MAKASSAR — Kesehatan saluran cerna kini semakin mendapat perhatian dalam praktik kedokteran karena berkaitan erat dengan kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Perkembangan teknologi diagnostik pun membuka peluang bagi dokter untuk memperoleh informasi yang lebih spesifik dalam memahami kondisi pasien.
Hal tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam Seminar Nasional Dokter bertajuk “Integrating Innovative Gut Health Testing into Daily Practice” yang digelar Prodia di Lotus Hall, Four Points by Sheraton Makassar, Jalan Andi Djemma No. 130, Makassar, Minggu (20/9/2026).
Seminar tersebut mempertemukan tenaga medis untuk membahas perkembangan pemeriksaan kesehatan saluran cerna berbasis teknologi diagnostik sekaligus melihat potensi penerapannya dalam praktik kedokteran sehari-hari.
Tiga narasumber dari bidang klinis, nutrisi, dan laboratorium dihadirkan dalam kegiatan tersebut. Mereka yakni Dr. dr. A. Muh. Luthfi Parewangi, Sp.PD, K-GEH, FINASIM; Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, Sp.PD, K-GH, Sp.GK, FINASIM; serta Bena Zaira, S.Si, M.Farm.Klin.
Dari perspektif klinis, Dr. dr. A. Muh. Luthfi Parewangi menjelaskan bahwa berbagai gangguan gastrointestinal dapat memperlihatkan gejala yang hampir sama. Nyeri perut, diare, konstipasi hingga kembung, misalnya, tidak selalu disebabkan oleh persoalan yang sama.
Kondisi tersebut membuat dokter perlu melihat pasien secara menyeluruh. Informasi dari anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat dilengkapi dengan pemeriksaan penunjang yang relevan, termasuk pemeriksaan kesehatan saluran cerna atau gut health testing.
Sementara dari sisi nutrisi, Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid menyoroti hubungan erat antara pola makan, status nutrisi dan kondisi saluran cerna. Menurutnya, pemahaman terhadap aspek nutrisi menjadi bagian penting dalam membangun pendekatan pelayanan yang lebih menyeluruh dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien.
Perspektif berbeda disampaikan Bena Zaira. Ia menjelaskan perkembangan teknologi pemeriksaan laboratorium memungkinkan diperolehnya data biologis yang semakin spesifik.
Data tersebut dapat menjadi informasi tambahan bagi dokter dalam melengkapi hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dengan demikian, pemeriksaan laboratorium dapat ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian proses pengambilan keputusan medis yang tetap berlandaskan bukti.
Pemanfaatan teknologi diagnostik dalam pemeriksaan kesehatan saluran cerna, kata para narasumber, bukan dimaksudkan untuk menggantikan evaluasi klinis. Sebaliknya, teknologi tersebut dapat menjadi salah satu instrumen pendukung dalam pendekatan multidimensional terhadap kondisi pasien.
Melalui seminar nasional ini, Prodia kembali menempatkan edukasi medis berkelanjutan dan pengembangan inovasi diagnostik sebagai bagian dari dukungan terhadap ekosistem kesehatan nasional.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan tenaga medis mengenai perkembangan pemeriksaan saluran cerna sekaligus mendorong pemanfaatan data diagnostik secara tepat dalam memberikan pelayanan kesehatan yang semakin presisi dan berorientasi pada kebutuhan pasien. (Y5l)







