OPINI—Video yang diunggah di akun instagram @daeng_becak warga Makassar akhirnya viral. Berdurasi 21 detik yang memperlihatkan kekalutan keluarga dan paniknya supir ambulans karena tidak diberi jalan oleh pengguna jalan lainnya.
Ribetnya birokrasi layanan kesehatan dan tidak adanya tim escorting, diduga kuat sebagai penyebab lambatnya penanganan yang menyebabkan kematian bayi berusia tujuh bulan di atas sebuah mobil ambulans.
Berbagai spekulasi pun bermunculan terkait kematian bayi tersebut. Supir ambulans yang mengantarkan pasien mengatakan tidak diberi jalan (terjebak macet) karena tidak ada tim Escort (Escorting Ambulans), membuat pasiennya meninggal di atas mobil (makassar.tribunnews.com, 17/1/2022).
Senada dengan hal tersebut, diwartakan dari laman sulsel.fajar.co.id, (17/1/2022), akun @daeng_becak mengatakan bahwa sopir ambulans mengeluh karena tidak ada tim yang mengawal mobilnya menuju ke rumah sakit yang ia tuju. Pasien meninggal di tengah perjalanan menuju ke sebuah rumah sakit rujukan, yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal pasien.
Fakta di atas bukan yang pertama kali terjadi. Beberapa kasus serupa sering menghiasi pelayanan publik di negeri ini. Lambannya penanganan, baik karena biaya yang tidak mencukupi atau birokrasi yang berbelit-belit, membuat rakyat akhirnya mendapati kondisi yang tidak mengenakkan dan berujung kematian. Kondisi ini menggambarkan bahwa sistem kapitalis membuat rakyat semakin sulit mengakses layanan publik. Sama sulitnya memenuhi kebutuhan pokok individu.
Sistem yang Tak Ramah Kaum Marginal
Berbagai fakta terpampang nyata di depan mata. Tak dimungkiri bahwa slogan “rakyat miskin dilarang sakit” tidaklah keliru. Beginilah ketika sistem tak berpihak pada kaum marginal. Rakyat prasejahtera yang saat Pemilu diburu suaranya, tidak lagi begitu penting tatkala mereka sudah terpilih. Sistem kapitalis dengan asas manfaat, membuat regulasi yang ada memastikan terjaringnya cuan bagi para pemilik modal (kapital).
Inilah gambaran real sistem yang tak ramah pada kaum marginal. Sistem yang dari dasarnya bertumpu pada materi dan manfaat semata, jauh dari nilai ruhiyah. Wajar saja jika saat ini, banyak kasus yang mengiris hati disebabkan ketidakmampuan rakyat dalam mengakses layanan kesehatan ala kapitalis.
Misal: kisah seorang perempuan di Bali yang meninggal di indekos karena tidak adanya biaya untuk berobat. Pun sempat viral seorang bapak pemulung yang menggendong mayat anaknya berusia tiga tahun karena tak mampu bayar ambulans.
Data dari News.act.id mengungkapkan bahwa biaya kesehatan naik tiap tahunnya 10 hingga 11 persen. Kondisi ini tidak dibarengi dengan naiknya pendapatan tiap keluarga, sehingga rakyat semakin sulit mendapatkan layanan kesehatan yang baik. Bahkan, sistem ini membuat kemiskinan makin bertambah hampir di semua negara, tak terkecuali di Indonesia. Adakah sistem yang mampu menyejahterakan seluruh rakyat secara manusiawi?
Sistem Mumpuni Berasal dari Ilahi Rabbi
1300 tahun lamanya sistem Islam menjadi mercusuar peradaban dunia. Bukan waktu yang singkat untuk membuktikan kegemilangan sistem ini menyejahterakan rakyatnya. Ditopang ketakwaan kepada Sang Khalik, semua elemen bersinergi mewujudkannya.
Negara sebagai wakil umat menjadi pelaksana hukum syarak. Seluruh kebutuhan pokok individu dan publik dipastikan terpenuhi dengan berbagai mekanisme yang telah disyariatkan oleh Sang Pencipta. Terkait kebutuhan pokok publik, yakni kesehatan -termasuk juga pendidikan dan keamanan- dijamin oleh negara. Periayahan oleh negara kepada rakyat dijamin per individu.
Dikutip dari Buku “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia”, sekelumit gambaran lembaga-lembaga kesehatan dalam sistem Islam. Lembaga kesehatan dalam peradaban Islam telah memainkan peran dalam memberikan perhatian terhadap masalah kesehatan dan membantu mengobati orang-orang yang sakit, terlebih orang-orang yang fakir. Baik pasien itu datang ke rumah sakit atau pihak rumah sakit yang datang ke rumah-rumah mereka.
Dimensi yang lebih mengagumkan adalah penghormatan wujud manusia secara umum dan usaha keras untuk menghilangkan penderitaan, rasa sakit dan kesusahan, tidak dipandang siapakah manusia itu dan apakah penderitaannya. Tak heran jika para dokter Islam memperhatikan sisi humanis dalam interaksi dengan para pasien. Hal itu karena undang-undang syariat Islam telah menetapkan aturan etika yang mulia agar dipegang oleh para dokter. Masyaallah!
Inilah sistem yang berasal dari Ilahi Rabbi, Dzat Yang Mahaagung. Meniscayakan kesejahteraan bagi semua, tanpa diskriminasi.
Wallahualam bis Showab.
Penulis: Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen dan Pemerhati Sosial)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.
















