MAKASSAR – Sejak tahun 2016 silam, RS Haji Makassar memiliki target pendapatan mencapai Rp 37 miliar. Sementara yang terealisasi hanya Rp 32,4 miliar atau setara 87,73 persen. Tahun 2017, target meningkat menjadi Rp 38,5 miliar dan hanya mampu direalisasikan Rp 30,1 miliar atau 78,19 persen. Bila dibandingkan antara 2016 dengan 2017, mengalami penurunan tingkat realisasi pendapatan.

Namun, perubahan secara drastis terjadi pada tahun 2018 dan 2019, saat Haris Nawawi menjabat Direktur RSUD Haji Makassar. Ia bahkan melampaui target.

Tahun 2018, RSUD Haji Makassar menargetkan pendapatan Rp 39,1 miliar sedangkan terealisasi hanya Rp 30 miliar atau setara 76,92 persen. Sementara 2019 target pendapatan Rp 39,3 miliar dan sangat fantastis terealisasi melampaui target yakni Rp 42,6 miliar atau 108,49 persen.

Direktur RSUD Haji Makassar, drg Haris Nawawi, menjelaskan, peningkatan pendapatan ini ditunjang oleh kinerja maksimal dari semua komponen layanan rumah sakit di selatan Kota Makassar ini.

Dokter ahli yang selama ini mencari tugas tambahan di rumah sakit lain, kembali kerja maksimal melayani pasien di rumah sakit tempat tugas pokok mereka di RSUD Haji Makassar.

“Saya mengajak teman-teman dokter, perawat, bidan, dan semua yang kerja termasuk tukang sapu dan tukang parkir untuk meningkatkan pelayanan dan melayani pasien dengan maksimal. Saya diskusi dan memberi kewenangan sesuai tugas pokok masing-masing. Kami kerja di rumah sendiri. Menjaga rumah sendiri. Kembali ke jati diri dan tugas mulia rumah sakit,” jelas Haris Nawawi.

Hasilnya, pasien meningkat dan pendapatan meningkat. “Alhamdulillah sudah untung dan bisa mandiri. Jasa dokter saya naikkan sebagai imbalan kerja keras dengan layanan penuh hati terhadap pasien. Dua tahun terakhir RS Haji tidak menunggu pencairan BPJS,” jelasnya.

Sementara, Ketua Akreditasi RSUD Haji Makasar, Drg. Wahida M.Kes mengaku, dari segi jumlah pasien sendiri sudah meningkat secara signifikan sejak akhir tahun 2019 lalu. Dimana setiap harinya pasien mencapai 180 sampai 216 orang pasien.

Perubahan peningkatan jumlah pasien dipengaruhi beberapa faktor. Yakni kecepatan pelayanan, kenyamanan pelayanan, tersedianya alat penunjang, tersedia setiap saat tenaga dokter dan yang paling penting sekali kemasan makanan untuk pasien layaknya makanan catering.

Yang tidak kalah penting lagi, kata Wahida, upaya Direktur RSUD Haji Makassar untuk mengajak seluruh dokter PNS yang ada di RSUD Haji Makassar untuk tidak bertugas di RS lain disaat jam kerja, nampaknya membuahkan hasil untuk rumah sakit Pemprov Sulsel itu.

“Ini adalah upaya Pak Direktur RSUD Haji Makassar untuk mengembalikan dokter di jalan yang benar,” kata Wahida.

Keluarga pasien asal Gowa, Fuad mengaku, sudah sering menjadikan RSUD Haji Makassar sebagai rumah sakit langganan setiap mendapatkan musibah atau sakit.

Meskipun ada RS terdekat dari rumahnya di Gowa, namun tetap memilih RSUD Haji Makassar sebagai tempat berobat untuk keluarga maupun dirinya.

“Selama sudah lima hari ini saya merasa enak sekali. Saya dilayani dengan baik, karena saya sudah sering masuk disini,” katanya.

Alasan lain memilih RSUD Haji Makassar tentunya dari segi fasilitas dan pelayanan baik dokter maupun perawatnya. “Saya sudah saling kenal semua dengan petugasnya baik-baik dan ramah,” lanjutnya.

Selain dari segi pelayanan dan fasilitas penyediaan serta pemilihan buah-buahan bagi pasien cukup bervariatif. Mulai dari, Apel, Pisang, Pepaya, Buah Pir, buah naga maupun jus buah dan jus kacang ijo.

“Intinya kami sekeluarga sering langganan disini, karena lingkungan, tempat yang strategis, dan dokter stand by di rumah sakit sampai sore,” pungkasnya. (*)