Beranda » Pilkada » Pilgub Jabar: Ridwan-Uu Menang Berkat Sosmed
Pilkada

Pilgub Jabar: Ridwan-Uu Menang Berkat Sosmed

Pasangan cagub-cawagub Jawa Barat Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum unggul dalam hitung cepat sejumlah lembaga survei, Rabu (27/6/2018), mengalahkan tiga pasangan lainnya. Pasangan Ridwan-Uu mendulang suara pada kisaran 32 persen, mengalahkan pasangan Sudrajat-Syaikhu (kisaran 29 persen), Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (kisaran 25 persen), dan TB Hasanuddin-Anton Charliyan (kisaran 13 persen).

Ridwan Kamil sujud syukur dan menangis dalam konferensi pers menanggapi hitung cepat tersebut. Dia meminta pendukungnya untuk tetap tenang sembari menunggu perhitungan resmi KPU Jawa Barat.

“Memonitor dari 5-6 lembaga survei, semuanya konsisten. Quick count untuk pasangan Rindu, 4-5 persen menang. Namun karena ini adalah versi bukan legal formal tentulah ini masih sementara. Oleh karana itu, kita syukuri sebuah takdir sementara ini dengan sikap ke-tawadhu-an kita dan rasa bersyukur kita,” ujarnya di Hotel Papandayan, Bandung.

Nama Ridwan-Uu telah lama unggul dalam sejumlah jajak pendapat sebelum pencoblosan. Survei Populi Center pada Januari dan Mei mencatat Ridwan-Uu konsisten memiliki elektabilitas 41 persen. Disusul pasangan Deddy-Dedi yang konsisten di angka 38 persen. Sementara pasangan Sudrajat-Syaikhu dan TB Hasanuddin-Anton masing-masing berubah dari di bawah 5 persen ke atas 5 persen.

Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis 5 hari sebelum pencoblosan juga menunjukkan kisaran angka yang sama.

Direktur Eksekutif Lingkar Kajian Komunikasi Politik (LKKP) di Bandung, Jawa Barat, Adiyana Slamet, mengungkapkan Ridwan Kamil disokong oleh “personal branding”-nya dan pemanfaatan media sosial yang masif, dimana Ridwan Kamil terus mempromosikan apa yang dia lakukan sebagai Wali Kota Bandung.

“Ridwan Kamil ini selebritas politik di media sosial. Bukan di media konvensional. Sehingga kalau kita bicara pada konteks media sosial yang dari 2014 itu sebagai media yang punya kekuatan dalam ruang demokrasi, maka pasangan ini, terutama RK-nya, mengkapitalisasi betul untuk menyasar pemilih muda yang menggunakan media sosial, baik itu Instagram, Twitter, dan lain-lain,” ujar pengamat dari Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung ini.

Sementara Uu Ruzhanul didukung pondok pesantren Miftahul Huda di Tasikmalaya yang didirikan dan dipimpin keluarganya. Kata Adiyana, pesantren ini solid mendukung baik para santri, ulama, sampai para alumninya yang kini tersebar di berbagai kota. “Saya menyebutnya Jaringan Huda,” ujarnya lagi.

Selain itu, Ridwan-Uu yang diusung PPP, PKB, Partai Nasdem, dan Partai Hanura ini dianggap mewakili kelompok nasionalis dan santri. Pasangan Sudrajat-Syaikhu juga memiliki citra ini namun, menurut Adiyana, masyarakat Jawa Barat belum mengenal Sudrajat.

Dalam sejumlah survei, pasangan Deddy-Dedi selalu jadi posisi kedua dan Sudrajat-Syaikhu posisi ketiga. Tapi pada hitung cepat suara pasangan Deddy-Dedi merosot dan pasangan Sudrajat-Syaikhu naik.

Adiyana yang juga kandidat doktor komunikasi Universitas Padjajaran ini mengatakan ada perpecahan politik di tubuh Partai Golkar yang mengusung Deddy-Dedi. Konflik bermula ketika Golkar sudah merekomendasikan Ketua DPD Golkar Indramayu saat itu, Daniel Muttaqin, mendampingi Ridwan Kamil. Namun, setelah pergantian Ketua Umum Setya Novanto, partai beringin merekomendasikan Ketua DPD Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi maju mendampingi Deddy Mizwar yang diusung Partai Demokrat. Akhirnya, ada yang sakit hati.

“Di Indramayu, yang notabene itu adalah basis Golkar, ini saya pikir Partai Golkar-nya stuck, karena konflik surat mandat. Ini yang sangat clear sangat jelas sekali,” ujar Adiyana yang kini menyusun disertasi mengenai Pilgub Jabar.

Sementara kenaikan suara pasangan Sudrajat-Syaikhu, yang diusung Gerindra dan PKS, diprediksi karena popularitas Prabowo Subianto dan tagar 2019 Ganti Presiden. Pada Pemilu 2014, Prabowo unggul dari Jokowi nyaris 60 persen di provinsi ini.

“Itu membawa masyarakat pada ruang masa lalu 2014 ketika pak Prabowo menang 60 persen (di Jawa Barat) lalu memanfaatkan isu ganti presiden 2019. Karena itu dimanfaatkan betul dan dikapitalisasi betul, pada debat kedua dia membawa kaos pada debat ketiga dia bilang (tidak bawa kaos). Lalu setiap kampanye pasti ngomong ganti presiden,” pungkasnya.

Selain itu, kata Adiyana, Gubernur Jawa Barat sebelumnya yang merupakan kader PKS, Ahmad Heryawan, beserta isterinya Netty Heryawan, masih memiliki popularitas dan pengaruh setelah selama 2 periode memimpin tanah Pasundan. [voa/4ld]