MAKASSAR—Usai Lebaran 2026, satu fenomena menarik terjadi di pasar otomotif: mobil lawas justru jadi incaran. Di tengah harga mobil baru yang kian melambung, konsumen mulai melirik kendaraan lama yang terbukti tangguh, mudah dirawat, dan—yang paling penting—tidak menguras kantong.
Bagi sebagian orang, membeli mobil bekas bukan sekadar alternatif, melainkan keputusan rasional. Apalagi setelah kebutuhan Lebaran yang menguras anggaran, pilihan kendaraan yang “siap pakai tanpa bikin pusing” jadi prioritas.
Nama Toyota Kijang Kapsul kembali mencuat. Mobil ini seolah tak pernah kehilangan penggemarnya. Dengan harga di kisaran Rp40 juta hingga Rp70 juta, Kijang diesel dikenal irit dan kuat di segala medan. Konsumsi BBM-nya bisa menyentuh 9 hingga 14 km per liter, tergantung kondisi. Spare part-nya pun berlimpah dan murah. Namun, kenyamanan dan fitur jelas bukan keunggulannya. Kijang Kapsul adalah pilihan bagi mereka yang lebih mementingkan fungsi ketimbang gaya.
Di kelas yang lebih muda, Toyota Avanza generasi awal tetap jadi “pemain aman”. Harga bekasnya kini berada di rentang Rp75 juta sampai Rp100 jutaan. Konsumsi BBM yang relatif hemat serta jaringan bengkel yang luas membuat mobil ini sulit ditinggalkan. Meski begitu, banyak pengguna mengeluhkan bantingan suspensi yang terasa keras serta fitur keselamatan yang masih minim di unit lama.
Tak jauh berbeda, Daihatsu Xenia hadir sebagai opsi yang lebih ekonomis. Dengan harga mulai Rp65 jutaan, mobil ini menawarkan efisiensi bahan bakar yang sedikit lebih baik. Namun, komprominya ada pada fitur dan kenyamanan kabin yang terasa lebih sederhana. Meski begitu, untuk penggunaan harian, Xenia tetap jadi pilihan rasional.
Sementara itu, Suzuki Ertiga generasi awal mulai mencuri perhatian. Mobil ini menawarkan kenyamanan yang lebih baik dibanding rivalnya. Suspensinya empuk, kabin lebih senyap, dan handling terasa stabil. Konsumsi BBM juga tergolong efisien, di kisaran 12–16 km per liter. Namun, ground clearance yang rendah dan harga spare part yang sedikit lebih tinggi menjadi catatan tersendiri.
Bagi kalangan muda atau keluarga kecil, Toyota Yaris lawas tetap punya daya tarik. Desainnya masih relevan, handling lincah, dan cocok untuk mobilitas dalam kota. Dengan konsumsi BBM sekitar 12–15 km per liter, Yaris cukup ramah di kantong. Sayangnya, ruang kabin yang terbatas membuatnya kurang ideal untuk kebutuhan keluarga besar.
Fenomena ini memperlihatkan satu hal: konsumen kini semakin cerdas. Mereka tak lagi sekadar mengejar gengsi, tetapi lebih fokus pada efisiensi dan keberlanjutan biaya. Mobil lawas yang terawat baik justru menawarkan nilai yang sulit ditandingi kendaraan baru.
Di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, pilihan ini terasa masuk akal. Murah saat dibeli, ringan saat dirawat, dan tetap bisa diandalkan kapan saja.
Lantas, jika mobil tua saja masih jadi rebutan, apakah benar yang baru selalu lebih baik? Atau justru, yang sudah teruji waktu adalah pilihan paling bijak? (Ag4ys)













