PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Sumbangan Gau Maraja Diduga Masuk Rekening Pribadi Kasi Umum Kecamatan Bontocani102 Siswa Baru SMK Kehutanan Negeri Makassar Dikukuhkan, Siap Jadi Rimbawan MudaRotasi Besar Kapolres Sulsel: 5 Kursi Berganti, Ini Daftar Komandan BaruLurah Bontoa Antar Langsung Bantuan Beras CPP ke Warga Sakit dan DisabilitasTambak Warga Ditimbun untuk Akses Pelabuhan Tonra, Ganti Rugi DipertanyakanMakassar Perkuat Kemitraan dengan Enrekang untuk Jaga Pasokan Pangan dan Stabilkan HargaPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Sumbangan Gau Maraja Diduga Masuk Rekening Pribadi Kasi Umum Kecamatan Bontocani102 Siswa Baru SMK Kehutanan Negeri Makassar Dikukuhkan, Siap Jadi Rimbawan MudaRotasi Besar Kapolres Sulsel: 5 Kursi Berganti, Ini Daftar Komandan BaruLurah Bontoa Antar Langsung Bantuan Beras CPP ke Warga Sakit dan DisabilitasTambak Warga Ditimbun untuk Akses Pelabuhan Tonra, Ganti Rugi DipertanyakanMakassar Perkuat Kemitraan dengan Enrekang untuk Jaga Pasokan Pangan dan Stabilkan Harga
Opini

Renungan di Hari Kebebasan Pers Sedunia: “Ketika Rumah Kami Pindah ke Algoritma..”

1244
×

Renungan di Hari Kebebasan Pers Sedunia: “Ketika Rumah Kami Pindah ke Algoritma..”

Sebarkan artikel ini
Andi Pasamangi Wawo (Ketua Dewan Penasehat PWI Sulsel)

OPINI—Saya menghadiri reuni kecil kecilan di Cafe teman, seorang wartawan yang mencoba hidup dari pendapatan sambilannya setelah kena PHK di medianya yang hampir tiga dekade terkurung di ruang redaksi.

Saya bersama 5 orang senasib memilih satu meja bundar di pojok, nikmati selera minuman masing masing.

Temu ini dadakan lewat WA tanpa topik. Hanya ingin bertukar kabar dan bernostalgia setelah ‘rumah’ kami pindah dari ruangan yang menata ‘lorong’ meja redaksi ke ruang publik lewat ‘algoritma’ yang dirancang menyelesaikan masalah untuk mencapai tujuan tertentu melalui serangkaian langkah atau instruksi.

Jaman digitalisasi, ‘flatform’ suatu sistem yang memungkinkan berbagai aplikasi, layanan atau teknologi untuk beroperasi, menjadikan gedung megah tinggal puing puing berserakan. Karena, banyak modal bisnis media konvensional ambruk.

Saya membaca, tahun ini ada 1.200-an Wartawan di Indonesia kena PHK dari media raksasa. Seperti Kompas, MNC, Republika, Liputan 6, Jawa Pos hingga Tribun Grup juga ada media on line.

Seorang teman nyeletuk, dulu kita tunduk pada kebijakan pemilik media. Sekarang kita bisa memilih sendiri.

“Dulu saya menulis di halaman yang telah ditentukan, sekarang saya menulis untuk hati pembaca”, timpal teman lainnya.

Celoteh teman menyadarkan arti ‘kebebasan’. Dibanding ‘kelahiran’ saya di dunia jurnalistik ini dari zaman pena ke mesin ketik dan disket. Kini, masuk ke ‘sudut sudut’ digital, sebuah ekosistem baru.

“Peran baru kami bukan lagi sekedar pencatat peristiwa tapi penyala cahaya dalam kabut data untuk mendengar suara suara tentang kejujuran”, saya coba kutip kalimat Denny JA seorang wartawan dan penulis kawakan.

Artinya, kami menulis bukan lagi untuk bertahan.Tapi untuk menyalakan cahaya di lorong zaman.

Di tengah canda tawa sambil menyeruput minuman ringan dan bertukar informasi, saya ‘menangkap’ inti reuni. Di lubuk hati sanubari, saya merasa bersyukur.

Ternyata ‘nasib’ yang menimpa kami bukanlah akhir sebuah profesi. Melainkan awal dari cara baru, hidup dari kata kata yang “menyala”, jika memiliki sumber dari penghasilan lain yang ‘subur’ di era ini.

Saya yakin, kami sesama jurnalis konvensional bisa merajut mimpi kolektif di sudut sudut digital dengan kepiawaian dan pengalaman mengarungi dunianya lewat narasi dalam merangkai kosa kata redaksinya.

Diskusi ini mencatat, kami bukan satu satunya korban jika dibanding bergelimpangannya sejumlah pelaku bisnis yang terkapar.
Karena, profesi Jurnalisme yang diarungi selama ini bisa menjelma jadi ‘Networked truth-telling truth”

Maksudnya, kami bisa tetap berkarya dan bekerja dengan cara menyampaikan kebenaran melalui jaringan yang saling terhubung. Bisa juga diartikan, mengungkap kebenaran yang mengacu pada proses penyampaian melalui jaringan platform digital dan jaringan komunikasi lainnya.

Di akhir reuni, kami berdoa semoga mendapat kekuatan, kesempatan dan kesehatan agar mampu ber ‘selancar’ di atas ombak yang mengusir kami dari ‘pabrik’ berita. Kalau tidak, itu bisa berarti, bukan hanya kehilangan profesi tapi kami telah mengalami krisis identitas.

Jurnalisme bukan tak dibutuhkan tapi akan terganti dengan jurnalisme informal. Mungkin begitu. Semoga. (*)

 

Penulis: Andi Pasamangi Wawo (Ketua Dewan Penasehat PWI Sulsel)

 

 

 

***

 

 

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com