Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Tumbuh dalam Pola Kapitalisme Digital: Apa Kabar Mental Generasi Indonesia?

655
×

Tumbuh dalam Pola Kapitalisme Digital: Apa Kabar Mental Generasi Indonesia?

Sebarkan artikel ini
Azzahrah Yunita Ratri
Azzahrah Yunita Ratri (Penulis)

OPINI—Bayangkan sebuah generasi yang tumbuh tanpa henti menatap layar selama lebih dari 7 jam setiap harinya, bukan untuk belajar atau berbagi, tapi terjebak dalam pusaran media sosial dan ritme digital.

Penelitian akademis 2025 menunjukkan bahwa sebanyak 33% responden remaja kisaran 16-21 tahun menunjukkan tanda-tanda kecanduan media sosial, dan kecanduan tersebut berkorelasi secara signifikan dengan peningkatan stres, kecemasan, dan depresi.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Jika dibandingkan negara lain, Indonesia menduduki peringkat pertama. Bukan terkait prestasi literasi atau akademik, tapi sebagai konsumen digital terbesar.

Laporan Digital 2025 Global Overview mencatat sebanyak 98,7% penduduk Indonesia berusia 16 tahun ke atas menggunakan ponsel online, melampaui Filipina dan Afrika Selatan yakni 98,5 % (CNBC Indonesia, 2025).

Fakta menunjukkan bahwa banyak generasi muda Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental akibat screen time yang berlebihan. Warga Indonesia mengalami kecanduan gadget secara akut, padahal penggunaan gadget yang berlebihan dapat menimbulkan digital dementia, kemalasan berpikir, kesepian, serta berbagai dampak psikologis negatif lainnya.

Sayangnya, negara belum memiliki regulasi pembatasan usia yang jelas untuk penggunaan media sosial, padahal platform tersebut yang juga menggunakan kecerdasan buatan (AI) terbukti berbahaya bagi kesehatan mental, terutama bagi anak dan remaja.

Saat ini paradigma penggunaan media digital sangat kental dengan kapitalisasinya, media digital bertransformasi menjadi alat yang merusak mental generasi muda. Demi keuntungan perusahaan teknologi digital, masalah kesehatan mental generasi muda diabaikan karena fokus utama adalah meningkatkan engagement dan profit.

Penggunaan sosial media yang didorong oleh algoritma kapitalisme digital membuat generasi saat ini terjebak dalam konten-konten yang memperkuat kecemasan dan rasa tidak aman terhadap diri sendiri.

Di sisi lain, survei juga menemukan bahwa hanya 15% orang tua yang tau tentang bahaya screen time berlebihan. Sehingga peran pengawasan dan edukasi orang tua masih sangat minim. Ironisnya lagi, Indonesia juga hanya dijadikan pasar besar oleh platform digital tanpa pengawasan ketat dari pemerintah.

Negara kurang memiliki komitmen yang kuat untuk melindungi generasi muda terhadap bahaya medan digital yang dipengaruhi arus deras sistem kapitalis, serta kurangnya regulasi efektif yang dapat membatasi dampak negatif jangka panjang pada kesehatan mental mereka.

Dengan pola kapitalisme digital yang lama-lama makin dominan ini, pertanyaannya adalah apa solusi terbaik untuk menjaga mental generasi muda meskipun berada pada era digital?

Solusi Islam

Paradigma yang merusak generasi tentu saja sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Islam menempatkan komitmen kuat terhadap kualitas mental dan moral generasi muda sebagai prioritas utama, dengan tujuan mewujudkan generasi terbaik sekaligus pemimpin peradaban.

Negara perlu mengambil langkah preventif dengan menerapkan sistem pendidikan sesuai dengan aturan dari Sang Pencipta, Allah Subhanahu wata’ala, yaitu dengan berbasis pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Sebuah sistem yang membentengi mental generasi muda dari pengaruh buruk media digital. Selain itu, peran orang tua sebagai madrasah ula atau madrasah pertama harus dioptimalkan, serta membangun sinergi masyarakat dalam menjalankan amar makruf nahi mungkar guna mengajak kebaikan dan mencegah keburukan.

Langkah khusus yang perlu dilakukan meliputi pengawasan ketat terhadap konten media agar hanya konten yang sesuai dengan nilai Islam yang dapat beredar, disertai sanksi tegas bagi pelanggar.

Selain itu, Negara dan masyarakat juga harus mengambil peran aktif dengan menetapkan regulasi ketat yang membatasi akses media sosial berdasarkan baik tidaknya konten yang dikonsumsi, mengatur penggunaan kecerdasan buatan agar tidak merusak akhlak, serta mengawasi agar hanya konten yang sesuai dengan syariah yang dapat beredar.

Dengan memegang prinsip yang tepat sesuai syari’at Islam, generasi akan terhindar dari efek buruk kapitalisme, dan menjadikan mereka sehat mental, kuat secara spiritual, dan berakhlak mulia. (*)


Penulis:
Azzahrah Yunita Ratri
(Aktivis Muslimah)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!