MAKASSAR—Lengsernya Presiden Soeharto pada Mei 1998 menandai berakhirnya Orde Baru. Tongkat kepemimpinan beralih ke Presiden B.J. Habibie yang kemudian membentuk Kabinet Reformasi Pembangunan (23 Mei 1998 – 20 Oktober 1999), kabinet pertama di era reformasi.
Di tengah hantaman krisis moneter 1997–1998, kabinet ini mampu meredam gejolak rupiah, memulihkan kepercayaan publik dan internasional, serta menyiapkan Pemilu 1999—pemilu demokratis pertama pasca-Orde Baru. Komposisinya lintas sektor: militer, akademisi, teknokrat, profesional, birokrat hingga politisi.
Dari kalangan militer, Feisal Tanjung (Menko Polkam, eks Panglima ABRI), Wiranto (Menhan/Panglima ABRI, eks KSAD), Syarwan Hamid (Mendagri, eks TNI AD), A.M. Hendropriyono (Menteri Transmigrasi & Pemukiman), serta Yunus Yosfiah (Menteri Penerangan).
Dari akademisi dan teknokrat, hadir Boediono (Menteri Bappenas, ekonom BI), Muladi (Menkumham, Rektor Undip), Juwono Sudarsono (Mendikbud, UI), Faried A. Moeloek (Menkes, guru besar UI), Justika Baharsjah (Mensos), Kuntoro Mangkusubroto (Menteri Pertambangan & Energi, ITB), dan Ali Alatas (Menlu, diplomat senior).
Ada pula Ginandjar Kartasasmita (Menko Ekuin, ekonom senior), Muslimin Nasution (Menteri Kehutanan & Perkebunan), Bambang Subianto (Menkeu), Rahardi Ramelan (Menteri Perindustrian & Perdagangan), dan Soleh Solahuddin (Menteri Pertanian).
Latar belakang akademisi juga diwakili Malik Fajar (Menteri Agama, IAIN Sunan Ampel), Zuhal (Menristek, UI), A.M. Saefuddin (Meneg Pangan & Hortikultura, Rektor Universitas Ibnu Khaldun), serta Ida Bagus Oka (Meneg Kependudukan, mantan Gubernur Bali).
Dari kalangan birokrat, ada Haryono Suyono (Menko Kesra & Pengentasan Kemiskinan, BKKBN), Rachmadi B. Sumadhijo (Menteri PU), Giri Suseno Hadiharjono (Menteri Perhubungan), dan Hasan Basri Durin (Menteri Negara Agraria, mantan Gubernur Sumbar).
Profesional pun dipercaya, seperti Tanri Abeng (Menteri BUMN), Adi Sasono (Menteri Koperasi & UKM, aktivis ICMI), dan Marzuki Usman (Menteri Pariwisata, pakar keuangan).
Politisi turut mengisi pos strategis: Akbar Tandjung (Mensesneg, Golkar), Hartarto Sastrosoenarto (Menko Pengawasan Pembangunan, Golkar), Hamzah Haz (Menteri Investasi, PPP), Fahmi Idris (Menteri Tenaga Kerja, Golkar), Tutty Alawiyah (Menteri Peranan Wanita, ormas Islam), Agung Laksono (Menpora, Golkar), Theo L. Sambuaga (Menteri Perumahan Rakyat, Golkar) dan Panagian Siregar (Menteri Lingkungan Hidup, PDI)
Dengan susunan lintas sektor ini, Kabinet Reformasi Pembangunan tak hanya menjadi simbol transisi, tetapi juga bukti kolaborasi bangsa dalam meredam krisis, menjaga stabilitas, dan membuka jalan menuju demokrasi. (Ag4ys)







