Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Merokok Cermin Krisis Moral Dunia Pendidikan

440
×

Merokok Cermin Krisis Moral Dunia Pendidikan

Sebarkan artikel ini
Sumiati (Aktivis dakwah muslimah)
Sumiati (Aktivis dakwah muslimah)

OPINI—Sebuah fakta yang membuat hati menjadi pilu, karena peristiwa ini hadir dari dunia pendidikan, tentu menjadi perbincangan publik. Pendidikan adalah tempat pembentukan karakter, namun hari ini kembali tercoreng.

Beredar di media sosial seorang siswa SMA di Makassar berinisial AS, yang dengan santainya merokok dan mengangkat kaki di samping gurunya (Ambo). Berita ini dengan cepat yang menyebar luas di jagat maya.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Namun, guru yang bernama Ambo tersebut hanya mendiamkan saja kelakuan muridnya, tidak mengambil tindakan tegas atau menegur sang murid karena takut dicap melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

Di sisi lain, ada pendidik yang memilih jalur dianggap kekerasan, seperti kasus seorang kepala sekolah di Banten yang menampar muridnya karena ketahuan merokok.

Dan hasilnya, tindakan kepala sekolah di Banten ini menuai kecaman luas, dianggap sebagai kekerasan di lingkungan pendidikan dan berpotensi membawa konsekuensi hukum. (Suara.com Sabtu 18 Oktober 2025).

Dari dua peristiwa ini, meskipun terjadi di tempat yang berbeda dengan respon yang kontras, sebenarnya berakar dari masalah yang sama adanya ruang abu-abu dalam penerapan disiplin siswa dan tergerusnya wibawa guru. Hal ini menunjukkan bahwa kerusakan pada dunia pendidikan di negara kita itu nyata.

Akar masalah utama dari kerusakan dunia pendidikan adalah sistem sekulerisme yang sedang kita anut saat ini. Sistem sekuler adalah sebuah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Pendidikan dijauhkan dari agama, dan negara pun tidak mempunyai standar yang tegas untuk mengatur dunia pendidikan agar jelas arahnya kemana akan dibawa dunia pendidikan saat ini.

Negara saat ini tidak punya visi dan misi yang jelas bagaimana anak didik dibina dalam kepribadian Islam yang memadai.

Negara juga tidak punya kemampuan untuk merangkul menyatukan visi dan misi pendidikan antara orang tua dengan pihak sekolah dan juga masyarakat.

Ketiga komponen tersebut berjalan sendiri-sendiri untuk melakukan misi dan visinya.

Negara juga tidak mempunyai standar untuk menyatukan ketiga komponen tersebut baik pihak sekolah orang tua maupun masyarakat.

Fakta dunia pendidikan saat ini sungguh jauh berbeda ketika pada masa Khilafah tegak. Di mana di masa tersebut syariat Islam diterapkan secara menyeluruh. Dunia pendidikan dibangun berlandaskan sistem syariat Islam.

Pada masa kekhilafahan tegak, kita banyak mengenal sosok yang kecerdasannya luar biasa. Tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki kepribadian islam yang kokoh, seperti Abu’r Rayhan Muhammad bin Ahmad Al Biruni yang hidup antara tahun 973 dan 1048.

Beliau adalah seorang tokoh penting dalam sains dan matematika yang menghasilkan karya-karya penting di bidang astronomi, matematika,, kedokteran, geografi, dan sejarah. Pada usia 17 tahun, ia menentukan awal musim berdasarkan pergerakan matahari, ia mendemonstrasikan cara melakukan operasi caesar yang pertama dalam sejarah dunia.

Kemudian ada Ibnu Yunus, yang melakukan pengamatan dengan astrolab besar berukuran 1,4 meter selama 30 tahun dimulai sejak tahun 977, membuat lebih dari 10.000 catatan tentang posisi matahari selama periode ini.

Lalu ada farghani, salah satu astronom khalifah Ma’mun yang menjelaskan teori matematika yang menjadi dasar astrolog dan mengoreksi kesalahan geometris dalam konstruksi cakram pusat yang digunakan saat itu.

Sosok-sosok luar biasa tersebut adalah bukti nyata bahwa generasi cemerlang terdapat pada masa Khilafah ketika menerapkan sistem syariat. Berbeda berbeda dengan apa yang kita saksikan dan kita alami saat ini.

Maka sudah seharusnya kita sebagai seorang muslim untuk berpikir mengembalikan pendidikan ini kepada konsep syariat. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat juga pada masa Khalifah Abbasiyah, Umayyah dan utsmaniyah. (*)


Penulis:
Sumiati
(Aktivis Dakwah Muslimah)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!