paradigma sekuler liberal yang menafikan peran agama dalam mengatur kehidupan. Oleh karena itu, solusi sejati hanya bisa ditemukan dengan menjadikan Islam sebagai identitas utama masyarakat.

Pertama, kesadaran dan ketakwaan individu. Setiap muslim harus menyadari bahwa kebahagiaan hakiki bukanlah jumlah like, followers, atau views, melainkan kedekatan dengan Allah Swt. Islam mengajarkan ukhuwah Islamiyah yang nyata, bukan sekadar koneksi digital.

Seorang muslim didorong untuk hadir secara fisik dalam majelis ilmu, salat berjemaah, silaturahmi, dan aktivitas sosial yang memperkuat ikatan ukhuwah. Inilah “ramuan” sejati untuk melawan kesepian.

Kedua, keluarga sebagai basis pendidikan. Keluarga muslim harus menjadi benteng pertama melawan kesepian digital. Komunikasi hangat, pendidikan akhlak, dan pembiasaan ibadah berjamaah akan menguatkan ikatan emosional.

Orang tua perlu hadir, bukan hanya menyediakan fasilitas gawai, tetapi juga menjadi teladan dalam penggunaan media sosial secara sehat.

Ketiga, masyarakat yang peduli. Islam menekankan amar makruf nahi munkar sebagai mekanisme sosial. Jika ada anggota masyarakat yang terjebak dalam kesepian digital, masyarakat harus peduli, mengajak, dan merangkul. Kehadiran komunitas dakwah, halaqah, dan majelis ilmu akan membentuk ruang alternatif yang sehat, jauh dari sekat digital.

Keempat, peran negara. Negara memiliki peran vital dalam mengendalikan arus digital. Islam memandang negara sebagai pengatur urusan umat. Negara harus hadir dengan kebijakan yang membatasi konten merusak, menata industri digital agar tidak semata berorientasi profit, serta mendorong generasi muda agar produktif. Pendidikan Islam harus menjadi pilar utama, membentuk generasi berakhlak mulia dan berdaya saing tinggi.

Penutup

Fenomena lonely in the crowd yang menimpa generasi muda adalah cermin nyata dari kegagalan sistem sekuler liberal dalam menghadirkan kehidupan yang bermakna.

Media sosial yang digadang-gadang sebagai alat koneksi justru menciptakan keterasingan baru. Generasi muda kehilangan keterampilan sosial, rapuh secara mental, dan tak produktif. Padahal, mereka adalah aset berharga umat.

Islam hadir dengan solusi yang paripurna. Islam membangun manusia bukan hanya sebagai makhluk sosial, tetapi juga sebagai hamba Allah Swt. yang butuh kedekatan spiritual. Islam membangun keluarga yang harmonis, masyarakat yang peduli, dan negara yang berperan sebagai pengatur.

Dengan menjadikan Islam sebagai identitas utama, umat tidak akan lagi menjadi korban kesepian di tengah keramaian, melainkan bangkit menjadi generasi yang kokoh, produktif, dan peduli pada problematika umat.

Inilah saatnya kita kembali kepada Islam sebagai pedoman hidup, bukan sekadar agama ritual. Tanpa itu, manusia akan terus menjadi “kesepian di tengah keramaian”, terhubung secara digital, tetapi terasing dalam kenyataan. Wallahualam. (*)

 

Penulis: Ilmi Mumtahanah (Freelance Writer)

 

 

***

 

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!