🚨 Peringatan Cuaca Sulawesi Selatan
Potensi hujan lebat, petir atau badai di: Pinrang, Luwu Utara.
Masyarakat diimbau waspada terhadap banjir dan angin kencang.
Advertisement - Scroll ke atas
Ibadah Haji

Pelayanan Cinta Haji 2025: Ketulusan Petugas Jadi Penopang Semangat Jemaah

2154
×

Pelayanan Cinta Haji 2025: Ketulusan Petugas Jadi Penopang Semangat Jemaah

Sebarkan artikel ini
Pelayanan Cinta Haji 2025: Ketulusan Petugas Jadi Penopang Semangat Jemaah
Di tengah padatnya gelombang jemaah haji dari berbagai penjuru dunia, hadir ribuan petugas haji Indonesia yang tak hanya bekerja menjalankan tugas administratif, tapi hadir sepenuh hati, seolah menjadi keluarga sendiri bagi para jemaah. Pelayanan mereka bukan sekadar rutinitas—melainkan ibadah yang dibalut cinta dan kepedulian.

MADINAH—Di tengah padatnya gelombang jemaah haji dari berbagai penjuru dunia, hadir ribuan petugas haji Indonesia yang tak hanya bekerja menjalankan tugas administratif, tapi hadir sepenuh hati, seolah menjadi keluarga sendiri bagi para jemaah. Pelayanan mereka bukan sekadar rutinitas—melainkan ibadah yang dibalut cinta dan kepedulian.

Kisah Tasbih Marunduri Amarullah dan sang istri, Lora Moniami, menjadi gambaran nyata bagaimana pelayanan ini menyentuh hati. Dari keberangkatan di embarkasi hingga mendarat di Madinah, keduanya mengaku dilayani dengan sabar dan penuh perhatian.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

“Rasanya seperti tidak sedang jauh dari rumah. Petugas melayani kami seperti keluarga sendiri. Tidak ada yang kami keluhkan,” ujar Tasbih dengan suara bergetar, mengenang momen menyentuh itu.

Cerita penuh haru juga datang dari Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah. Fatmawati, salah satu petugas wanita, menyambut sepasang lansia dari Soppeng, Sulawesi Selatan—Tappa Mandra Malla (75) dan Mappa Malla Lahaji (86). Meski terlihat lelah usai perjalanan jauh, senyum keduanya mengembang saat disuguhi kahwa, kopi khas Arab, oleh Fatmawati.

“Kahwa ini bukan hanya penghangat tubuh, tapi simbol cinta kami kepada jemaah. Saya ingin mereka merasa disambut dengan hangat, bukan sekadar disambut,” ungkap Fatmawati, Sabtu (17/5/2025).

Di Masjidil Haram, Abdul Manaf (72), jemaah asal Lampung, sempat kelelahan usai salat Jumat. Tubuhnya hampir tumbang, namun dengan sigap petugas sektor khusus datang membawakan kursi roda dan mengantarnya kembali ke hotel. “Terima kasih ya, bantuannya,” katanya lirih, namun cukup untuk menggambarkan betapa berarti bantuan itu di tengah keterbatasan fisik.

Namun, mungkin kisah paling menggetarkan datang dari Nenek Sumbuk, jemaah tertua Indonesia tahun ini. Di usia 109 tahun, ia tetap bersikeras menunaikan ibadah haji. Ditemani anak dan cucunya dari Embarkasi Jakarta-Bekasi, Nenek Sumbuk melangkah dengan tubuh yang renta tapi semangat yang membara.

“Saya hanya ingin hajiku diterima dan menjadi mabrur,” ujarnya dengan logat khas Nusa Tenggara Timur.

Pelayanan kepada Nenek Sumbuk pun jadi prioritas. Petugas memberikan perhatian khusus dan mendampinginya sepanjang perjalanan, membuktikan bahwa tidak ada batasan usia dalam menggapai panggilan suci.

Semua kisah ini bukan akan mungkin terjadi tanpa ribuan petugas haji yang bekerja di bawah koordinasi Kementerian Agama. Mereka adalah wajah negara di Tanah Suci—perawat, sahabat, sekaligus pelindung bagi jemaah.

“Kami tidak hanya bekerja, kami beribadah. Melayani tamu Allah adalah kehormatan terbesar bagi kami,” ungkap seorang petugas yang enggan disebutkan namanya.

Haji 2025 bukan hanya tentang fasilitas dan teknis. Ia adalah tentang kehangatan, cinta, dan perhatian yang membuat ibadah ini lebih bermakna. Ketulusan pelayanan para petugas menjadi penopang semangat bagi para jemaah yang datang jauh dari tanah air.

Inilah wajah Indonesia di Tanah Suci—melayani dengan cinta, menjaga dengan hati. (Cr/Ag4ys)

Citizen Reporter: Muh. Aras Prabowo

error: Content is protected !!