OPINI—Bulan Muharram bukan hanya menandai awal tahun baru dalam kalender Hijriah, tetapi juga menjadi momen penting untuk merenungi kembali perjalanan umat Islam, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari sebuah umat yang besar.
Dalam perspektif ideologi Islam, Muharram mengandung spirit hijrah yang mendalam: bukan sekadar perpindahan fisik Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, melainkan transformasi total dari kondisi keterpurukan menuju kehidupan yang berlandaskan pada hukum Allah SWT.
Hijrah Adalah Transformasi Sistemik
Muharram harus menjadi momentum untuk membangkitkan kesadaran bahwa hijrah Rasul adalah transformasi sistemik, bukan hanya reformasi moral individu. Islam sebagai ideologi mewajibkan umat untuk menegakkan sistem kehidupan yang berdasarkan wahyu, bukan hawa nafsu manusia.
Tanpa hijrah ideologis ini, umat Islam akan terus menjadi korban dari sistem kapitalisme global yang zalim, dimana kekayaan hanya berputar di tangan elite, hukum berpihak pada yang kuat, dan agama direduksi menjadi urusan privat.
Padahal, sejarah mencatat bahwa umat Islam pernah memimpin dunia selama berabad-abad ketika hidup dalam naungan syariah. Itulah hasil dari hijrah Rasulullah berupa peradaban agung yang memuliakan ilmu, menegakkan keadilan, dan menyebarkan rahmat ke seluruh penjuru dunia.
Hijrah Rasulullah SAW adalah tonggak sejarah kebangkitan peradaban Islam. Di Madinah, Islam tak lagi hanya menjadi agama yang dianut secara pribadi, tetapi menjadi ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan: sosial, politik, ekonomi, dan hukum.
Maka dari itu, refleksi Muharram seharusnya tidak berhenti pada ritual atau seremoni, tetapi menjadi pemicu kesadaran ideologis untuk membangkitkan kembali kejayaan umat Islam.
Kebangkitan hakiki umat Islam tidak akan terwujud selama umat ini masih terpecah-pecah oleh nasionalisme, sistem kapitalisme sekuler, dan penjajahan intelektual serta politik dari Barat. Umat Islam hari ini menjadi seperti buih di lautan: banyak jumlahnya, namun tak memiliki kekuatan yang sejati. Ini bukan karena Islam lemah, melainkan karena umat telah jauh dari penerapan Islam secara menyeluruh (kaffah).
Waktunya Bangkit
Dalam Islam, kebangkitan bukanlah sekadar kemajuan material atau teknologi. Kebangkitan hakiki adalah ketika umat kembali menjadikan syariah Islam sebagai landasan dalam kehidupan mereka. Inilah sistem yang pernah menjadikan umat Islam sebagai pemimpin peradaban dunia selama berabad-abad.
Kini, dengan semangat Muharram, umat Islam harus berani bertanya: apakah kita siap berhijrah sebagaimana Rasulullah dan para sahabat dahulu? Bukan hijrah tempat, tetapi hijrah pemikiran dan sistem kehidupan. Saatnya umat bangkit dari keterpurukan, menolak tunduk pada ideologi asing, dan kembali menjadikan Islam sebagai satu-satunya pedoman hidup.
Muharram bukan hanya awal tahun baru. Ia adalah pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah hijrah yang agung. Maka mari kita warisi semangat itu, dan bergerak untuk mewujudkan kembali peradaban Islam yang hakiki berlandaskan syariah, dipimpin oleh pemimpin sejati, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Momentum Muharram adalah saat yang tepat untuk meneguhkan kembali visi besar umat Islam: mengembalikan kehidupan Islam secara total. Ini menuntut perubahan cara pandang dari sekadar menjadi Muslim individualis menjadi pejuang peradaban yang sadar bahwa Islam adalah ideologi yang mampu menyelesaikan seluruh problematika umat manusia.
Umat butuh pemimpin seperti Umar bin Khattab, yang pada bulan Muharram pula memulai kalender hijriah sebagai simbol kebangkitan Islam. Dibutuhkan keberanian, keikhlasan, dan keteguhan untuk mewujudkan sistem kehidupan Islam yang adil dan menebar rahmat bagi seluruh alam.
Muharram bukan bulan pasif. Ia adalah bulan revolusi. Maka, mari kita jadikan Muharram sebagai titik balik kesadaran dan perjuangan untuk membangun kembali peradaban Islam yang hakiki. (*)
Penulis: Eryuni Ummu Fatih (Pegiat Literasi)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.












