Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Tren “Mahasiswi Cantik” di TikTok: Hiburan atau Objektifikasi?

539
×

Tren “Mahasiswi Cantik” di TikTok: Hiburan atau Objektifikasi?

Sebarkan artikel ini
Tren “Mahasiswi Cantik” di TikTok: Hiburan atau Objektifikasi?
Marimbi Putri Arisya, Mahasiswi Universitas Muslim Indonesia.

OPINI—Fenomena baru tengah ramai di TikTok, terutama di kalangan mahasiswa. Munculnya berbagai akun kampus yang menampilkan “mahasiswi cantik” menjadi tren yang belakangan dianggap sebagai hiburan ringan. Konten-konten ini menonjolkan fisik perempuan sebagai pusat perhatian, seolah kecantikan adalah identitas utama yang layak dipamerkan dan dinilai publik.

Salah satu contohnya adalah akun TikTok @umicantik, yang memuat potret beberapa mahasiswi Universitas Muslim Indonesia. Konten tersebut menampilkan perempuan yang dianggap memenuhi standar tertentu (terutama soal wajah dan penampilan) sebagai daya tarik utama.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Bagi sebagian orang, ini terkesan biasa saja. Namun, jika dicermati lebih dalam, ada persoalan serius yang ikut disebarkan: objektifikasi perempuan yang dikemas dalam balutan hiburan.

Konstruksi kecantikan sebenarnya bukan hal baru. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan “cantik” sebagai elok dan molek, terutama terkait wajah perempuan. Definisi sederhana ini telah lama menjadi pijakan budaya yang menempatkan penampilan sebagai nilai sosial utama bagi perempuan.

Akibatnya, perempuan hidup dalam standar ganda: saat tampil menawan dianggap mencari perhatian, tetapi jika tampil sederhana disebut tidak merawat diri.

Media sosial, termasuk TikTok, memperkuat standar ganda itu. Akun-akun seperti “kampus cantik” memisahkan perempuan berdasarkan penampilan, menjadikannya objek yang bisa dinilai dan dikomentari.

Menurut GirlsBeyond, objektifikasi perempuan terjadi ketika tubuh perempuan dipandang sebagai objek, tanpa mempertimbangkan suara dan agensi pemilik tubuh itu sendiri.

Objektifikasi ini berkaitan erat dengan standar kecantikan yang kaku. Mereka yang memenuhi standar dianggap pantas dipuji, sementara yang lain berpotensi dibandingkan atau direndahkan.

Fenomena akun kampus cantik membuktikan bahwa standar tersebut bukan sekadar soal selera, tetapi bentuk kontrol sosial atas tubuh perempuan. Publik merasa berhak mendikte bagaimana perempuan harus tampil.

Banyak yang menganggap konten semacam ini hanya “seru-seruan”. Apalagi komentar-komentar yang muncul di unggahan akun semacam itu sering bernada pujian: “asli cantiknya kalau ini”, “andalanku saya ini”, atau “UMI memang tidak pernah gagal”.

Namun, pujian yang tampak sepele itu justru menyimpan bahaya. Ia mendorong kompetisi tak sehat antarperempuan dan memupuk obsesi untuk memenuhi ekspektasi publik.

Lebih jauh, fenomena ini melanggengkan pandangan patriarkis bahwa perempuan hadir untuk dipandang, bukan untuk didengar. Bahkan ada yang mendorong teman-temannya untuk “masuk nominasi” dan disorot akun tersebut.

Perilaku ini secara tidak langsung menguatkan gagasan bahwa nilai perempuan terletak pada penampilan fisiknya, bukan pada pikiran, kemampuan, atau prestasinya.

Dampaknya pun tidak main-main. Ketika tubuh menjadi pusat penilaian, perempuan berisiko mengembangkan ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Aspek kepribadian, potensi, dan kemampuan menjadi terpinggirkan.

GirlsBeyond juga menegaskan bahwa objektifikasi dapat berkembang menjadi objektifikasi diri, ketika perempuan menilai dirinya semata-mata berdasarkan standar fisik dan terus-menerus merasa harus “lebih cantik” agar diterima.

Memang, beberapa perempuan yang ditampilkan dalam konten itu memberi persetujuan. Tetapi persoalannya tak berhenti pada izin individu. Ketika foto atau video mereka beredar luas, publik mulai membangun ekspektasi baru yang tidak selalu sejalan dengan realitas.

Perempuan akhirnya dipersepsikan sebagai sosok yang harus selalu sempurna, menarik, atau sesuai standar visual media. Ketika kenyataannya berbeda, mereka justru mendapat hujatan atau dianggap menipu. Ironis, tetapi nyata.

Jika kita terus mengonsumsi dan mendukung tren ini, ruang akademik perlahan berubah dari tempat tumbuhnya gagasan menjadi arena yang mengutamakan visual. Tubuh perempuan menjadi komoditas yang lebih dihargai daripada pemikiran atau prestasinya. Padahal kampus seharusnya menjadi ruang yang merayakan intelektualitas, bukan ajang penilaian fisik.

Sudah semestinya sorotan kita kembali pada hal-hal yang lebih substansial: kapasitas, prestasi, bakat, dan kontribusi. Kecantikan bukan sesuatu yang eksklusif untuk segelintir orang, dan tidak sepantasnya menjadi tolok ukur utama nilai perempuan. Kecantikan justru lebih paripurna ketika berjalan bersama pemikiran, karya, serta manfaat yang bisa diberikan kepada sesama. (*)


Penulis:
Marimbi Putri Arisya
(Mahasiswi Universitas Muslim Indonesia)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!